Telusur Desa Pasembon, Ada Legenda Pengantin yang Hilang dan Watu Kenong

25 Nov 2023 - 07:00
Telusur Desa Pasembon, Ada Legenda Pengantin yang Hilang dan Watu Kenong
Sebuah batu besar bisa menimbulkan suara layaknya kenong, ketika dipukul dengan batu lain. (FOTO: Armandsyah/SJP).

Kabupaten Probolinggo, SJP - Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, simpan banyak kisah masa lalu yang legendaris.

Hingga kini, bahkan masih ada bangunan atau kawasan yang dikeramatkan warga.

Salah satu kisah legenda yang layak ditelusuri adalah, kisah pengantin yang hilang dan watu kenong di Desa Pasembon, Kecamatan Kotaanyar.

Ada satu kawasan perbukitan, dengan bebatuan unik yang di sisi sebelah selatan, ada sebuah batu besar, dengan lebar 4 meter dan tinggi 2 meter.

Pada satu titik di batu tersebut, jika dipukul dengan batu besi lain, akan menimbulkan bunyi “nong-nong-nong” layaknya bunyi kenong atau gamelan.

Di sebelah utaranya lagi, berjarak sekitar 200 meter ke utara, ada sungai kecil dengan sebuah pohon besar.

Di bawah pohon itu, tersebar batu kecil-kecil.

Namun jika dipukul dengan batu besi yang lain, juga menimbulkan suara “neng-nong-neng-nong”. atau mirip dengan satu set gamelan yang lebih kecil.

Sekilas, batu-batu tai nampak sama dengan batu lainnya tapi jika dipukul, akan menimbulkan suara seperti layaknya gamelan itu.

Bebatuan unik itu, disebut watu kenong oleh masyarakat sekitar.

Kisahnya berasal dari sepasang pengantin, yang hilang di kawasan tersebut, pada masa Majapahit silam.

Ada satu bukit, oleh masyarakat sekitar disebut bukit mantan (berasal dari kata ‘kemantan’ yang artinya pengantin).

“Jadi dulu itu, ada iring-iringan pengantin, saat lewat bukit itu (Bukit mantan), tiba-tiba pengantin beserta seluruh iring-iringannya itu hilang seketika,” tutur salah satu warga, Mahrus, Jumat (24/11/2023).

Setelah hilangnya pengantin dan iring-iringannya di wilayah itu, terjadi keanehan lain.

Sekitar 100 meter dari bukit mantan, ke arah selatan, muncul bebatuan besar.

Tak sama layaknya batu gunung biasa, di satu sudut batu besar dengan lebar sekitar dua meter dan tinggi empat meter, bisa menghasilkan suara.

Ketika dipukul menggunakan batu besi bBunyinya seperti kenong atau gong.

Jadi oleh warga sekitar, disebut ‘watu kenong’ atau ‘betoh kenong’.

Anehnya, ketika sudut lain, atau bagian batu yang lain dipukul, tidak keluar bunyi seperti kenong itu dan hanya suara denting layaknya batu biasa.

“Kalau kata leluhur, yang ini laki-laki. Sebelah sana itu, adalah perempuannya. Letaknya di pinggir kali, dan batu yang berbunyi juga lebih banyak. Sama warga disebutnya sebagai yang perempuan (laki-laki atau perempuan yang dimaksud, menjurus pada pasangan pengantin yang hilang misterius),” jelas Mahrus.

Selain itu, pada malam tertentu, tepatnya ketika malam Jumat Legi, biasanya dari arrea perbukitan watu kenong dan bukit mantan, kerap terdengar suara ringkih kuda.

Kuda itu, disebut warga sebagai kuda pengiring pengantin yang hilang di bukit tersebut.

Kendati menyimpan kisah misteri, namun warga setempat bisa hidup dalam harmoni.

Intinya, tetap menjaga warisan leluhur termasuk tidak sembarangan atau sopan santun tetap dijaga kendati berada di alam bebas.

Seperti perbukitan desa setempat atau di tengah hutan sekalipun. (*)

editor: trisukma

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow