Ribuan Porsi MBG di Tanjunganom Nganjuk Ditarik Mendadak, Diduga Berpotensi Keracunan
Sebanyak 2.500 porsi Makan Bergizi Gratis di MI dan SDN se-Kecamatan Tanjunganom, Nganjuk, ditarik mendadak akibat dugaan kesalahan teknis dan antisipasi potensi keracunan siswa.
NGANJUK, SJP – Ribuan porsi makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan ke MI dan SDN se-Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, ditarik kembali pada Senin (8/12/2025). Penarikan tersebut dilakukan setelah muncul laporan dugaan adanya sabotase dan kesalahan teknis dalam pendistribusian.
Disebutkan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menarik kembali sekitar 2.500 porsi MBG guna memastikan distribusi makanan bergizi tetap sesuai standar yang ditetapkan.
Kepala Yayasan Perguruan Daya Muda Al Islam Miftahul Huda menjelaskan, informasi pembatalan MBG diterima melalui grup internal guru. Ia menyebutkan adanya kesalahan teknis sehingga program tersebut dibatalkan secara mendadak pada hari yang sama.
“Memang ada kesalahan teknis, dan tiba-tiba dibatalkan pada hari itu juga,” kata Miftahul Huda saat ditemui di kelas, Senin (15/12/2025).
Menurutnya, informasi yang diterima pihak sekolah hanya sebatas pemberitahuan internal. Secara teknis, pihaknya tidak mengetahui secara rinci penyebab pembatalan tersebut. Langkah penarikan dilakukan sebagai upaya antisipasi, terutama untuk mencegah kemungkinan terjadinya keracunan pada siswa.
“Yang disampaikan kepada kami hanya melalui grup internal guru. Secara teknis saya juga tidak paham, namun untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, langsung dibatalkan,” ujarnya.
Miftahul menambahkan, jumlah sekolah penerima MBG di wilayah tersebut terdiri dari lima SDN dan empat MI, sehingga total ada sembilan sekolah di Kecamatan Kampungbaru yang terdampak penarikan.
“Ini semata-mata untuk mengantisipasi adanya dugaan keracunan,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan YN, warga Dusun Takat, Desa Kampungbaru. Ia menyebutkan bahwa menu MBG pada hari itu tidak seperti biasanya. Menurutnya, ikan lele yang disajikan terlihat segar, namun masih terdapat kotoran di dalam perut ikan sehingga dinilai kurang layak dan diduga ada makanan yang sudah basi.
“Menunya sebenarnya baik, ikannya juga segar, tapi masih ada kotoran di dalam perut ikan lele. Itu yang membuat tidak layak,” kata YN saat ditemui di rumahnya.
Ia menjelaskan, MBG sebenarnya sudah didistribusikan ke sekolah-sekolah, namun belum sempat dikonsumsi oleh para siswa karena langsung ditarik kembali pada hari yang sama.
“Sudah dibagikan ke sekolah, tapi langsung ditarik semuanya. Diduga salah satu menu sudah basi,” terangnya.
Sementara itu, Imam, pemilik dapur MBG, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon membantah keterlibatannya dalam persoalan tersebut. Ia menegaskan bahwa penarikan makanan bukan menjadi domainnya dan meminta agar konfirmasi diarahkan kepada Kepala Dapur.
“Saya pemilik dapur, tapi kalau soal teknis penarikan itu bukan urusan saya. Silakan konfirmasi ke Kepala Dapur,” ujarnya dengan nada tinggi.
Ia juga menegaskan bahwa Program MBG merupakan program pemerintah pusat, namun pelaksanaan teknis di lapangan dikelola oleh mitra daerah. Pihaknya, kata Imam, hanya menyediakan dapur dan tidak terlibat dalam teknis pendistribusian.
“Saya sudah sampaikan, Anda salah alamat,” pungkasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

