Pembunuh Eks Mertua Masih Berkeliaran, Enam Sekolah di Pacitan Diliburkan
Pelaku pembunuhan di Pacitan belum tertangkap, membuat enam sekolah di Desa Temon diliburkan. Warga ketakutan karena pelaku diduga masih bersembunyi di hutan dengan membawa senjata tajam.
PACITAN, SJP – Rasa takut menyelimuti warga Desa Temon, Kecamatan Arjosari, Pacitan. Sejak Sabtu (20/9/2025) malam, setelah aksi pembunuhan yang menewaskan seorang warga, pelaku berinisial AS alias Wawan belum berhasil ditangkap.
Situasi ini membuat enam sekolah di desa tersebut terpaksa diliburkan karena orang tua murid enggan melepas anak-anaknya ke sekolah.
AS diduga melarikan diri ke dalam hutan dengan membawa senjata tajam setelah menghabisi nyawa mantan mertuanya, Timi (50).
Tak berhenti di situ, ia juga melukai mantan istrinya Miswati (40), mantan ayah mertuanya Miskun (60), saudara iparnya Eky (27), serta keponakannya berinisial A (10).
Enam sekolah yang memilih meliburkan siswa adalah SDN 1 Temon, SDN 2 Temon, SDN 3 Temon, SDN 4 Temon, MI Guppi Temon, SMP PGRI Arjosari, serta MTS/MA Darul Huda. Kekhawatiran orang tua murid menjadi alasan utama keputusan ini.
“Memang kondisinya masih seperti ini, wali murid dan muridnya saja tidak berani ke sekolah,” kata Sumaryati, guru SDN 2 Temon.
Ia menambahkan, letak sekolah yang cukup jauh dari rumah siswa memperbesar rasa takut. Jalan menuju sekolah harus melewati tepi hutan, sehingga sebagian besar orang tua menolak mengizinkan anak-anak mereka berangkat.
“Kita data, dari 103 orang tua siswa, 98 tidak berani untuk sekolah, sehingga kita ambil keputusan untuk meliburkan sekolah,” ungkapnya.
Di sisi lain, ratusan warga Desa Temon bersama aparat TNI dan Polri terus melakukan penyisiran hutan. Mereka memeriksa gubuk hingga rumah kosong untuk mencari keberadaan pelaku yang masih berkeliaran.
“Ini seluruh warga Desa Temon, ada enam dusun, semunya turun, bergerak untuk melakukan penyisiran, karena memang, sampai saat ini pelaku pembunuhan belum ditemukan,” ujar Kapolsek Arjosari Ipda Ferry Ardianto.
Suasana desa kini mencekam. Warga berharap upaya penyisiran segera membuahkan hasil, sehingga ketenangan dan aktivitas pendidikan anak-anak bisa kembali berjalan normal. (**)
Editor: Rizqi Ardian
Sumber: Beritasatu.com
What's Your Reaction?

