Mengenang Dedikasi Andie Peci, Aktivis Buruh dan Pentolan Bonek yang Selalu Hadir pada Masa-Masa Sulit

Mengenang Andie Peci Kristianto, pentolan Bonek sekaligus aktivis buruh KASBI yang berpulang. Mengulas dedikasinya dalam menyelamatkan Persebaya Surabaya dan garis perjuangannya di dunia perburuhan.

12 Jul 2026 - 12:11
Mengenang Dedikasi Andie Peci, Aktivis Buruh dan Pentolan Bonek yang Selalu Hadir pada Masa-Masa Sulit
Andie Peci. (Foto: persebaya.id)

SURABAYA, SJP - Kabar duka itu datang seperti petir di siang bolong pada Jumat, 10 Juli 2026. Publik Kota Surabaya sejenak terhenyak. Andie Peci Kristianto, sosok ikonik yang selama puluhan tahun menjadi simbol perlawanan dan kesetiaan, telah mengembuskan napas terakhirnya pada pukul 11.15 WIB di RSUD dr. Mohamad Soewandhie, Surabaya.

Pria kelahiran Madiun ini berpulang, namun warisan keberaniannya tertanam abadi di rumput hijau Gelora Bung Tomo hingga aspal jalanan tempat para buruh menuntut keadilan.

Bagi masyarakat umum, Andie Peci mungkin lebih sering terlihat memegang megafon di depan ribuan Bonek. Namun, di bawah terik matahari aksi massa, ia adalah seorang ideolog dan penggerak di Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia atau KASBI.

Sebagai aktivis buruh, Andie bukanlah tipikal pemikir belakang meja. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di garis depan perlawanan kelas pekerja di Jawa Timur, mengonsolidasikan massa dari pabrik ke pabrik, memimpin demonstrasi, dan memperjuangkan upah layak serta hak-hak normatif pekerja yang kerap dikebiri.

Topi pet hitam atau peci yang selalu melekat di kepalanya bukan sekadar pelengkap penampilan, melainkan simbol marhaenisme dan identitas wong cilik yang konsisten ia bela hingga akhir hayat. Ketegasannya dalam bernegosiasi dengan korporasi dan ketakutannya yang minim terhadap represi aparat menjadikan Andie Peci sebagai salah satu tokoh buruh yang paling disegani di tingkat nasional.

Keterampilan Andie dalam mengorganisasi massa buruh menemukan panggung uniknya di dunia sepak bola. Saat Persebaya Surabaya didera konflik dualisme dan status keanggotaannya dihapus oleh PSSI, Andie Peci tidak memilih untuk berdiam diri atau sekadar menjadi penonton yang meratap.

Ia mengambil tanggung jawab terbesar dengan menjadi salah satu sosok yang berada di garis depan bersama elemen-elemen Bonek lainnya untuk memperjuangkan kembalinya Persebaya ke kompetisi resmi. Ketaatan pada prinsip membuat Andie menolak segala bentuk kompromi yang merugikan klub.

Kecintaannya yang tak bersyarat memastikan nyala api perjuangan Persebaya tetap hidup ketika federasi memalingkan muka. Puncaknya, determinasi kolektif yang ia kawal berhasil memaksa PSSI memulihkan status Persebaya hingga akhirnya kembali berlaga di kompetisi resmi pada tahun 2017.

Ketua Panitia Pelaksana pertandingan Persebaya, Ram Surahman, mengenang almarhum sebagai pribadi yang memiliki kecintaan luar biasa kepada Persebaya. "Banyak kontribusi dan perjuangan yang telah diberikan Andie untuk klub, terutama pada masa-masa sulit yang pernah dilalui Persebaya," kata Ram. 

Andie Peci dikenal sebagai figur yang selalu memegang teguh prinsip dan keyakinannya dalam memperjuangkan apa yang dianggap benar demi masa depan Persebaya. Ia adalah pribadi yang berintegritas, berani menyuarakan kebenaran, dan memiliki kepedulian besar, sehingga semangat serta dedikasi yang ditunjukkan selama ini akan selalu menjadi bagian dari perjalanan sejarah klub.

Jasad almarhum kini telah beristirahat dengan damai setelah dibawa pulang ke tanah kelahirannya untuk dimakamkan di Desa Manisrejo, Madiun. Namun, bagi Persebaya, Andie Peci tidak akan pernah benar-benar pergi.

Tepat pada laga 99th Anniversary Game menghadapi PSIS Semarang di Stadion Gelora Bung Tomo pada Minggu, 12 Juli 2026, penghormatan luar biasa diberikan kepada sang panglima. Seluruh skuad Green Force mengenakan pita hitam dan menggelar prosesi satu menit mengheningkan cipta sebelum kick-off sebagai simbol rasa hormat sekaligus doa dari seluruh keluarga besar Persebaya. Pihak manajemen ingin memberikan penghormatan terakhir atas segala dedikasi, pengorbanan, dan kecintaan yang telah ia berikan.

Selain prosesi sebelum pertandingan, Persebaya juga menyiapkan sejumlah bentuk penghormatan khusus setelah laga melawan PSIS Semarang berakhir, di mana akan diputar film pendek yang mengisahkan perjalanan dan perjuangan Andie Peci melalui videotron Stadion Gelora Bung Tomo.

Tak hanya itu, manajemen menghadirkan wall of condolences yang dapat menjadi ruang bagi Bonek, Bonita, dan seluruh elemen keluarga besar Persebaya untuk menyampaikan pesan, doa, serta ungkapan belasungkawa.

Sebuah kursi di area VIP Stadion Gelora Bung Tomo juga dikhususkan dengan pemasangan foto Andie Peci sebagai simbol bahwa sosoknya akan selalu memiliki tempat istimewa dalam perjalanan Persebaya. Penghormatan ini menjadi wujud rasa terima kasih dan penghargaan kepada sosok yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan panjang Persebaya, membuktikan bahwa di tengah perayaan menuju usia 100 tahun, Green Force tidak melupakan mereka yang turut menjaga nyala perjuangan klub hingga tetap berdiri kokoh sampai hari ini.

Selamat jalan, Cak Andie, terima kasih atas perjuangan dan cintamu untuk Persebaya. (**)

Sumber: persebaya.id

Editor: Danu

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow