Menjaga Maslahah Jam'iyah, KH Habib Musthofa Alaydrus Ungkap Fakta di Balik Rekonsiliasi PBNU
Habib Musthofa menegaskan bahwa keterlibatannya tidak didasari oleh agenda pribadi maupun kepentingan struktural tertentu. Ia memilih terminologi 'ikhtiar maslahah' ketimbang sekadar 'islah' yang sempat mengalami beberapa kali kebuntuan.
MALANG, SJP — Dinamika internal yang melanda Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) belakangan ini ditegaskan bukan sekadar upaya islah (perdamaian) antarstruktur organisasi.
Lebih dari itu, rangkaian komunikasi intensif yang melibatkan para ulama sepuh merupakan ikhtiar besar dalam menjaga kemaslahatan dan arah jam'iyah menjelang pelaksanaan Muktamar.
Hal tersebut disampaikan secara terbuka oleh KH Habib Musthofa Alaydrus guna meluruskan berbagai spekulasi yang berkembang terkait perannya dalam menjembatani komunikasi antara jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU.
Habib Musthofa menegaskan bahwa keterlibatannya tidak didasari oleh agenda pribadi maupun kepentingan struktural tertentu. Ia memilih terminologi 'ikhtiar maslahah' ketimbang sekadar 'islah' yang sempat mengalami beberapa kali kebuntuan.
"Dalam proses ini, istilah islah pertama hingga ketiga ternyata tidak sepenuhnya dapat diterima semua pihak. Saya memaknainya sebagai ikhtiar maslahah, jalan yang lebih luas karena tidak berpihak pada kelompok atau figur tertentu, melainkan untuk keselamatan NU dan umat Islam secara umum," ujar Habib Musthofa usai menghadiri sebuah agenda keagamaan di Malang, baru-baru ini.
Ketegangan di tubuh PBNU yang sempat memicu wacana Muktamar Luar Biasa (MLB) sejatinya berusaha diredam melalui dialog.
Habib Musthofa mengisahkan, rencana awal Musyawarah Kubro di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, sempat menghadapi kendala teknis dan komunikasi.
Namun, titik terang muncul saat Rais 'Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, menyatakan kesiapannya untuk hadir melalui komunikasi personal dengan Habib Musthofa.
Informasi tersebut kemudian diteruskan kepada Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf atau yang karib disapa Gus Yahya.
"Posisi saya hanyalah penyambung komunikasi (wasilah). Kiai Miftah sudah seperti guru dan ayah bagi saya, sementara Gus Yahya memiliki hubungan kekeluargaan dengan istri saya. Saya bukan pendamai; pendamai sesungguhnya adalah doa para kiai, pesantren, dan seluruh warga NU," tegasnya.
Dorongan rekonsiliasi ini mendapat dukungan moral dari deretan pesantren besar, mulai dari Lirboyo, Ploso, Tebuireng, Tambakberas, Denanyar, hingga pesantren di wilayah Jawa Tengah seperti Sarang, Rembang, dan Lasem.
Menanggapi isu MLB yang sempat menguat akibat perbedaan tafsir AD/ART dan Qanun Asasi, Habib Musthofa menilai opsi tersebut memiliki konsekuensi organisatoris yang sangat besar.
Ia meyakini bahwa baik Rais 'Aam maupun Ketua Umum pada dasarnya mengedepankan persatuan.
Langkah konkret tercapai setelah serangkaian diskusi intensif di Surabaya mengenai mekanisme pertemuan.
Puncaknya, silaturahmi formal terjadi pada Kamis pukul 10.00 WIB, yang kemudian diikuti dengan kunjungan balasan Gus Yahya beserta jajaran pengurus harian ke kediaman KH Miftachul Akhyar.
Rangkaian ikhtiar ini ditutup dengan agenda syukuran dan selawatan bersama seluruh pengurus PBNU sebagai simbol kembalinya soliditas organisasi.
Sebagai informasi, dinamika internal ini berawal dari perbedaan pandangan strategis di tingkat struktural, khususnya terkait kewenangan yang tertuang dalam risalah rapat harian Syuriyah PBNU.
Perbedaan penafsiran terhadap aturan organisasi tersebut sempat memicu kekhawatiran terhadap stabilitas jam’iyah, sebelum akhirnya jalan dialog dipilih sebagai solusi tertinggi.
"Seluruh ikhtiar ini semata-mata demi menjaga kemaslahatan NU. Selebihnya adalah kehendak Allah SWT yang ditopang oleh doa tulus warga Nahdliyin," pungkas Habib Musthofa. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

