Mangkrak Sejak Dibangun, Revitalisasi Resi Gudang Sumberwringin Bondowoso Butuh Rp2 Miliar

Bangunan Resi Gudang di Kecamatan Sumberwringin, Bondowoso, yang dibangun sejak era Bupati Amin Said Husni kini terbengkalai dan mengalami kerusakan parah. Diskoperindag Bondowoso menyiapkan langkah revitalisasi bertahap agar fasilitas bernilai miliaran rupiah itu kembali berfungsi mendukung petani dan UMKM kopi.

24 May 2026 - 13:17
Mangkrak Sejak Dibangun, Revitalisasi Resi Gudang Sumberwringin Bondowoso Butuh Rp2 Miliar
Sentra industri kopi terpadu, sebuah kompleks resi dan pengelolaan kopi di Sumberwringin Bondowoso yang terbengkalai (Foto : Google maps/SJP)

BONDOWOSO, SJP - Bangunan Sistem Resi Gudang (SRG) di kompleks sentra industri kopi terpadu yang berada di Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso, yang dibangun pada era kepemimpinan Bupati Amin Said Husni sekitar tahun 2014 hingga 2016, kini kondisinya memprihatinkan. Fasilitas yang digadang-gadang menjadi pusat penyangga komoditas pertanian dan penguatan akses pembiayaan petani itu bertahun-tahun terbengkalai dan belum berfungsi optimal.

Gudang yang dibangun menggunakan anggaran miliaran rupiah tersebut awalnya diproyeksikan menjadi bagian dari penguatan tata niaga komoditas unggulan Bondowoso, khususnya kopi arabika kawasan Ijen-Raung. Dengan keberadaan sistem resi gudang, petani diharapkan dapat menyimpan hasil panennya untuk mendapatkan nilai jual lebih baik tanpa harus menjual saat harga anjlok.

Namun dalam perjalanannya, fasilitas tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Minimnya pengelolaan, lemahnya kelembagaan, hingga kerusakan fisik bangunan membuat operasional resi gudang berhenti. Kini, sejumlah bagian bangunan mengalami kerusakan cukup parah, mulai dari tembok retak, kaca pecah, hingga fasilitas penunjang yang tidak lagi layak digunakan.

Kondisi itu kini menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) untuk kembali menghidupkan fungsi resi gudang sebagai penopang ekonomi petani dan pelaku UMKM kopi.

Kepala Diskoperindag Bondowoso, Hergiar Yuli Pramanto, menegaskan, revitalisasi Resi Gudang Sumberwringin menjadi salah satu pekerjaan rumah penting pemerintah daerah.

Menurut Hergiar, pihaknya telah berkomunikasi dengan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan terkait upaya menghidupkan kembali fungsi resi gudang tersebut. Saat ini, kondisi fisik bangunan disebut membutuhkan perbaikan serius sebelum dapat kembali dioperasikan.

“Resi gudang Bondowoso ini permasalahannya memang ada pada kondisi fisik bangunan yang mengalami kerusakan dan membutuhkan pendanaan untuk perbaikan. Kami akan mencoba mengusulkan penganggarannya agar bisa masuk paling cepat pada 2027,” ujarnya, Ahad (24/6/2026).

Ia menjelaskan, selain perbaikan fisik gedung, penguatan kelembagaan pengelola juga menjadi hal penting agar sistem resi gudang dapat berjalan optimal. Pengelolaan nantinya dimungkinkan bekerja sama dengan institusi yang memiliki kapasitas menjalankan sistem resi gudang.

“Kalau gedungnya sudah bagus dan kelembagaannya berjalan, maka resi gudang bisa kembali berfungsi. Nantinya petani bisa menyimpan komoditasnya di gudang, memperoleh resi sebagai bukti sah, lalu resi itu bisa digunakan untuk mendapatkan pendanaan dari perbankan,” jelasnya.

Namun demikian, Hergiar mengakui upaya revitalisasi tersebut masih terkendala keterbatasan anggaran daerah di tengah kebijakan efisiensi. Untuk tahap awal, pihaknya berharap ada alokasi bertahap guna menangani kerusakan paling mendesak.

“Kalau estimasi total perbaikan mungkin sekitar Rp2 miliar lebih. Tapi kalau bisa mendapat Rp1 miliar dulu untuk tahap awal sudah sangat membantu, karena ada kerusakan struktural cukup berat di tembok sebelah timur yang hampir roboh,” katanya.

Selain bangunan utama, sejumlah fasilitas pendukung di sekitar gudang juga mengalami kerusakan, seperti kaca pecah dan bagian gedung lain yang tidak lagi layak digunakan.

Nantinya, Diskoperindag juga berencana mengoptimalkan kawasan resi gudang sebagai pusat pengolahan kopi untuk mendukung petani dan pelaku UMKM kopi Bondowoso. Sejumlah peralatan pengolahan kopi yang dimiliki pemerintah, mulai dari mesin roasting hingga alat penyajian kopi, direncanakan ditempatkan di lokasi tersebut.

“Harapannya nanti petani dan UMKM tidak hanya menjual kopi mentah. Dari cherry bisa diolah menjadi green bean, lalu berkembang menjadi roasted bean hingga bubuk kopi. Jadi nilai tambahnya bisa dinikmati langsung oleh masyarakat,” pungkasnya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow