Menjelang Magrib di Penghujung Ramadan, Dapur SPPG Buduan Situbondo Berbagi Takjil

Gerimis tak menghalangi karyawan Dapur SPPG Buduan berbagi ratusan takjil kepada pengguna jalan, menghadirkan kehangatan Ramadan di tengah cuaca mendung.

18 Mar 2026 - 22:23
Menjelang Magrib di Penghujung Ramadan, Dapur SPPG Buduan Situbondo Berbagi Takjil
Bagi-bagi takjil di depan Dapur SPPG Buduan Suboh Situbondo (Foto : Rizqi/SJP)

SITUBONDO, SJP – Rintik gerimis yang turun perlahan di sore hari itu justru menghadirkan suasana syahdu di bulan suci Ramadan. Di tengah langit mendung dan jalanan yang mulai basah, sekelompok karyawan Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Buduan, Kecamatan Suboh, tetap berdiri di tepi jalan, menanti waktu berbuka dengan cara yang berbeda untuk berbagi.

Rabu (18/3/2026), menjelang azan magrib, tangan-tangan mereka sibuk menyodorkan paket takjil kepada para pengguna jalan. Pengendara motor, mobil, hingga pejalan kaki yang melintas seakan mendapat “hadiah kecil” di tengah perjalanan yang menjadi sebuah pengingat bahwa Ramadan selalu punya cara menghadirkan kehangatan, bahkan di bawah gerimis.

Tak ada raut lelah di wajah para relawan. Meski sesekali harus menepi menghindari cipratan air dari kendaraan yang melaju, mereka tetap tersenyum, menyapa setiap penerima takjil dengan ramah.

Ratusan paket sederhana berisi nasi kotak, mi instan, dan minuman dibagikan dengan cepat dan tertib. Namun lebih dari sekadar isi, ada ketulusan yang ikut terbungkus di dalamnya.

Owner Dapur SPPG Buduan, H. Rustendi, mengatakan, kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar berbagi kebahagiaan di penghujung Ramadan 1447 Hijriah, terutama bagi mereka yang belum sempat sampai rumah saat waktu berbuka tiba.

“Gerimis bukan halangan bagi kami untuk tetap berbagi. Justru di momen seperti ini, kami ingin menghadirkan kebahagiaan sederhana bagi saudara-saudara kita yang masih di perjalanan,” tuturnya.

Baginya, takjil bukan sekadar makanan pembuka puasa, melainkan simbol kepedulian dan kebersamaan. Di tengah kesibukan dan kondisi cuaca yang tak menentu, aksi kecil ini diharapkan mampu mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.

“Kami ingin Ramadan ini terasa lebih hangat. Semoga apa yang kami lakukan membawa berkah dan memperkuat rasa kebersamaan,” tambahnya.

Di sisi lain, para penerima takjil pun merasakan manfaat nyata. Beberapa pengendara mengaku terbantu, terutama karena hujan membuat mereka harus memperlambat perjalanan.

Sementara itu, para relawan tetap sigap mengatur pembagian agar tidak mengganggu arus lalu lintas. Dengan cekatan, mereka memastikan setiap paket tersalurkan tanpa menimbulkan kemacetan.

Di tengah gerimis yang tak kunjung reda, senyum, sapa, dan uluran tangan itu menjadi pemandangan yang menyejukkan. Sebuah potret sederhana tentang Ramadan, bahwa di balik langit mendung, selalu ada kehangatan yang mengalir dari kepedulian sesama. (**)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow