Pelajar Gresik Ciptakan Alat Pengusir Hama Tikus untuk Petani

Inovasi yang digarap Clarissa Haura Putri Budiono dan Furaidah Al-Haditsa ini resmi diuji coba di area persawahan Desa Gredek, Kecamatan Duduk Sampeyan, Kabupaten Gresik.

28 Nov 2025 - 22:59
Pelajar Gresik Ciptakan Alat Pengusir Hama Tikus untuk Petani
Pelajar saat praktik alat pengusir hama tikus sawah berbasis teknologi ramah lingkungan bernama TEKTIKUS (Teknologi Anti Tikus). (Foto: Anis/SJP)

GRESIK, SJP - Dua siswi SMP Islamic Qon Gresik berhasil menciptakan alat pengusir hama tikus sawah berbasis teknologi ramah lingkungan bernama TEKTIKUS (Teknologi Anti Tikus).

Inovasi yang digarap Clarissa Haura Putri Budiono dan Furaidah Al-Haditsa ini resmi diuji coba di area persawahan Desa Gredek, Kecamatan Duduk Sampeyan, Kabupaten Gresik.

Ciptaan teknologi tersebut berawal dari keresahan para petani yang menghadapi peningkatan populasi tikus sawah. Serangan hama itu bahkan menyebabkan kerusakan hasil panen petani mencapai 75 persen.

Di mana, petani sebelumnya mengupayakan mengusir hama tikus sawah secara manual seperti gropyokan, racun kimia, hingga pemasangan listrik yang membahayakan keselamatan diri.

“TEKTIKUS dirancang menggunakan panel surya dan sensor ultrasonik untuk melindungi pertanian padi. Tujuan pembuatan alat ini adalah memberikan solusi nyata bagi petani padi di Kabupaten Gresik dalam mengatasi serangan hama tikus secara efektif dan berkelanjutan,” kata Kepala SMP Islamic Qon Gresik, Sholihah, mewakili dua siswinya, Jumat (28/11/2025).

Sholihah mengatakan, bahwa proses pembuatan alat oleh kedua siswinya itu berlangsung selama dua bulan. Pembuatan alat inovasi itu turunt difasilitasi oleh Dinas Pertanian Kabupaten Gresik dan Pemerintah Desa Gredek melalui akses ke kelompok tani setempat sebagai pengguna langsung teknologi tersebut.

“Hasil pengujian menunjukkan seluruh komponen berfungsi optimal. TEKTIKUS terbukti efektif sebagai solusi ramah lingkungan dalam mengendalikan hama tikus sawah di Kabupaten Gresik,” jelasnya.

Sholihah menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari program tahunan sekolah berupa Lomba Inovasi Antar Kelas, yang mendorong siswa untuk berpikir kritis, kreatif, dan sigap memberikan solusi bagi masyarakat.

“Mengapa anak seusia SMP harus berinovasi? Karena bagi kami inovasi bukan soal siapa yang juara, tetapi bagaimana siswa belajar sejak dini untuk bekerja sama, berpikir kritis, dan berani mencoba hal baru,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Gredek, Bahrul Gofar, memberikan apresiasi atas inovasi yang dilakukan para pelajar. Menurutnya, teknologi seperti ini sangat bermanfaat bagi petani, meski masih membutuhkan evaluasi dalam jangka panjang.

“Inovasi yang luar biasa dilakukan oleh siswa. Alat ini mampu meminimalisir keberadaan tikus di sawah, dan kami sudah mulai mencoba penerapannya kemarin,” tuturnya.

Meski begitu, Bahrul menyampaikan bahwa keberhasilan alat tidak bisa diukur dari satu kali uji coba saja. Hama tikus memiliki pola kemunculan musiman.

Ia juga menyoroti perlunya pengembangan lebih lanjut agar alat ini dapat diproduksi dengan biaya lebih terjangkau.

“Kami berharap biaya produksi bisa lebih murah agar petani semakin mudah menggunakannya. Tapi secara umum, kami sangat mengapresiasi inovasi siswa menengah yang mampu menciptakan alat yang benar-benar membantu para petani,” pungkasnya. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow