Cuaca Tak Menentu, Produsen Rengginang di Blitar Putar Otak Penuhi Lonjakan Pesanan Lebaran
Produsen Rengginang di Blitar harus memutar otak untuk memenuhi pesanan saat Lebaran, mengingat kondisi cuaca sejak beberapa pekan terakhir tidak menentu.
BLITAR, SJP - Permintaan rengginang di salah satu produsen di Kabupaten Blitar meningkat menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026. Namun di balik ramainya pesanan tersebut, produsen justru menghadapi tantangan dari kondisi cuaca yang kurang bersahabat.
Salah satunya dialami produsen rengginang asal Desa Gledug, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar bernama Wiwik Widuriati (53).
Sejak awal Ramadan, pesanan rengginang di tempat usahanya mulai meningkat dibanding hari biasa.
Di halaman rumah Wiwik, puluhan papan dan terpal tampak dipenuhi rengginang yang dijemur di bawah sinar matahari. Proses pengeringan ini menjadi tahap penting sebelum rengginang siap dipasarkan.
"Kalau menjelang Lebaran memang pesanan selalu naik. Rengginang ini sebenarnya makanan yang peminatnya ada terus," kata dia, Ahad (8/3/2026).
Meski permintaan meningkat, produksi rengginang sangat bergantung pada kondisi cuaca. Jika hujan turun atau matahari tidak cukup terik, proses pengeringan tidak bisa dilakukan secara maksimal.
Menurut Wiwik, rengginang yang sudah dicetak harus segera dijemur agar tidak lembab dan berjamur. Karena itu, sinar matahari menjadi faktor utama dalam proses produksi.
"Kalau cuaca cerah, biasanya butuh waktu sekitar dua hari sampai rengginang benar-benar kering. Tapi, kalau hujan produksi bisa terhambat," ujarnya.
Wiwik yang telah menekuni usaha produksi rengginang sejak tahun 2007 ini mengaku dalam sekali produksi bisa menghasilkan lebih dari satu kuintal rengginang. Namun, jumlah tersebut tidak selalu stabil karena sangat bergantung pada cuaca.
Dalam sehari, saat kondisi cuaca mendukung, ia bisa memproduksi sekitar 120 kilogram rengginang. Selama sebulan menjelang Lebaran, total produksinya mencapai sekitar 2 ton.
Bahan utama pembuatan rengginang adalah beras ketan yang terlebih dahulu direndam selama kurang lebih satu jam. Setelah itu, ketan dicuci bersih dan dikukus selama kurang lebih 1,5 jam.
Ketan yang telah matang, kemudian diberi bumbu sebelum kembali dikukus untuk kedua kalinya. Selanjutnya adonan dicetak saat masih hangat agar mudah dibentuk.
"Kalau sudah dingin, ketannya keras dan sulit dicetak," jelasnya.
Ada beberapa varian rengginang yang diproduksi Wiwik, seperti bawang, terasi, dan ketan hitam. Produk rengginang buatannya dijual dengan harga berkisar Rp35.000 hingga Rp40.000 per kilogram.
Saat ini pemasaran rengginang masih didominasi wilayah Blitar dan sekitarnya. Meski begitu, Wiwik mengaku pernah mengirim produknya hingga luar pulau.
"Dulu pernah kirim sampai Papua, tapi sekarang lebih banyak di pasar lokal," imbuhnya. (*)
Editor: Danu
What's Your Reaction?

