Petani Tuban Desak BBWS BS Selesaikan Normalisasi Kali Avur dan Tuntaskan Waduk Jabung Ring Dyke
Warga Plumpang dan Widang , Tuban, mengeluhkan banjir tahunan akibat penyempitan dan sedimentasi Sungai Kali Avur Kuwu dalam forum terbuka bersama BBWS Bengawan Solo. Ketua HIPPA Klotok menyebut lebar sungai menyempit dari 24 meter menjadi hanya 5–9 meter di beberapa titik.
TUBAN, SJP – Sejumlah petani Kecamatan Plumpang, dan Kecamatan Widang Kabupaten Tuban Jawa Timur, menyuarakan kekecewaannya atas lambatnya penanganan banjir di sekitar kawasan Kali Avur dan proyek pembangunan waduk Jabung Ring Dyke yang mangkrak puluhan tahun.
Dalam diskusi terbuka yang digelar bersama Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWS BS), seperti pada berita yang ditulis sebelumnya, forum yang difasilitasi oleh anggota DPR RI Komisi IV dan V itu menjadi ajang curhat petani dan warga, yang selama ini merasa diabaikan oleh pemerintah dalam penyelesaian persoalan banjir tahunan.
Seorang tokoh petani Desa Klotok Kecamatan Plumpang, Ridwan, menyoroti penyempitan lebar sungai yang dinilai menjadi salah satu penyebab banjir terus terjadi.
"Lebar asli sungai harusnya 24 meter, tapi di beberapa titik hanya tinggal 9 meter, bahkan ada yang cuma 5 meter," ujar Ridwan dalam pertemuan tersebut.
Menurut dia, upaya normalisasi selama ini belum menyentuh akar persoalan. Ridwan bahkan mengaku telah menghabiskan ratusan juta rupiah secara swadaya untuk membersihkan endapan sedimentasi dan eceng gondok dari badan sungai.
"Kalau cuma urusan ambil eceng gondok dan lumpur, kami petani juga bisa dan sudah di lakukan. Tapi itu tidak menyelesaikan masalah secara menyeluruh," ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Ketua HIPPA Desa Plumpang, Nur Aksan. Ia menilai penanganan Kali Avur Kuwu harus dilakukan secara komprehensif dari hulu hingga ke muara sungai yang berada di Waduk Jabung Ring Dyke.
Selain itu maraknya tambang ilegal dan hutan gundul di kawasan pegunungan kapur Kecamatan Rengel, Grabakan dan Semanding berdampak pada kali avur.
"Pada musim penghujan air dari pegunungan itu terjung langsung ke Kali Avur yang kondisinya sudah menyempit dan mengalami pendangkalan, sehingga luapan air meluber ke lahan pertanian warga," ungkap Nur Ahsan Ketua HiPPA Desa Plumpang, Rabu (6/8/2025).
Menanggapi keluhan warga, Kepala BBWS Bengawan Solo, Gatut Bayuadjie, mengakui masih banyak pekerjaan rumah dalam penanganan banjir di kawasan tersebut. Ia menyebut penyempitan sungai salah satunya disebabkan oleh aktivitas pertanian yang memanfaatkan badan sungai sebagai lahan tanam.
"Ada petani yang menggunakan badan sungai untuk lahan, padahal itu tidak diperbolehkan," kata Gatut.
Ia juga mengungkapkan bahwa proyek Jabung Ring Dyke masih terkendala pembebasan lahan. Sebanyak 57 bidang tanah belum mendapatkan ganti rugi dengan total nilai mencapai Rp15 miliar hingga Rp20 miliar.
Sementara pembangunan tanggul masih kurang sekitar 2 kilometer dari total kebutuhan, dengan estimasi biaya sebesar Rp200 miliar.
Untuk normalisasi Kali Avur sendiri, Gatut menyatakan pihaknya sudah menyelesaikan pengerukan sepanjang 3 kilometer. Ditargetkan hingga akhir Agustus 2025, pekerjaan akan mencapai 9 kilometer.
Terkait kerusakan lahan di hulu, ia menyebut pihaknya turut menggandeng pemerintah daerah, Dinas Lingkungan Hidup, dan Dinas Kehutanan untuk melakukan penataan wilayah serta program reboisasi.
"Pemkab tadi juga sudah menyampaikan komitmennya untuk melakukan reboisasi guna mengurangi sedimentasi," tambah Gatut.
Warga berharap pemerintah pusat maupun daerah bisa lebih serius dalam menangani persoalan banjir yang telah bertahun-tahun melanda kawasan Waduk Jabung Ring Dyke dan Kali Avur, agar petani tidak terus merugi dan kondisi lingkungan bisa kembali stabil. (**)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

