Penurunan Oksigen Terlarut Jadi Pemicu Ikan Mengambang di Sungai Surabaya
Kadar oksigen sungai anjlok hingga 1,5 mg/L, membuat ikan-ikan di Surabaya naik ke permukaan, membuka fakta mencengangkan tentang polusi dan rapuhnya ekosistem perkotaan.
SURABAYA, SJP — Pemerintah Kota Surabaya mengungkap penyebab di balik fenomena ikan mengambang di sejumlah sungai yang sempat menggegerkan warga.
Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO) di beberapa titik sungai turun drastis hingga di bawah ambang batas normal, diduga kuat akibat pencemaran limbah dan perubahan cuaca ekstrem di masa peralihan musim.
Fenomena dari Jagir ke Kalimas
Peristiwa bermula pada Senin pagi (27/10/2025) ketika warga di kawasan Kali Jagir, Wonokromo, mendapati banyak ikan naik ke permukaan dan tampak lemas. Video dan foto kondisi tersebut segera viral di media sosial.
Keesokan harinya, laporan serupa muncul di Saluran Banyu Urip dan Sungai Kalimas, dua aliran yang masih terhubung dengan sistem sungai utama di Surabaya. Petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya segera diterjunkan untuk melakukan pengukuran kualitas air dan memeriksa kondisi lapangan.
Hasil uji awal menunjukkan kadar oksigen terlarut (DO) di beberapa titik hanya sekitar 1,5 mg/L, jauh di bawah standar minimal 3 mg/L yang dibutuhkan ikan untuk bertahan hidup.
DLH Pastikan Penurunan DO Jadi Penyebab Utama
Kepala DLH Kota Surabaya Dedik Irianto menegaskan bahwa fenomena ikan “mabuk” tersebut dipicu oleh menurunnya kadar oksigen di air, terutama saat masa peralihan musim.
"Kuat dugaan penyebab kejadian ini adalah penurunan drastis kadar oksigen terlarut (DO) dalam air sungai," ujar Dedik, Kamis (30/10/2025).
Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa hasil laboratorium menunjukkan angka DO hanya mencapai 1,5 mg/L, jauh dari batas ideal.
"Kami sudah melakukan uji laboratorium dan hasilnya kadar DO-nya sangat rendah," imbuhnya.
Dedik menambahkan, pihaknya telah menyiapkan langkah mitigasi dan pemantauan berkala untuk mencegah kejadian serupa terulang.
"Kami mengimbau kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah, khususnya sampah rumah tangga dan limbah lainnya, ke sungai. Kebersihan sungai adalah tanggung jawab kita bersama," pesannya.
Analisis Ahli: Polutan Mengendap di Dasar Sungai
Dosen Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof. Harmin Sulistiyaning Titah menjelaskan bahwa fenomena ini berkaitan erat dengan dinamika perubahan musim dan perilaku polutan di dasar sungai.
"Pencemar organik atau polutan yang mengendap selama musim kemarau dapat memicu masalah ini," ungkap Harmin saat dikonfirmasi pada Kamis (30/10/2025).
Ia menambahkan, saat hujan pertama turun, endapan tersebut akan teraduk dan melepaskan zat pencemar yang menyerap oksigen di air.
"Ketika musim hujan tiba, polutan terangkat sehingga mengurangi kandungan oksigen dalam air. Hal tersebut mengakibatkan ikan kekurangan oksigen dan naik ke permukaan untuk mencari oksigen," jelasnya.
Menindaklanjuti hasil temuan tersebut, DLH Surabaya berkomitmen melaksanakan pemantauan kualitas air secara rutin di seluruh jaringan sungai perkotaan.
Selain itu, Pemkot akan menggencarkan edukasi publik dan pengawasan limbah dari aktivitas rumah tangga maupun industri kecil di sepanjang bantaran sungai. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

