Rupiah Melemah terhadap Dolar AS di Tengah Ketidakpastian Global
Rupiah ditutup melemah 0,28% ke Rp 16.409 per dolar AS akibat ketidakpastian global, negosiasi tarif AS-Uni Eropa dan AS-China, serta meningkatnya ketegangan geopolitik terkait Rusia.
SUARAJATIMPOST.COM—Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (29/7/2025). Rupiah ditutup turun sebesar 45,5 poin atau setara 0,28%, sehingga berada di posisi Rp 16.409 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS mengalami kenaikan sebesar 0,23% dan mencapai angka 98,86. Sebelumnya, rupiah juga sempat ditutup melemah sebesar 43,5 poin atau 0,27%, ke level Rp 16.363,5 per dolar AS.
Analis mata uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa perjanjian perdagangan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa pada akhir pekan lalu menetapkan tarif dasar untuk sebagian besar barang impor dari Uni Eropa sebesar 15%. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan ancaman tarif sebelumnya yang bisa mencapai 30% atau bahkan lebih tinggi.
“Awalnya, kesepakatan ini meningkatkan optimisme pasar global. Namun, sejumlah analis memperingatkan bahwa kenaikan tarif dari posisi terendahnya dalam sejarah justru dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dan memicu tekanan inflasi secara global,” jelas Ibrahim.
Lebih lanjut, Ibrahim menuturkan bahwa pertemuan antara pejabat perdagangan Amerika Serikat dan China di Stockholm pada hari Senin merupakan bagian dari putaran ketiga negosiasi. Tujuannya adalah memperpanjang masa jeda selama 90 hari yang telah disepakati sejak Mei lalu untuk meredam peningkatan tarif.
“Walaupun terlihat ada perkembangan positif dalam negosiasi, sentimen pasar masih rentan. Pelaku usaha dan investor masih khawatir terhadap dampak dari tarif baru dan ketidakpastian mengenai batas waktu yang ditetapkan Amerika Serikat pada 1 Agustus, yang berpotensi memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan laba perusahaan,” tambahnya.
Selain itu, Ibrahim juga menyoroti meningkatnya ketegangan geopolitik yang disebabkan oleh Presiden AS Donald Trump. Ia memperpendek batas waktu bagi Rusia untuk menunjukkan langkah nyata dalam mengakhiri konflik di Ukraina menjadi hanya 10 hingga 12 hari.
Trump juga menyampaikan bahwa sanksi akan diberlakukan jika Rusia tidak memberikan tanggapan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak dari Rusia dan semakin ketatnya ketersediaan energi global. (**)
Sumber: Beritasatu.com
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

