Pemilik RPH di Jombang Turut Merasakan Dampak Infiltrasi Masuknya Pasokan Daging Sapi Luar Daerah

Infiltrasi tetsebut berdampak pada menurunnya omset penjualan hingga dirasakan oleh para pengecer.

18 Feb 2026 - 21:45
Pemilik RPH di Jombang Turut Merasakan Dampak Infiltrasi Masuknya Pasokan Daging Sapi Luar Daerah
Salah satu pemilik RPH terdampak infiltrasi daging sapi luar daerah. (Fredi/SJP)

JOMBANG, SJP - Beredarnya daging sapi dari pemasok luar daerah atau infiltrasi daging sapi luar daerah turut dirasakan oleh salah satu pemilik Rumah Potong Hewan (RPH) di Jombang. Infiltrasi tetsebut berdampak pada menurunnya omset penjualan hingga dirasakan oleh para pengecer. 

Salah satu pemilik RPH di Jombang, Ashari Subiono (50) mengaku merugi dengan serbuan pemasok daging dari luar Kabupaten Jombang.  

"Ini yang jelas sangat merugikan dari saya, terutama. Yang kedua, dari pihak pelanggan-pelanggan kami sebagai pengecer, sangat meresahkan kita," ucap Subiono kepada suarajatimpost.com, Rabu (18/2/2026).

Subiono menjelaskan kondisi yang ada di pasar Legi Jombang. Kedatangan daging sapi jelas-jelas bukan dari wilayah Jombang. Awalnya hanya menyetok menggunakan satu sepeda motor, namun sekarang sudah bertambah menjadi tiga mobil pick up. Bahkan pemasok daging memberikan harga tidak wajar. 

'Dan ini yang jelas harganya pun jauh beda dengan kita. Teman-teman itu saya kasih 100 ribu pengecer, dan ini menjualnya 95 (ribu), 92 (ribu). Kan jelas sangat meresahkan kita," jelas Subiono. 

Pihaknya pun meminta kepada Dinas Peternakan maupun pihak-pihak terkait untuk menjamin keberlangsungan RPH resmi maupun pengecer daging sapi dari Kabupaten Jombang. Mengingat selama ini, Subiono mengaku telah memberikan kontribusi ke Pemerintah Daerah (Pemda). 

"Ya, saya ingin dinas segera mengambil tindakan, langsung turun ke lapangan biar tahu apa yang terjadi dengan pedagang-pedagang di bawah, (di) Pasar Legi," tandas Subiono.

Sebelumnya, Stabilitas harga dan ekosistem perdagangan daging sapi di Pasar Legi Jombang dilaporkan terganggu akibat maraknya pasokan daging dari luar daerah.

Para pedagang lokal mengeluhkan praktik perdagangan tidak sehat yang dilakukan oleh distributor luar yang memotong rantai distribusi tradisional dan memicu ketimpangan harga.

Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa pasokan daging tersebut diduga berasal dari wilayah Krian, Sidoarjo.

Praktik ini disinyalir telah berlangsung selama dua tahun terakhir dengan volume distribusi yang terus meningkat.

Ulfa (51), salah satu pedagang daging di Pasar Legi, mengungkapkan bahwa para pemasok luar kini mendistribusikan daging menggunakan kendaraan bak terbuka langsung ke tingkat pengecer di area sekitar Jalan Mimbar.

Karena berstatus sebagai jagal (grosir), mereka mampu mematok harga di bawah harga pasar lokal. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow