Melalui Program Pengabdian Masyarakat, Dosen FKIP UKWMS Ajarkan Teknik Berpikir Komputasional

Berpikir komputasional memiliki empat prinsip yaitu Algoritma, Abstraksi, Dekomposisi, dan Pengenalan Pola (AADP). Algoritma, yaitu menentukan langkah demi langkah solusi untuk mengatasi masalah.

10 Oct 2023 - 23:15
Melalui Program Pengabdian Masyarakat, Dosen FKIP UKWMS Ajarkan Teknik Berpikir Komputasional
Foto bersama usai pelaksanaan Abdimas oleh Dosen FKIP (Humas UKWMS)

Surabaya, SJP - Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (FKIP UKWMS) mengadakan program pengabdian masyarakat, dengan turun langsung ke berbagai sekolah untuk mengenalkan teknik berpikir komputasional yang mampu meningkatkan keterampilan guru dalam memecahkan masalah pembelajaran.

Berpikir Komputasional (BK) sendiri merupakan cara untuk memecahkan masalah yang diperlukan untuk memahami masalah dan merumuskan solusi.

Kurikulum Merdeka menyatakan bahwa BK bisa diintegrasikan dalam tema atau mata pelajaran sekolah dengan harapan siswa akan mampu berpikir kritis, mandiri, dan kreatif dalam memecahkan suatu masalah.

Kegiatan pengabdian masyarakat yang bekerja sama dengan guru KB/TK, SD, dan SMP ini mengusung tema "Berpikir Komputational dan Penginfusan Prinsip-Prinsip BK ke dalam mata pelajaran" dan sudah dimulai sejak bulan Juli hingga Oktober 2023.

Kegiatan dari program pengabdian masyarakat ini terdiri dari seminar lokakarya (Semlok) BK, pelatihan dan pendampingan penginfusan prinsip-prinsip BK ke dalam mata pelajaran sekolah.

Salah satu sekolah yang menjadi lokasi kegiatan adalah sekolah di bawah naungan Yayasan Yohanes Gabriel Sub-Perwakilan Tuban.

“Semlok, pendampingan, dan penerapannya diberikan dalam bentuk unplugged, dimana semua kegiatan diberikan tanpa menggunakan komputer dan internet. Kegiatan unplugged berbasis aktivitas fisik, dapat dilakukan menggunakan instrumen sederhana, murah, dan mudah ditemukan. Seperti permainan edukatif, dadu, teka-teki, gambar, dan aktivitas rekaman berbasis permainan,” jelas Kristin Anggraini, salah seorang tim Abdimas, Selasa (10/10/2023).

Berpikir komputasional memiliki empat prinsip yaitu Algoritma, Abstraksi, Dekomposisi, dan Pengenalan Pola (AADP). Algoritma, yaitu menentukan langkah demi langkah solusi untuk mengatasi masalah.

 Abstraksi, fokus pada informasi yang penting saja dan mengabaikan informasi lain yang tidak relevan. Dekomposisi, mengurai masalah yang kompleks menjadi bagian-bagian kecil sehingga lebih mudah untuk ditangani. Pengenalan, Pola mencari persamaan atau pola yang terdapat di dalam permasalahan.

Setelah prinsip-prinsip BK dipahami, pelatihan dilanjut dengan memberikan contoh model rancangan modul sederhana untuk satu pertemuan. Infus BK ada pada rumusan tujuan pembelajaran, materi ajar, strategi pembelajaran, dan alat evaluasi.

Untuk membantu peserta mengintegrasikan (menginfus) BK, taxonomi Bloom dan BK, serta silabus mata pelajaran dalam Kurikulum Merdeka (KM) diberikan sebagai referensi. 

Dalam latihannya, para peserta diminta untuk menganalis dan menemukan topik yang kaya dengan prinsip-prinsip BK. Seperti Preparing Ice Tea untuk pelajaran Bahasa Inggris. “Memilah sampah organik dan anorganik” untuk pelajaran Bahasa Indonesia, “Menu makanan” untuk pelajaran IPA. 

Setelah menemukan topik bahasan, capaian pembelajaran dalam KM dijabarkan menjadi beberapa Tujuan Pembelajaran (TP) yang diinfus dengan BK. Berdasarkan TP, materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan alat evaluasi dikembangkan. 

Sebelumnya, para perserta melakukan kegiatan micro teaching yakni pelaksanaan persiapan yang ditulis dalam modul dilatihkan. Para guru begitu antusias, karena ada hal baru yaitu mengajar dengan contoh nyata dalam kehidupan dan mengajak siswa aktif berpikir dan berpartisipasi. 

Terakhir adalah pelaksanaan pembelajaran dengan modul ajar yang telah diinfus dengan BK. Guru semangat dalam mengajar dan para siswa diajak untuk berpikir kritis dan mencari solusi penyelesaian masalah. 

“Kerja sama ini telah memberikan kontribusi positif bagi peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah-sekolah kami. Materi dan media pembelajaran yang dikembangkan, sangat membantu guru-guru dalam menjalankan proses pembelajaran yang lebih interaktif dan menyenangkan bagi siswa,” jelas Dyane Subekti, Perwakilan Yayasan Yohanes Gabriel Sub-Perwakilan Tuban yang mengapresiasi kegiatan ini.

Tim dosen UKWMS yang terlibat dalam program pengabdian masyarakat ini juga merasa senang karena dapat berkontribusi secara langsung dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

“Melalui program pengabdian masyarakat ini, kami berharap dapat memberikan inspirasi dan pengetahuan baru kepada guru-guru dalam menggunakan teknologi dan media pembelajaran untuk berpikir kritis dan dapat memecahkan permasalahan dengan baik.” ungkap Dr. Ignatius Harjanto, selaku ketua tim Abdimas.

Kolaborasi ini juga diharapkan akan terus berlanjut dan berdampak positif bagi proses pembelajaran di sekolah-sekolah. Selain itu, menjadi contoh bagi institusi pendidikan lainnya dalam melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang bermanfaat untuk kemajuan Pendidikan di Indonesia. (*)

Editor : Queen Ve

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow