Kasus PMK di Tulungagung Mewabah di 12 Kecamatan, Puluhan Ternak Terjangkit

Meski wabah merebak, sentimen pasar cenderung stabil. Harga sapi jantan masih bertahan di angka Rp25 juta hingga Rp30 juta per ekor. Demikian pula dengan kambing masih diperdagangkan pada kisaran normal, yakni Rp1,6 juta hingga Rp3,4 juta tergantung ukuran.

04 Feb 2026 - 16:00
Kasus PMK di Tulungagung Mewabah di 12 Kecamatan, Puluhan Ternak Terjangkit
Petugas dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Tulungagung, memeriksa kondisi hewan ternak yang diperdagangkan di Pasar Hewan Terpadu. (Beny/SJP)

TULUNGAGUNG, SJP — Ancaman Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) kembali menghantui peternak di Kabupaten Tulungagung. 

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) setempat mengonfirmasi temuan 59 kasus aktif yang tersebar di 12 kecamatan. 

Merespons kondisi itu, Disnakkeswan terkait mulai memperketat pengawasan lalu lintas ternak di pasar-pasar hewan.

Kepala Disnakkeswan Tulungagung, Agus Suswantoro, menegaskan bahwa meskipun puluhan kasus telah terdeteksi, pihaknya bergerak cepat melakukan pemetaan. 

"Dari hasil evaluasi laporan Puskeswan di lapangan, tercatat 59 kasus. Saat ini 12 kecamatan terdampak, sementara tujuh kecamatan lainnya masih berstatus zona hijau atau nol kasus," ujar Agus saat memimpin inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Hewan Terpadu Desa Sumberdadi, Rabu (4/2/2026).

Dalam sidak tersebut, petugas melakukan pemeriksaan fisik secara klinis terhadap sapi dan kambing yang diperdagangkan.

Fokus pemeriksaan meliputi kondisi mata, hidung, hingga berat badan proporsional untuk memastikan hewan yang masuk ke pasar dalam keadaan sehat.

Menariknya, meski wabah mulai merebak, sentimen pasar cenderung stabil. Harga sapi jantan masih bertahan di angka Rp25 juta hingga Rp30 juta per ekor. Demikian pula dengan komoditas kambing yang masih diperdagangkan pada kisaran normal, yakni Rp1,6 juta hingga Rp3,4 juta tergantung ukuran.

Agus menegaskan pentingnya vaksinasi sebagai tameng utama. Ia mengungkapkan adanya disparitas waktu penyembuhan yang cukup signifikan antara ternak yang sudah divaksin dengan yang belum.

"Sapi yang belum tervaksin memerlukan proses penyembuhan yang jauh lebih lama. Sebaliknya, ternak yang sudah menerima dosis vaksin menunjukkan pemulihan yang sangat cepat meski sempat terpapar," jelasnya.

Untuk membendung perluasan wabah, Disnakkeswan Tulungagung telah mengamankan pasokan 17.000 dosis vaksin dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Belasan ribu dosis tersebut kini mulai didistribusikan ke 70 titik Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) di seluruh wilayah Tulungagung.

Disnakkeswan menargetkan seluruh rangkaian vaksinasi tahap pertama rampung pada pertengahan Maret 2026. Langkah ini diharapkan mampu memutus rantai penularan PMK, terutama mengingat Pasar Hewan Terpadu di Tulungagung merupakan hub penting yang melibatkan pedagang lintas kota seperti Kediri, Blitar, dan Trenggalek.

Sejauh ini, Disnakkeswan menyebut belum ada laporan kasus kematian ternak akibat ledakan kasus terbaru ini. Namun, para peternak diimbau untuk tidak lengah dan segera melaporkan gejala mencurigakan pada hewan mereka ke petugas kesehatan hewan terdekat. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow