Lukisan Sebagai Silaturahmi: Nyambung Roso dari Tanah Kediri

Lima belas perupa Kediri menyulam silaturahmi lewat kanvas di Galeri Prabangkara Surabaya, membiarkan warna dan garis menjadi bahasa rasa yang melampaui kata.

23 Apr 2025 - 21:40
Lukisan Sebagai Silaturahmi: Nyambung Roso dari Tanah Kediri
Suasana hangat Galeri Prabangkara saat pembukaan pameran Nyambung Roso, tempat para perupa Kediri menyulam rasa lewat karya (Istimewa)

SURABAYA, SJP - Jika dinding bisa bicara, maka Galeri Prabangkara di Jalan Genteng Kali 85, Surabaya, kini sedang ramai oleh perbincangan yang sunyi. Sebuah percakapan panjang yang tak mengenal suara, tapi bisa membuat pengunjung berhenti, menatap, lalu merasa: inilah ”Nyambung Roso.”

Lima belas seniman dari Kediri membanjiri galeri dengan karya-karya yang tak hanya menggambarkan dunia luar, tetapi juga cerminan dalam diri. Di tengah sorotan lampu dan aroma cat yang masih segar, pameran tersebut menjadi medan perjumpaan antara waktu, kenangan, dan estetika.

Dengan ukuran 25 sentimeter hingga 150 sentimeter dikerjakan dengan cat minyak, ada pula yang dituangkan lewat tinta cina, lukisan-lukisan itu seakan berbicara sembari bersanding dengan denting suara gitar Gatot Strenkali yang membuka perhelatan dengan Etno Musik Kentrung Urban.

Ali Shodiqin, Koordinator Pameran sekaligus salah satu perupa senior Kediri menuturkan, meski media dan gaya yang digunakan beragam, tapi satu benang merah yang mengikat para peserta pameran adalah kedalaman rasa dan refleksi tentang kota, diri, dan waktu.

"Tema besar kami adalah Nyambung Roso, tapi setiap pelukis bebas menafsirkan lewat karyanya masing-masing," ucap Ali, Rabu (23/4/2025).

"Justru dari kebebasan itu, rasa jadi lebih jujur. Ada yang bercerita soal nostalgia, ada yang tentang mimpi, bahkan kegelisahan sosial pun ikut bicara," imbuhnya.

Ali sendiri memaknai pameran itu sebagai momentum penting karena lahir bukan karena komando, melainkan dari kerinduan. Ia menggarisbawahi bahwa meskipun sama-sama berdomisili di Kediri, para perupa jarang saling berjumpa secara fisik. 

Maka lewat pameran Nyambung Roso, mereka tak hanya membagi ruang visual, tetapi juga menautkan kembali jejaring rasa yang lama terputus.

Pameran yang merupakan bagian dari Pekan Seni Lukis 2025 itu dikepalai oleh Sutikno, sosok yang dikenal aktif menyatukan komunitas perupa daerah. Dukungan penuh juga datang dari beberapa seniman seperti Woro Puspita, Lian M. Margareta, dan Donacos, yang membantu produksi dan penyelenggaraan.

Kehadiran nama-nama seperti Subroto dengan karyanya ”De Javasche Bank”, Suyadi dengan karya ”Bertani”, hingga Lian M Margareta dengan karya ”Sun Flower & Cat” dan masih banyak lagi, memperlihatkan kekayaan warna, tema, dan lapisan pemikiran dalam pameran tersebut 

"Kalau melihat karya mereka, rasanya seperti membaca puisi dengan mata. Ada ledakan yang halus, ada amarah yang elegan. Itulah seni tak selalu lantang, tapi bisa menampar," tutur Ali sembari menunjukkan lukisan tinta cina berjudul ”Jejak-jejak Tersisa dari Kotaku“ yang ia bawa sendiri.

Pameran “Nyambung Roso” bukan hanya tentang visual, tapi tentang keberanian untuk hadir dan berbagi. Bagi publik seni Surabaya, ini adalah ajakan untuk mendekap kota tetangga yang selama ini mungkin hanya lewat. 

Sementara itu, bagi para perupa Kediri, mungkin ini adalah langkah awal menuju dialog yang lebih panjang dengan sesama, dengan penonton, dan dengan kanvas itu sendiri. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow