Operator Crane Tersengat Listrik Saat Bongkar Tiang Beton di Sukosewu-Bojonegoro, Proyek BBWS Jadi Sorotan
Akibat sengatan tersebut, Johan mengalami luka bakar di bagian jari tangan dan sempat tak sadarkan diri di lokasi kejadian. Warga sekitar yang menyaksikan kejadian sontak panik dan segera mengevakuasi korban ke puskesmas setempat. Ia kemudian dirujuk ke rumah sakit guna mendapatkan perawatan medis lebih lanjut.
BOJONEGORO,SJP- Kecelakaan kerja nyaris merenggut nyawa operator crane dalam proyek rehabilitasi jaringan irigasi Sungai Pacal, Jumat siang (4/7/2025).
Insiden ini terjadi saat proses pembongkaran tiang pancang beton di lapangan Desa Tegalkodo, Kecamatan Sukosewu, Bojonegoro.
Korban diketahui bernama Johan Satrio, warga Desa Puter, Kecamatan Kembangbahu, Kabupaten Lamongan. Ia tersengat listrik saat tuas crane yang dioperasikannya secara tak sengaja menyentuh kabel tegangan tinggi milik PLN yang melintang di tepi jalan.
Akibat sengatan tersebut, Johan mengalami luka bakar di bagian jari tangan dan sempat tak sadarkan diri di lokasi kejadian.
Warga sekitar yang menyaksikan kejadian sontak panik dan segera mengevakuasi korban ke puskesmas setempat. Ia kemudian dirujuk ke rumah sakit guna mendapatkan perawatan medis lebih lanjut.
“Kami kaget, tiba-tiba terdengar teriakan dan korban langsung tumbang. Katanya tuas crane kena kabel listrik pas nurunin tiang beton,” ungkap Siti, warga sekitar yang berada di lokasi saat kejadian, kepada Suarajatimpost.com.
Petugas dari Polsek Sukosewu segera turun tangan usai menerima laporan dari pihak pemerintah desa setempat. Kapolsek Sukosewu, AKP Achmad Nurul Hidayat, membenarkan bahwa kecelakaan terjadi saat proses bongkar muatan oleh truk crane.
“Tuas crane menyentuh kabel tegangan tinggi, arus langsung mengalir ke bodi kendaraan dan menyetrum operator. Ini murni kecelakaan kerja,” terang AKP Nurul.
Sementara itu, pihak pelaksana proyek yakni PT Tiara Multi Teknik, yang memenangi tender rehabilitasi jaringan irigasi senilai Rp57 miliar lebih dari BBWS Bengawan Solo, turut buka suara.
Salah seorang pekerjanya menyebut bahwa crane milik vendor penyuplai beton salah perhitungan saat mengayun muatan.
“Kayaknya tuasnya salah ayun. Teman-teman di lokasi sudah teriak-teriak memperingatkan, tapi kejadian tetap nggak bisa dihindari. Untung korban selamat,” kata Arman, pekerja proyek, saat dikonfirmasi Suarajatimpost.com di lapangan Desa Tegalkodo.
Kepala Desa Tegalkodo, Tomy Listiono, menyayangkan minimnya komunikasi dari pihak kontraktor terhadap pemerintah desa. Padahal, lokasi penumpukan material proyek yang digunakan adalah aset desa.
“Kami justru tahu dari warga, bukan dari pihak pelaksana. Seharusnya koordinasi itu dijaga, apalagi kami sudah bantu fasilitasi lapangan untuk penyimpanan material. Ini proyek negara, ya tolong dijaga juga etikanya,” ujar Kades Tomy dengan nada kecewa.
Peristiwa ini membuka sorotan terhadap aspek keselamatan kerja dalam proyek-proyek berskala besar, terutama saat pengerjaan melibatkan alat berat di lingkungan permukiman padat penduduk.
"Diharapkan ke depan, koordinasi dan pengawasan lebih ketat dilakukan agar kejadian serupa tak terulang," pungkasnya. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

