Puluhan Hektare Sawah di Ngawi Gagal Panen 3 Tahun Berturut-turut

Puluhan hektare sawah di Dusun Jeruk Gulung, Ngawi, gagal panen tiga tahun berturut-turut akibat serangan hama tikus dan sundep. Petani merugi, sebagian kini bertahan hidup dengan ternak.

20 Aug 2025 - 22:19
Puluhan Hektare Sawah di Ngawi Gagal Panen 3 Tahun Berturut-turut
Tanaman padi menguning mati terserang hama dan membuat puluhan hektare lahan pertanian di Dusun Jeruk Gulung, Ngawi gagal panen tiga tahun berturut-turut. (Foto: Beritasatu.com/Muhammad Miftakul Falakh)

NGAWI, SJP – Derita panjang tengah dialami para petani di Dusun Jeruk Gulung, Desa Patalan, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi. Selama tiga tahun terakhir, sawah-sawah mereka yang dahulu subur kini berubah jadi lahan kering kerontang tanpa hasil.

Diperkirakan 50 hingga 60 hektare sawah puso akibat serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Dua hama utama, tikus dan sundep, menyerang secara masif dan berulang.

Hamparan persawahan yang dulu hijau kini tampak muram: batang padi kerdil, rapuh, daun-daunnya menguning lalu mati. Beberapa petani bahkan memilih membakar tanaman yang rusak, meninggalkan sisa batang hitam hangus di tengah ladang.

Padahal, Jeruk Gulung dulunya dikenal sebagai lumbung pangan. Irigasi yang stabil dan hasil panen melimpah membuat desa ini pernah jadi penyangga beras di Ngawi.

Namun kini, cerita itu hanya tinggal kenangan. Ada petani yang sudah sembilan kali menanam tanpa sekali pun panen, ada pula yang dua musim tanam berturut-turut merugi.

Syaiful Jufri, salah seorang petani, menjadi saksi betapa beratnya situasi ini.

“Sudah tiga tahun. Kalau dihitung menanam, sudah sembilan kali tanam tanpa panen sama sekali,” ujarnya, Rabu (20/8/2025).

Dengan lahan setengah hektare yang ia miliki, serangan hama datang bertubi-tubi.

“Datangnya hama bersamaan. Habis tikus, kena sundep,” tambahnya.

Berbagai cara telah dicoba, seperti penyemprotan insektisida, hingga gropyokan tikus secara massal. Namun hasilnya nihil. Bahkan ketika beralih ke jagung dan ketela, panen tetap gagal.

“Dinas Pertanian baru kemarin datang ke sini. Belum ada bantuan,” keluh Jufri.

Kini, banyak petani Jeruk Gulung hanya bertahan hidup dari ternak. Sawah mereka tak lagi jadi tumpuan, sementara harapan perlahan terkikis musim demi musim.

Mereka menunggu perhatian nyata dari pemerintah agar serangan hama segera teratasi dan kejayaan lumbung pangan desa bisa kembali pulih. (**)

Editor : Rizqi Ardian
Sumber: Beritasatu.com

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow