Rekonstruksi Damar Kurung, Cara Pelestarian Warisan Budaya Gresik untuk Generasi Muda
Rekonstruksi seni Damar Kurung bukan sekadar menyalin bentuk lama, tetapi membangun kembali makna dan visual ikon budaya khas Kabupaten Gresik, Jawa Timur, itu agar dapat diterima oleh generasi masa kini sekaligus tetap berakar pada tradisi.
GRESIK, SJP - Rekonstruksi seni Damar Kurung bukan sekadar menyalin bentuk lama, tetapi membangun kembali makna dan visual ikon budaya khas Kabupaten Gresik, Jawa Timur, itu agar dapat diterima oleh generasi masa kini sekaligus tetap berakar pada tradisi.
Hal tersebut diungkap pemerhati dan pelestari seni khas Gresik Damar Kurung, Kris Aji, saat ditemui dalam giat workshop Edutoys Damar Kurung di Gedung GNI, Sabtu (20/12/2025).
"Kita berharap bisa melakukan lompatan transformasi damar kurung ini agar digemari oleh generasi muda," kata Kris.
Kris mengaku senang melihat seni Damar Kurung ini sudah banyak bertransformasi menjadi berbagai bentuk baru, namun tidak merubah makna dan visualnya.
Salah satunya, Damar Kurung dibuat dalam Edutoys atau mainan edukasi yang berlangsung selama workshop.
Sebelum workshop berlangsung, seni Damar Kurung juga dipertunjukkan dalam cerita rakyat yang dikemas dalam dua dimensi Damar Kurung.
"Dengan adanya seni pertunjukan Damar Kurung ini menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan anak-anak yang melakukan kegiatan seni tradisi itu melakukan inovasi-inovasi dalam cerita. Jadi anak-anak tidak gatal, canggung, dan alergi dengan seni tradisi Damar Kurung," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Disparekrafbudpora Kabupaten Gresik Khurin In Noviarani, mengapresiasi inovasi yang dilakukan terhadap kesenian Damar Kurung dalam upaya pelestarian.
Selama pertunjukan, Damar Kurung disajikan dalam layar bersamaan teater cerita rakyat berjudul timun mas disambut antusias peserta workshop.
Adapun Damar Kurung ini sudah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) sejak 2017.
Ikon budaya khas Gresik, berupa lampion berbentuk kubus dengan lukisan bercerita tentang kehidupan, tradisi, dan syiar Islam, yang dipopulerkan oleh seniman Mbah Masmundari.
"Warisan budaya tidak harus ditampilkan dengan cara yang lama, namun harus mengikuti perkembangan zaman. Diikuti dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak generasi muda," pungkasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

