Pelecehan Seksual Guncang Siswa SMP di Jombang, Korban Tulang Punggung Keluarga dan Alami Trauma Berat
Korban, yang bernama samaran Mawar (17), harus menghadapi trauma mendalam setelah insiden yang diduga dilakukan oleh orang yang dikenalnya.
JOMBANG, SJP – Seorang siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Jombang, Jawa Timur, menjadi korban pelecehan seksual dalam perjalanannya ke sekolah.
Korban, yang bernama samaran Mawar (17), harus menghadapi trauma mendalam setelah insiden yang diduga dilakukan oleh orang yang dikenalnya.
Latar Belakang Penuh Perjuangan
Di balik seragam sekolahnya, Mawar menyimpan perjuangan hidup yang berat. Ia tinggal bersama nenek dan ketiga adiknya yang masih balita, sementara ibunya bekerja dengan jam pulang yang tidak menentu.
Untuk membantu ekonomi keluarga, setiap pagi Mawar berjualan nasi bungkus di pasar sebelum berangkat sekolah.
"Adiknya banyak. Tiap pagi Mawar berjualan nasi bungkus, kemudian berangkat sekolah setelah dagangannya habis. Ia tidak memiliki kendaraan, sehingga sering berjalan kaki," ujar salah seorang gurunya, Sabtu (18/10/2025).
Bahkan, perjalanan pendidikannya sempat terputus karena masalah biaya. Berkat dukungan gurunya, Mawar akhirnya dapat kembali bersekolah di jenjang SMP dan tercatat sebagai penerima beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP).
Insiden Pelecehan dalam Perjalanan ke Sekolah
Tragedi terjadi pada Kamis (16/10/2024), saat Mawar berjalan kaki menuju sekolah. Seorang pria berinisial E (40), yang merupakan ayah dari temannya, menawarkan tumpangan. Tanpa curiga, Mawar menerima tawaran tersebut.
Namun, di tengah perjalanan, E tiba-tiba meminta Mawar untuk bergantian mengemudi. Pelaku kemudian memberikan uang Rp10.000 kepada korban, sebelum akhirnya berulang kali menyentuh bagian sensitif tubuh Mawar.
Korban yang kaget dan merasa dilecehkan, segera menghentikan motor, melompat, dan berlari menuju sekolah sambil menangis histeris.
Laporan ke Polisi dan Dampak Psikologis
Menyikapi kejadian tersebut, pihak sekolah segera menghubungi orang tua Mawar. Pada Jumat (17/10/2024), didampingi kepala sekolah dan keluarganya, Mawar melaporkan kejadian tersebut ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Jombang.
"Saat berangkat sekolah, ia ditumpangi oleh ayah temannya. Ternyata ia malah diajak berputar-putar, dan akhirnya anaknya melarikan diri. Sudah dilaporkan ke polisi," jelas guru Mawar.
Akibat insiden ini, kondisi psikologis Mawar mengalami trauma berat. Ia dilaporkan menolak untuk kembali bersekolah. Keluarga korban telah menerima Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL) dan menunggu proses hukum lebih lanjut.
Komnas PA Jatim Desak Penanganan Serius
Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Jawa Timur menyoroti kasus ini secara serius. Sekretaris Jenderal Komnas PA Jatim, Jaka Prima, mengecam tindakan pelecehan yang terjadi di jalan raya saat anak hendak berangkat sekolah.
"Pelecehan seksual di jalan raya adalah tindakan yang tidak dapat diterima dan dapat memiliki dampak serius pada korban. Informasi yang kami peroleh, korban mengalami trauma dan masih takut untuk berangkat sekolah," kata Jaka.
Komnas PA Jatim mendesak kepolisian untuk segera mengamankan terduga pelaku.
"Kami meminta pihak yang berwajib bertindak cepat dan tepat, agar terduga pelaku tidak kabur dan mempertanggungjawabkan perbuatannya," sambungnya.
Lembaga itu berkomitmen untuk mengawal kasus ini hingga tuntas dan memberikan pendampingan, baik dari aspek hukum maupun psikologis, kepada korban.
Jika terbukti, pelaku dapat dikenakan pasal-pasal terkait kesusilaan dalam KUHP serta Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

