Menjemput Keadilan Sosial Lewat Pendidikan: Petra Mengajar V Hadirkan Harapan bagi Anak Prasejahtera Surabaya
Di tengah keterbatasan, ratusan anak prasejahtera di Surabaya menemukan harapan baru lewat tangan mahasiswa yang mengajar, menghadirkan pendidikan inklusif sebagai wujud nyata keadilan sosial.
SURABAYA, SJP - Sila kelima Pancasila berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Namun di sudut-sudut kota besar seperti Surabaya, cita-cita itu masih terus diperjuangkan, terutama dalam hal akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera.
Di tengah kesenjangan tersebut, sekelompok mahasiswa tidak hanya menunggu pihak-pihak tertentu untuk bergerak, melainkan memilih untuk hadir secara langsung dan membawa harapan, bukan sekadar lewat teori, tetapi melalui aksi nyata di lapangan.
Adalah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Kristen Petra yang kembali menggelar program Petra Mengajar V, sebuah gerakan sosial yang berfokus pada pendidikan informal bagi anak-anak dari komunitas marginal. Program itu menjadi upaya konkret untuk menjembatani ketimpangan akses belajar, sekaligus menanamkan nilai karakter dan pengenalan teknologi sejak dini.
Selama satu pekan, mulai 24 hingga 30 April 2026, sebanyak 192 mahasiswa yang tergabung dalam 64 kelompok diterjunkan langsung ke berbagai titik di Surabaya. Mereka mengajar sekitar 1.000 anak yang tersebar di tujuh sekolah dan enam komunitas binaan dua mitra sosial, yakni Yayasan Indonesia Sejahtera Barokah (YISB) dan Yayasan Pondok Kasih.
Ketua Petra Mengajar V, Fedilia Yanson Widio, menjelaskan skala kegiatan tersebut sebagai bentuk komitmen mahasiswa dalam menjangkau lebih banyak anak yang membutuhkan akses pendidikan.
"Total ada tujuh sekolah, dan enam komunitas yang kami kunjungi," ujar Yanson, Kamis (30/4/2026).
Di lapangan, realitas yang dihadapi para mahasiswa begitu beragam. Salah satunya terlihat di Komunitas Makam Mataram yang menjadi salah satu lokasi program Petra Mengajar V. Di tempat itu, anak-anak berusia 3 hingga 15 tahun belajar dalam keterbatasan.
Sebagian sudah mengenyam pendidikan formal, namun tidak sedikit yang masih berjuang mendapatkan akses sekolah. Mayoritas orang tua mereka bekerja sebagai pembersih makam, dengan penghasilan yang terbatas.
Di tengah kondisi tersebut, setidaknya 15 mahasiswa hadir mengajar sekitar 60 anak dengan pendekatan yang jauh dari kata kaku. Mereka membawa metode belajar yang interaktif, menyenangkan, dan membumi, salah satunya melalui kegiatan melukis tanpa kuas. Anak-anak diajak mengekspresikan diri menggunakan jari, tangan, hingga spons di atas kertas gambar.
Gelak tawa dan wajah penuh antusias menjadi pemandangan yang mendominasi sesi belajar tersebut. Bagi anak-anak, itu bukan sekadar kelas, melainkan pengalaman baru yang membebaskan mereka untuk belajar sambil bermain.
Namun di balik keceriaan itu, ada proses panjang yang dilalui para mahasiswa sebelum turun ke lapangan. Mereka terlebih dahulu mendapatkan pembekalan dalam dua tahap. Tahap awal dilakukan bersama dosen pembimbing dan tim panitia, sementara tahap lanjutan melibatkan langsung perwakilan dari YISB dan Yayasan Pondok Kasih.
Pembekalan tersebut tidak hanya berisi teori mengajar, tetapi juga pendekatan praktis dalam menghadapi karakter anak-anak dari berbagai latar belakang sosial. Mahasiswa dilatih untuk adaptif, empatik, dan kreatif dalam menyampaikan materi.
Setiap kelompok bahkan ditugaskan untuk menyusun buku materi ajar sebagai panduan selama kegiatan berlangsung. Buku tersebut kemudian tidak berhenti sebagai dokumen internal, melainkan menjadi bagian dari kontribusi berkelanjutan program.
Sebagai tahap akhir, seluruh buku materi dikumpulkan dalam bentuk fisik dan disumbangkan ke sekolah-sekolah serta program Mobil Pintar milik Yayasan Pondok Kasih. Mobil Pintar sendiri merupakan perpustakaan berjalan sekaligus ruang belajar keliling yang selama ini menjadi tumpuan pendidikan alternatif bagi anak-anak di wilayah marginal.
Koordinator Pencerdasan Anak Bangsa (PAB) Yayasan Pondok Kasih, Anita Prasetia Rahayu, mengakui bahwa kehadiran mahasiswa dalam program ini membawa dampak nyata.
"Kami sangat terbantu dengan adanya Petra Mengajar, khususnya dalam project Mobil Pintar. Melalui kegiatan mengajar dan pemberian edukasi yang bermanfaat, kehadiran mahasiswa memberi dampak positif yang signifikan bagi anak-anak," ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa manfaat yang diterima anak-anak tidak hanya sebatas ilmu, melainkan juga donasi alat tulis.
"Kami juga bersyukur karena selain mendapat pembelajaran, anak-anak turut menerima donasi alat tulis yang mendukung proses belajar mereka," pungkas Anita.
Petra Mengajar V pada akhirnya bukan sekadar program pengabdian masyarakat biasa. Ia menjadi refleksi nyata bahwa semangat gotong royong dan kepedulian sosial masih hidup di kalangan generasi muda. Ketika pendidikan belum sepenuhnya merata, langkah-langkah kecil seperti ini justru menjadi jembatan penting menuju keadilan sosial yang lebih luas. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

