Petani Cengkih di Tulungagung Dihantui Kemarau Basah, Bunga Rontok Dilanda Hujan

Cuaca tak menentu membuat petani cengkih di Tulungagung ketar ketir. Hujan deras membuat bunga dan buah cengkih rontok. Harga jual juga turun drastis.

21 Jun 2025 - 19:46
Petani Cengkih di Tulungagung Dihantui Kemarau Basah, Bunga Rontok Dilanda Hujan
Proses pengeringan biji cengkih tradisional dijemur di bawah sinar matahari. (Foto: Beny/SJP)

TULUNGAGUNG, SJP—Musim kemarau basah dengan sering turunnya hujan, membuat petani cengkih di Kabupaten Tulungagung khawatir. Selain membuat rontok bunga cengkih, hujan juga menjadi kendala saat proses pengeringan.

Salah seorang petani cengkih di wilayah Kecamatan Tanggunggunung, Lastri (55), merasakan dampaknya. Menurut dia, hujan yang berkepanjangan dan intens menjadi tantangan besar bagi para petani cengkih, termasuk dirinya.

Padahal, Lastri baru terjun menjadi petani cengkih dalam lima tahun terakhir. Dia mulai menanam cengkih karena pertimbangan usianya yang semakin menua, serta karena perawatan tanaman ini cukup mudah.

“Usia saya sudah tidak muda lagi. Cengkih hanya perlu ditanam sekali dan bisa dipanen setiap tahun. Jadi lebih ringan,” ujarnya, Sabtu (21/6/2025).

Lestari memiliki kebun cengkih seluas satu hektare. Namun, karena pohon-pohonnya belum tumbuh besar, hasil panennya masih terbatas pada kisaran 5 kuintal per tahun.

“Pohon saya masih muda. Jadi hasilnya belum banyak. Tapi memang cengkih panennya cuma sekali setahun,” tambahnya.

Sayangnya, meski memiliki potensi panen tahunan, produksi cengkih sangat dipengaruhi kondisi cuaca. Curah hujan tinggi menjadi momok tersendiri. Karena bisa menyebabkan bunga dan biji cengkih rontok sebelum waktunya.

“Biasanya, cengkih dipanen menjelang kemarau. Tapi kalau hujan terus datang seperti sekarang, bunga cengkih gampang rontok,” jelasnya.

Dia menambahkan, bila pohon cengkih yang masih kecil terendam banjir, maka besar kemungkinan tanaman itu akan mati. Pada musim panen tahun 2025 ini, sekitar 10 persen bunga cengkihnya sudah rontok karena hujan deras.

Usai dipanen, biji cengkih perlu segera dijemur di bawah terik sinar matahari, agar tidak berjamur. Kelembaban menjadi musuh utama dalam proses pengeringan biji cengkih.

“Kalau dijemur saat kemarau, cengkih bisa kering sempurna dan kualitasnya tetap bagus,” katanya.

Hasil panen Lastri umumnya dijual secara langsung ke toko-toko tembakau lokal. Khususnya yang berada di Kelurahan Jepun, Kecamatan Tulungagung.

“Sampai sekarang, belum ada pengepul tetap. Jadi kami masih jual sendiri ke toko-toko tembakau,” tuturnya.

Soal harga, Lastri menyebut, harga cengkih bisa sangat fluktuatif. Di saat tidak musim panen, harga bisa mencapai Rp130 ribu per kilogram. Namun, ketika pasokan melimpah, harganya bisa turun drastis hingga Rp60 ribu.

“Kalau cengkihnya rontok atau kualitasnya turun, biasanya dijual terpisah dengan harga lebih rendah,” terangnya.

Menurut Lastri, cengkih paling cocok ditanam di wilayah dataran tinggi yang bersuhu sejuk. Tanahnya pun harus dirawat dengan pupuk kandang secara berkala, agar subur.

“Di Tulungagung, baru wilayah Tanggunggunung yang banyak petani cengkihnya. Sekarang makin banyak warga sini yang mulai menanam cengkih karena tahu hasilnya menjanjikan,” pungkasnya. (*)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow