Makna Terpendam Imlek: Bukan Sekadar Perayaan, Melainkan Titik Memulai Siklus Baru Kehidupan

Perayaan Imlek mungkin telah usai, tetapi makna sejatinya baru dimulai, sebuah titik balik untuk meninggalkan masa lalu dan berpacu menyambut siklus kehidupan yang baru.

18 Feb 2026 - 19:42
Makna Terpendam Imlek: Bukan Sekadar Perayaan, Melainkan Titik Memulai Siklus Baru Kehidupan
Dr. Olivia, dosen Bahasa Mandarin Universitas Kristen Petra (Dok. PCU for SJP)

SURABAYA, SJP - Lampion telah kembali dipadamkan, barongsai pun telah berhenti menari. Perayaan Imlek sejatinya memang sudah berlalu kemarin, meninggalkan jejak kebahagiaan yang hangat. Namun sejatinya, Imlek bukanlah tentang kemeriahan yang berlangsung sehari atau dua hari saja.

Di balik seluruh simbol dan tradisinya, Imlek menyimpan makna yang jauh lebih dalam, yakni tentang menutup babak lama kehidupan dan melangkah ke siklus yang baru dengan harapan yang diperbarui.

Hal itulah yang diungkapkan oleh Olivia, dosen Bahasa Mandarin di Universitas Kristen Petra. Ia menuturkan bahwa Imlek merupakan momentum transisi yang sarat makna simbolis, bukan hanya perayaan budaya semata.

"Imlek sejatinya adalah sebuah titik balik. Ia bukan sekadar perayaan budaya, melainkan sebuah simfoni pergantian musim yang membawa pesan mendalam tentang pembaruan hidup," ujar Olivia, Rabu (18/2/2026).

Secara filosofis, Imlek menandai peralihan dari musim dingin menuju musim semi, sebuah simbol universal tentang kelahiran kembali dan pertumbuhan baru yang ditunjukkan oleh alam.

Namun, dalam konteks kehidupan manusia, perayaan itu menjadi momen refleksi untuk menutup lembaran lama dan membuka siklus baru dengan semangat yang diperbarui, sama halnya seperti Tahun Baru Internasional atau Idul Fitri.

Lebih dari itu, Imlek juga merupakan momentum memperkuat fondasi keluarga. Tradisi berkumpul bersama, membersihkan rumah sebelum hari perayaan, hingga menghentikan aktivitas pekerjaan saat hari-H, semuanya mengandung makna simbolis tentang melepaskan beban masa lalu dan membuka ruang bagi harapan baru.

"Tradisi bersih-bersih rumah bukan sekadar urusan sanitasi, tetapi simbol membuang segala keburukan dan kesialan tahun lalu agar rumah siap menerima keberuntungan baru," ungkap Olivia.

Olivia juga menjelaskan makna simbolis yang tercermin dalam hidangan khas yang disajikan saat Imlek. Kue keranjang atau Nián Gāo misalnya, bukan sekadar makanan tradisional, tetapi lambang harapan akan peningkatan kualitas hidup. 

Pelafalan kata “Gāo” yang menyerupai kata “tinggi” dalam bahasa Mandarin merepresentasikan doa agar kehidupan terus meningkat, baik secara ekonomi maupun spiritual.

Begitu pula dengan ikan yang hampir selalu hadir di meja makan keluarga Tionghoa saat Imlek. Dalam bahasa Mandarin, kata ikan memiliki bunyi yang sama dengan kata “kelebihan” yang melambangkan harapan akan kelimpahan rezeki.

“Harapannya sederhana namun kuat, agar setiap tahun kita tidak hanya berkecukupan, tetapi selalu memiliki kelebihan rezeki untuk dibagikan," terangnya.

Fenomena hujan yang kerap menyertai perayaan Imlek juga memiliki makna filosofis tersendiri. Secara ilmiah, Imlek di Tiongkok terjadi saat peralihan musim dingin ke musim semi, ketika salju mencair menjadi hujan. 

Sementara di Indonesia, Imlek jatuh pada puncak musim hujan. Namun dalam pandangan budaya Tionghoa, hujan justru dimaknai sebagai simbol keberuntungan.

"Bagi masyarakat Tionghoa, hujan adalah simbol banjir rezeki, energi positif yang turun dari langit," jelas Olivia 

Memasuki tahun 2026, yang dikenal sebagai Tahun Kuda Api, Imlek juga membawa pesan khusus tentang energi dan percepatan kehidupan. Olivia menuturkan bahwa unsur api dalam filosofi Tionghoa melambangkan vitalitas, kemakmuran, dan perkembangan pesat, sementara kuda merepresentasikan kecepatan dan kemajuan.

"Pesannya sangat jelas, bahwa tahun ini adalah waktu bagi kita untuk berpacu dengan waktu, menyelesaikan urusan yang tertunda, dan melangkah maju dengan akselerasi tinggi," tandasnya.

Pada akhirnya, esensi terdalam Imlek tidak terletak pada kemeriahannya, melainkan pada keseimbangan hubungan manusia dengan semesta. 

Dalam filosofi Tionghoa, harmoni tercipta melalui keselarasan antara hubungan dengan langit, bumi, dan sesama manusia, yang dikenal sebagai prinsip tiān shí dì lì rén hé keselarasan waktu, tempat, dan hubungan. (*)

Editor: Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow