AS Tawarkan Rp159 Miliar untuk Tangkap Hacker China yang Gelembungkan Keamanan Global
Pemerintah AS mengumumkan hadiah senilai US$ 10 juta (sekitar Rp 159 miliar) bagi siapa saja yang dapat memberikan informasi yang mengarah pada penangkapan hacker China, Guan Tianfeng
Suarajatimpost.com - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengumumkan hadiah senilai US$ 10 juta (sekitar Rp 159 miliar) bagi siapa saja yang dapat memberikan informasi yang mengarah pada penangkapan hacker China, Guan Tianfeng. Guan dituduh terlibat dalam peretasan sistem keamanan komputer global yang melibatkan serangan besar-besaran.
Guan, yang diyakini berada di Provinsi Sichuan, China, didakwa dengan konspirasi penipuan komputer dan penipuan melalui jaringan telekomunikasi. Departemen Luar Negeri AS mengungkapkan bahwa Guan bekerja untuk perusahaan Sichuan Silence Information Technology, yang telah dikenakan sanksi oleh Departemen Keuangan AS. Menurut dakwaan, Guan dan timnya mengeksploitasi kerentanan pada firewall yang diproduksi oleh Sophos, perusahaan keamanan siber asal Inggris.
“Terdakwa dan rekan konspiratornya mengeksploitasi kerentanan pada puluhan ribu perangkat keamanan jaringan, menginfeksinya dengan malware untuk mencuri data penting dari seluruh dunia,” jelas Wakil Jaksa Agung AS, Lisa Monaco.
Serangan ini dimulai pada April 2020, ketika sekitar 81.000 perangkat firewall diserang, termasuk 23.000 di AS, dengan 36 di antaranya melindungi infrastruktur kritis. Tujuan serangan ini adalah untuk mencuri data penting seperti nama pengguna dan kata sandi serta menyebarkan ransomware.
Federal Bureau of Investigation (FBI) juga mengungkapkan bahwa kerentanan yang dimanfaatkan oleh Guan dan rekan-rekannya, yang dikenal dengan istilah zero-day, bisa menyebabkan kerusakan yang lebih besar jika tidak segera diperbaiki oleh Sophos. Herbert Stapleton, agen FBI, mengapresiasi respons cepat Sophos dalam menangani masalah ini.
Sichuan Silence, tempat Guan bekerja, juga diduga menjual layanan dan data hasil peretasan kepada berbagai bisnis dan lembaga pemerintah China, termasuk Kementerian Keamanan Publik. Ketika dihubungi media, perwakilan dari Sichuan Silence menolak memberikan komentar dan menyatakan bahwa mereka tidak dapat menghubungi Guan. (**)
sumber: beritasatu.com
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

