Pemkab Bondowoso Susun Roadmap Kopi Terintegrasi, Republik Kopi Reborn Mulai Dibangun

Pemkab Bondowoso menyusun roadmap pengembangan kopi terintegrasi untuk memperkuat ekosistem hulu hingga hilir, membangkitkan Republik Kopi Reborn, serta meningkatkan kesejahteraan petani melalui kolaborasi berbagai pihak.

08 Jul 2026 - 18:31
Pemkab Bondowoso Susun Roadmap Kopi Terintegrasi, Republik Kopi Reborn Mulai Dibangun
Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid saat memetik kopi di Dusun Kluncing Desa Sukorejo Kecamatan Sumber Wringin (Foto : Rizqi/SJP)

BONDOWOSO, SJP – Bondowoso Republik Kopi (BRK) nampaknya akan hidup kembai di Bumi Ki Ronggo, menyusul upaya Pemerintah Kabupaten Bondowoso dalam menyusun langkah jangka panjang untuk memperkuat posisi daerah sebagai salah satu sentra kopi unggulan di Indonesia.

Melalui penyusunan peta jalan (roadmap) pengembangan kopi yang terintegrasi, seluruh mata rantai industri kopi akan diarahkan berjalan dalam satu ekosistem yang saling mendukung, mulai dari budidaya hingga pemasaran.

Selama ini Bondowoso dikenal luas dengan julukan Republik Kopi, berkat kualitas kopi arabika yang telah mengantongi Indikasi Geografis (IG) dan menembus pasar ekspor. Namun, berbagai program yang dijalankan masih dinilai belum terhubung secara menyeluruh sehingga manfaatnya belum maksimal dirasakan petani maupun pelaku usaha.

Pemerintah kini ingin mengubah pola tersebut dengan membangun strategi yang lebih terarah. Fokusnya tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat akses pembiayaan, meningkatkan kualitas hasil panen, memperluas jaringan pemasaran, hingga membuka peluang investasi agar nilai tambah kopi tetap dinikmati masyarakat Bondowoso.

Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali semangat Bondowoso Republik Kopi Reborn, yakni menjadikan sektor perkopian sebagai salah satu penggerak utama perekonomian daerah dan instrumen peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Komitmen itu disampaikan Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid usai memetik kopi di Desa Sumberejo, Kecamatan Sumberwringin, Rabu (8/7/2026). Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan menjadi penanda dimulainya penyusunan strategi besar pengembangan sektor kopi di Bondowoso.

"Petik kopi ini sebetulnya penegasan Bondowoso Republik Kopi Reborn. Setelah ini kami akan fokus menata konsep strategis bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui dunia perkopian," kata bupati yang karib disapa Ra Hamid.

Ia menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Bondowoso akan memanfaatkan dukungan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memfasilitasi pelaksanaan high level meeting yang membahas pengembangan sektor kopi. Forum tersebut diharapkan menjadi wadah menyatukan gagasan berbagai pemangku kepentingan sekaligus merumuskan arah kebijakan yang lebih terintegrasi.

Menurut Ra Hamid, selama ini berbagai program yang berkaitan dengan kopi sebenarnya sudah berjalan di sejumlah sektor. Namun pelaksanaannya masih bersifat parsial sehingga belum membentuk sistem yang saling terhubung dan memberikan dampak optimal terhadap peningkatan kesejahteraan petani.

Karena itu, pemerintah daerah akan menyusun satu peta pengembangan yang mengintegrasikan seluruh rantai nilai kopi. Mulai dari proses produksi, akses pembiayaan, peningkatan kualitas, pemasaran, hingga mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli akan dirancang dalam satu skema yang saling mendukung.

"Peta pengembangan kopi ini harus menyatukan seluruh rantai nilai kopi, sehingga setiap program saling mendukung dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat Bondowoso," ujarnya.

Tak hanya itu, pemerintah juga menargetkan penguatan sektor hulu hingga hilir melalui perluasan akses pembiayaan bagi petani, pendampingan budidaya, penyusunan standar mutu, pengembangan jaringan pemasaran, hingga membuka akses pasar yang lebih luas bagi kopi Bondowoso.

Bupati optimistis kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, lembaga keuangan, akademisi, dan masyarakat akan menjadi kunci dalam mengembalikan kejayaan kopi Bondowoso.

"Dengan bersinergi, manfaatnya bisa dirasakan bersama. Bondowoso yang dulu pernah berkibar dengan bendera Republik Kopi diharapkan dapat bangkit kembali, sehingga masyarakat ikut menikmati hasil dari kebersamaan itu," harapnya.

Di sisi lain, Pemkab Bondowoso juga mulai mengembangkan konsep agroforestri sebagai strategi pemanfaatan kawasan hutan yang lebih produktif. Dengan sekitar 60 persen wilayah Bondowoso berupa kawasan hutan, potensi tersebut dinilai dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan lingkungan.

Menurut Hamid, pengembangan agroforestri tidak hanya difokuskan pada komoditas kopi, tetapi juga membuka peluang bagi tanaman lain yang sesuai dengan karakteristik kawasan hutan sehingga mampu meningkatkan pendapatan masyarakat secara berkelanjutan.

"Yang terpenting adalah bagaimana kawasan hutan di Bondowoso dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah," pungkasnya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow