DPKP Bondowoso Perkuat Pertanian Lewat Bantuan Benih, Agroforestri, hingga Pengembangan Kopi dan Tebu

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bondowoso menyalurkan bantuan benih dan sarana produksi, sekaligus memperkuat pengembangan kopi 1.700 hektare serta program tebu guna meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.

08 Jul 2026 - 19:31
DPKP Bondowoso Perkuat Pertanian Lewat Bantuan Benih, Agroforestri, hingga Pengembangan Kopi dan Tebu
Mulyadi Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (kanan) saat mendampingi Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid ketika menyerahkan bantuan benih padi kepada petani di Kecamatan Sumberwringin (Foto : Rizqi/SJP)

BONDOWOSO, SJP – Pemerintah Kabupaten Bondowoso terus memperkuat sektor pertanian melalui berbagai program bantuan, pengembangan komoditas unggulan, hingga perluasan kemitraan dengan berbagai pihak. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani, seiring upaya menjadikan pertanian sebagai salah satu penggerak utama perekonomian daerah.

Komitmen itu diwujudkan melalui penyaluran bantuan sarana produksi pertanian, pengembangan kawasan perkebunan kopi, dukungan terhadap program swasembada gula nasional, hingga penguatan pola agroforestri yang melibatkan masyarakat desa hutan. Berbagai program tersebut diharapkan mampu meningkatkan hasil produksi sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya alam.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Bondowoso, Mulyadi, mengatakan, pemerintah daerah tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga membangun ekosistem pertanian yang lebih kuat melalui pendampingan, penyediaan sarana produksi, kemitraan usaha, hingga pembukaan akses pasar bagi petani.

"Seluruh bantuan dan program yang disalurkan merupakan bentuk komitmen pemerintah untuk memperkuat sektor pertanian Bondowoso. Harapannya produktivitas meningkat, kesejahteraan petani semakin baik, dan sektor pertanian mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah," kata Mulyadi dalam kegiatan Penandatanganan Nota Kesepahaman Bidang Pariwisata, Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Agroforestri, serta Penyerahan Paket Bantuan Bidang Pertanian Tahun Anggaran 2026, di Kecamatan Sumberwringin, Rabu (8/7/2026).

Menurut Mulyadi, salah satu program strategis yang akan memperkuat posisi Bondowoso sebagai daerah penghasil kopi adalah Program Pengembangan Kawasan Perkebunan Kopi melalui Anggaran Belanja Tambahan (ABT) Tahun 2026 dengan total luasan mencapai 1.700 hektare.

Dari total tersebut, Kecamatan Sumberwringin mendapatkan alokasi pengembangan seluas 230 hektare yang terdiri atas peremajaan kopi arabika seluas 200 hektare di Desa Rejoagung dan peremajaan kopi robusta seluas 30 hektare di Desa Sumberwringin. Program tersebut ditujukan untuk meningkatkan produktivitas tanaman sekaligus menjaga kualitas kopi Bondowoso yang selama ini dikenal memiliki cita rasa khas.

Selain kopi, Bondowoso juga mendapat dukungan pemerintah pusat melalui Program Strategis Nasional dalam rangka mendukung swasembada gula nasional. Program tersebut meliputi bongkar ratoon dan perluasan tanaman tebu seluas 2.352 hektare, disertai bantuan 60.000 mata tunas serta dukungan biaya Hari Orang Kerja (HOK) sebesar Rp4 juta per hektare.

Mulyadi menjelaskan, dukungan tersebut menjadi peluang bagi petani tebu untuk meningkatkan produktivitas melalui penerapan budidaya yang lebih baik dan pemanfaatan teknologi pertanian.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga menyalurkan bantuan sarana produksi kepada ribuan kelompok tani di Bondowoso.

"Bantuan benih padi diberikan kepada 1.015 kelompok tani dengan cakupan lahan seluas 12.610 hektare sebanyak 315.250 kilogram. Sementara itu, bantuan benih jagung disalurkan kepada 533 kelompok tani untuk lahan seluas 11.780 hektare dengan total benih mencapai 176.700 kilogram," urainya.

Tak hanya benih, kata Mulyadi, DPKP juga menyalurkan bantuan pestisida kepada 214 gabungan kelompok tani (Gapoktan), meliputi herbisida, insektisida, fungisida, moluskisida, dan rodentisida guna membantu pengendalian organisme pengganggu tanaman sehingga produktivitas pertanian dapat terus ditingkatkan.

Dalam kesempatan itu, sebagai bentuk perhatian terhadap buruh tani di kawasan hutan, pemerintah juga menyerahkan 133 unit cangkul kepada anggota Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wono Asri dan LMDH Wono Agung. Bantuan tersebut diharapkan dapat menunjang aktivitas para buruh tani yang berperan penting dalam pengelolaan lahan agroforestri.

Mulyadi menambahkan, pembangunan sektor pertanian ke depan tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi. Menurutnya, petani harus mampu memperoleh nilai tambah melalui pengolahan hasil, penguatan kelembagaan ekonomi, serta perluasan akses pasar.

Karena itu, DPKP terus membangun kemitraan dengan berbagai perusahaan, koperasi, dan pelaku usaha agar hasil pertanian Bondowoso memiliki kepastian pasar dan mampu meningkatkan pendapatan petani.

"Kolaborasi antara pemerintah, petani, penyuluh, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk mewujudkan pertanian Bondowoso yang maju, berdaya saing, dan berkelanjutan," pungkas Mulyadi. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow