Pancasila Bukan Simbol: Jalan Kebangsaan Ala GMNI di Bulan Bung Karno
Sarasehan Kebangsaan bertajuk "Merawat Republik, Menguatkan Rakyat: Pancasila sebagai Jalan Kebangsaan" tak sekadar ajang temu kangen, tetapi menjadi ruang konsolidasi ideologis dan refleksi peran kader-kader nasionalis di era disrupsi yang mengikis nilai nilai luhur pancasila.
SURABAYA, SJP – Bulan Juni selalu menjadi momen reflektif bagi bangsa Indonesia. Di bulan inilah tiga peristiwa penting terkait Bung Karno terjadi. 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila, 6 Juni sebagai hari kelahiran Bung Karno, dan 21 Juni sebagai hari wafatnya sang proklamator bangsa Indonesia.
Ketua PA GMNI Jatim periode 2021–2026, Denny Wicaksono, di Gedung Balai Pemuda, Surabaya, Ahad (8/6/2025) menyatakan, dalam semangat itulah, Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Jawa Timur menggelar sarasehan kebangsaan bertajuk “Merawat Republik, Menguatkan Rakyat: Pancasila sebagai Jalan Kebangsaan”.
Kegiatan pertemuan ini, sambung Denny, tak sekadar ajang temu kangen, tetapi menjadi ruang konsolidasi ideologis dan refleksi peran kader-kader nasionalis di era disrupsi yang mengikis nilai-nilai luhur Pancasila.
“Intinya, temu kangen sesama kader, baik aktif maupun sudah alumni, bertujuan satu visi misi sekaligus diskusi untuk merumuskan kembali arah pergerakan, khususnya bagi kader GMNI se-Jawa Timur,” terangnya.
Ia menekankan bahwa, Pancasila bukan sekadar slogan, tetapi harus diterjemahkan dalam gerakan nyata, baik melalui kerja-kerja sosial, pengawasan kebijakan, maupun kritik konstruktif terhadap kekuasaan.
“Kami mendukung program pemerintah yang berpihak kepada rakyat, tetapi kami juga mendorong kader GMNI untuk tetap bersikap kritis dan aktif mengawasi pelaksanaannya,” tegas Denny.
Menurutnya, program yang dirancang dengan niat baik pun bisa meleset di tataran pelaksanaan. Maka dari itu, GMNI hadir sebagai kekuatan pengimbang, bukan penentang semata, melainkan penjaga nurani publik dan suara rakyat.
Di tengah forum tersebut, Denny juga menyampaikan bahwa makna "Marhaen" tidak lagi terbatas pada sosok petani kecil seperti dalam konsep awal Bung Karno.
"Hari ini, Marhaen adalah setiap kelompok masyarakat yang tersisih dan mengalami ketidakadilan struktural," tuturnya mengisahkan cerita sejarah tertanam semangat ideologi bangsa berdasar nilai luhur Pancasila agung yang diikrarkan sang proklamator bangsa Indonesia.
“Kalau dulu Marhen itu petani kecil yang tertindas, sekarang Marhaen adalah masyarakat kecil yang kehilangan akses dan keadilan,” jelasnya.
Menjaga Relevansi Pemikiran Bung Karno
Pelaksana tugas Gubernur Jawa Timur periode 2019-2024, Emil Elestianto Dardak, turut hadir dalam sarasehan tersebut.
Ia menekankan pentingnya aktualisasi pemikiran Bung Karno di tengah perubahan zaman, terutama saat bangsa ini dihadapkan pada tantangan ekonomi dan transformasi digital.
“Hari ini banyak orang merasa terjepit secara ekonomi, padahal realitas itu seharusnya bisa dijawab dengan prinsip-prinsip yang kokoh,” ujar Emil dalam pidatonya.
Ia menyoroti fenomena disrupsi digital, termasuk ancaman terhadap lapangan kerja akibat otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI).
Menurutnya, problematika ini justru menegaskan urgensi untuk membaca ulang gagasan ekonomi Bung Karno yang berpihak pada rakyat kecil.
“Kalau dulu soal buruh dan tani, sekarang orang galau karena pekerjaannya digantikan mesin dan AI,” katanya.
Emil menambahkan, kader GMNI kini tersebar di berbagai lini, dari birokrasi hingga dunia usaha. Namun tetap menyuarakan semangat nasionalisme yang berakar pada nilai-nilai Bung Karno.
“Mereka menyebar ke mana-mana, tapi punya benang merah: setia pada pemikiran Bung Karno dan semangat kebangsaan,” ujar Emil.
Ia juga mengingatkan bahwa nilai-nilai seperti toleransi dan gotong royong bukanlah sesuatu yang otomatis lestari. Apalagi, di era media sosial saat ini, masyarakat mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu benar.
“Kita bisa mudah tersulut karena informasi yang belum akurat. Jangan buru-buru menyimpulkan sebelum tabayun,” ucap Emil.
Pendidikan Karakter dan Keteladanan Sosial
Dalam forum ini pula, Emil menekankan pentingnya keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan karakter bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga lingkungan keluarga dan masyarakat.
“Memberi keteladanan pada anak-anak adalah kerja kolektif lintas generasi. Di Jawa Timur, nilai-nilai ini dirawat turun-temurun, tapi tantangannya semakin berat,” katanya.
Dengan demikian, lanjut Emil, menyerukan forum sarasehan ini bukan sekadar refleksi simbolik. Ini adalah cermin dari semangat berbangsa yang hidup.
"Pancasila tak berhenti di seremoni, tetapi menjadi pandu tindakan. Marhaenisme tak mandek di teks lama, tapi terus diperbarui sesuai tantangan zaman.
“Warisan Bung Karno bukan dokumen mati. Ia harus terus dibaca ulang dan disegarkan agar tetap relevan,” pungkas Emil. (**)
Editor: Rizki Ardian
What's Your Reaction?

