Bondowoso Perkuat Agroforestri Kopi, Bupati Dorong Hilirisasi dan Wisata Berbasis Hutan
Pemkab Bondowoso menyerahkan PKS Agroforestri Kopi 2026 sebagai upaya memperkuat hilirisasi kopi, menjaga kelestarian hutan, meningkatkan kesejahteraan petani, serta memperluas daya saing komoditas unggulan di pasar global.
BONDOWOSO, SJP – Pemerintah Kabupaten Bondowoso terus memperkuat posisi daerah sebagai salah satu sentra kopi nasional melalui pengembangan agroforestri yang menggabungkan aspek ekonomi, konservasi hutan, dan pemberdayaan masyarakat. Langkah tersebut ditandai dengan penyerahan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Agroforestri Kopi dan Petik Kopi Tahun 2026 yang dipusatkan di Kecamatan Sumberwringin, Rabu (8/7/2026).
Program tersebut tidak hanya membuka ruang kemitraan antara masyarakat dengan Perum Perhutani dalam pemanfaatan kawasan hutan secara legal, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah untuk memperluas nilai tambah sektor perkebunan. Melalui pola agroforestri, pengembangan kopi diharapkan mampu berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian kawasan hutan.
Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid menegaskan, penguatan sektor kopi tidak lagi cukup berhenti pada peningkatan produksi. Menurutnya, komoditas unggulan Bondowoso harus mampu masuk ke rantai industri yang lebih luas melalui hilirisasi, modernisasi pengolahan, hingga perluasan akses pasar agar memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, pemerintah juga ingin memastikan pengelolaan sumber daya alam tetap berkelanjutan. Karena itu, pengembangan agroforestri diposisikan sebagai instrumen pembangunan yang mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi masyarakat dan pelestarian lingkungan hidup untuk generasi mendatang.
Abdul Hamid Wahid mengatakan, penandatanganan PKS Agroforestri Kopi menjadi bagian dari upaya mewujudkan visi pembangunan Bondowoso sebagai daerah yang tangguh, unggul, berdaya saing global, dan berbudaya dalam bingkai keimanan serta ketakwaan.
Ia menjelaskan, kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Bondowoso dan Perum Perhutani KPH Bondowoso tidak hanya difokuskan pada pengembangan perkebunan kopi, tetapi juga diarahkan untuk mendukung pengembangan destinasi wisata berbasis alam.
"Hari ini kita memulai sinergi yang akan membantu mewujudkan visi daerah. Kerja sama ini merupakan komitmen bersama untuk membangun tata kelola pemerintahan yang responsif sekaligus mengembangkan potensi daerah secara berkelanjutan," ujarnya.
Bupati juga menekankan bahwa konsep agroforestri merupakan implementasi misi pembangunan daerah dalam membangun ekosistem yang harmonis melalui pelestarian lingkungan hidup berbasis kearifan lokal.
Ia mengingatkan seluruh jajaran Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) agar memanfaatkan ruang kolaborasi tersebut secara bertanggung jawab sehingga keberadaan hutan tetap terjaga sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
"Saya meminta seluruh jajaran LMDH menggunakan ruang kolaborasi ini dengan penuh tanggung jawab agar hutan tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya, sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat," katanya.
Pada kesempatan itu, Bupati yang karib disapa Ra Hamid ini, juga memaparkan berbagai program strategis yang tengah dijalankan pemerintah daerah untuk memperkuat sektor perkebunan. Salah satunya adalah pengembangan kawasan perkebunan kopi seluas 1.700 hektare yang mencakup program peremajaan tanaman di Kecamatan Sumberwringin.
Selain itu, Bondowoso juga mendukung program nasional perluasan tanaman tebu seluas 2.352 hektare sebagai bagian dari penguatan sektor pertanian berbasis potensi lokal.
Menurutnya, potensi besar yang dimiliki Bondowoso tidak boleh berhenti sebagai penghasil bahan baku. Pemerintah daerah ingin mendorong komoditas kopi dan tebu memiliki nilai tambah melalui hilirisasi industri, peningkatan kualitas pengolahan, serta penguatan kemitraan pemasaran hingga mampu bersaing di pasar global.
"Kita tidak ingin potensi pertanian yang luar biasa ini hanya menghasilkan produk mentah. Komoditas kopi dan tebu harus naik kelas melalui hilirisasi, modernisasi pengolahan, dan perluasan akses pasar sehingga nilai tambahnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat," tegasnya.
Dalam kegiatan tersebut, pemerintah juga menyerahkan bantuan kepada buruh tani yang tergabung dalam LMDH berupa benih jagung, pestisida, dan cangkul sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan produktivitas pertanian.
Bupati menilai peningkatan kesejahteraan petani harus dibarengi dengan penguatan kapasitas sumber daya manusia serta penyediaan sarana produksi yang memadai. Karena itu, pemerintah berkomitmen terus mendukung kelompok tani dan gabungan kelompok tani agar semakin mandiri secara ekonomi.
"Kita optimistis produktivitas pangan daerah akan meningkat dan kesejahteraan petani dapat dirasakan secara lebih merata apabila peningkatan kapasitas SDM didukung bantuan sarana yang tepat sasaran," pungkasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

