Melihat Perajin Tenun Ikat Tradisional Gresik yang Terancam Krisis Regenerasi

Kerajinan tenun ikat tradisional di Kabupaten Gresik, Jawa Timur terancam punah. Generasi muda yang ada enggan meneruskan, mereka lebih memilih kerja di pabrik atau kantoran dengan gaji uang pasti.

08 Jun 2025 - 15:18
Melihat Perajin Tenun Ikat Tradisional Gresik yang Terancam Krisis Regenerasi
Foto: Kastari memamerkan hasil kerajinan tenun ikat tradisional asal Kabupaten Gresik. (Foto: isimewa)

GRESIK, SJP — Kerajinan tenun ikat ikat tradisional asal Kabupaten Gresik, Jawa Timur, masih dilestarikan oleh sejumlah warga di Desa Kambingan, Kecamatan Cerme.

Seperti halnya, Kastari (70) salah seorang warga Desa Kambingan setempat sudah mendedikasikan hidupnya lebih dari tiga dekade demi melestarikan tradisi kerajinan tersebut. 

Sejak tahun 1989, Kasturi memilih jalan mandiri. Ia meninggalkan pekerjaannya di pabrik tenun terbesar di Gresik dan memulai usaha rumahan dengan mengandalkan keterampilan serta alat tenun tradisional yang dimilikinya.

Dengan tekad kuat, ia menggandeng 30 penenun lokal sebagian besar perempuan lansia untuk bersama-sama menggerakkan roda produksi.

“Awal usaha memang berat, tapi saya tak ingin terus bergantung. Saya ingin tenun ini menjadi milik kami sendiri,” kata Kasturi, kepada Suarajatimpost.com, Ahad (8/6/2025).

Kasturi menceritakan, bahwa usahanya sempat mencapai masa keemasan pada era reformasi 1998. Sarung tenun produksinya diminati hingga ke Arab Saudi dan Somalia. Namun, kejayaan itu perlahan memudar, apalagi saat pandemi Covid-19 melanda.

Permintaan tenun ikat produksi Kastari anjlok drastis, sementara harga bahan baku terutama sutra melambung hingga Rp 5,3 juta per 5 kilogram.

“Kami tetap bertahan agar sarung tenun tradisional ini tidak punah,” ujarnya.

Kini, produksi Kastari hanya menyasar pasar lokal seperti Surabaya, Jember, dan beberapa kota di Jawa Timur.

Dalam sebulan, ia bersama timnya mampu memproduksi sekitar 60 potong kain tenun. Tenun jenis goyor dijual mulai Rp175 ribu, sedangkan jenis es lilin berbahan sutra dihargai hingga Rp300 ribu.

Namun tantangan bukan hanya soal pasar. Minimnya regenerasi menjadi masalah serius. Generasi muda tak tertarik melanjutkan tradisi ini.

“Anak-anak muda lebih memilih kerja di pabrik. Gajinya pasti, jam kerjanya jelas,” ungkap Kastari.

Saat ini, sebagian besar tenaga kerjanya adalah lansia yang kerap absen karena hajatan, panen, atau mengasuh cucu. Pemasaran pun masih dilakukan secara konvensional mengandalkan relasi, promosi dari mulut ke mulut, dan nomor ponsel.

“Kami belum bisa masuk ke pasar online. Tidak ada yang bantu,” tambahnya.

Meski dihadapkan pada tantangan zaman dan modernisasi, Kastari tak pernah menyerah. Ia tetap setia menenun dengan tangan. Bagi Kasturi, ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk kecintaan pada warisan leluhur yang tak boleh sirna.

“Selama saya masih sanggup, saya akan terus menenun. Ini adalah hidup saya,” pungkasnya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow