Luas Panen Menyusut, Produksi Beras Jawa Timur 2024 Turun 4,53 Persen
Luas panen padi di Jawa Timur turun 4,78% pada 2024, menyebabkan produksi beras merosot 4,53%. Pergeseran puncak panen dan perubahan pola tanam menjadi faktor utama penurunan ini.
SURABAYA, SJP – Produksi padi di Jawa Timur mengalami penurunan selama tahun 2024, seiring dengan berkurangnya luas panen di berbagai daerah. Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur, luas panen padi tercatat 1,62 juta hektare, atau turun 4,78 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 1,70 juta hektare.
Penurunan ini berdampak langsung pada hasil produksi. Total produksi padi tercatat sebesar 9,27 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), mengalami penurunan 4,53 persen dibandingkan 2023. Jika dikonversi menjadi beras untuk konsumsi, hasilnya mencapai 5,35 juta ton, yang juga mengalami penurunan 4,53 persen.
Kepala BPS Jawa Timur, Zulkipli, menjelaskan bahwa perubahan luas panen ini erat kaitannya dengan pola tanam petani dan kondisi cuaca yang terjadi sepanjang tahun 2024 lalu.
"Kami mencatat adanya pergeseran puncak panen ke bulan April, yang sebelumnya terjadi pada Maret. Faktor cuaca dan ketersediaan air berpengaruh pada jadwal tanam, yang akhirnya memengaruhi hasil produksi," ujar Zulkipli, Sabtu (8/3/2025).
Ia menjelaskan bahwa data tersebut diperoleh dari penghitungan berbasis satelit dan survei lapangan yang dilakukan secara rutin.
"Kami mengamati pola panen padi menggunakan metode Kerangka Sampel Area (KSA), yang memungkinkan kami mendapatkan data real-time dari berbagai wilayah di Jawa Timur. Data ini menunjukkan adanya tren penurunan luas panen yang berdampak pada hasil produksi," papar Zulkipli.
Luas Panen Padi 2024: Tren Penurunan di Beberapa Wilayah
Hasil survei KSA menunjukkan bahwa luas panen padi di Jawa Timur mengalami penurunan sebesar 0,08 juta hektare. Penurunan ini tidak merata, dengan beberapa wilayah mengalami penyusutan yang signifikan, sementara daerah lain justru menunjukkan peningkatan.
Kabupaten dengan penurunan luas panen terbesar antara lain:
- Kabupaten Gresik (-18,35%)
- Kabupaten Blitar (-27,02%)
- Kota Batu (-30,81%)
Di sisi lain, beberapa wilayah justru mengalami peningkatan luas panen, seperti:
- Situbondo (+7,23%)
- Pasuruan (+4,26%)
- Bangkalan (+4,06%)
Menurut Zulkipli, salah satu penyebab utama perubahan luas panen ini adalah pergeseran waktu puncak panen.
"Jika pada 2023 puncak panen terjadi pada bulan Maret, tahun ini pergeserannya ke bulan April. Faktor cuaca dan ketersediaan air juga mempengaruhi pola tanam petani," jelasnya.
Produksi Padi: Turun 4,53 persen Seiring Berkurangnya Luas Panen
Sejalan dengan penurunan luas panen, produksi padi di Jawa Timur pada 2024 juga mengalami penurunan sebesar 4,53 persen. Produksi padi tercatat 9,27 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), turun 0,44 juta ton dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 9,71 juta ton GKG.
Data menunjukkan bahwa produksi padi tertinggi terjadi pada April 2024 sebesar 2,14 juta ton GKG, sedangkan produksi terendah terjadi pada Januari 2024 sebesar 0,28 juta ton GKG.
Beberapa daerah yang mengalami penurunan produksi terbesar adalah:
- Kabupaten Gresik (-21,19%)
- Kabupaten Blitar (-28,75%)
- Kabupaten Banyuwangi (-13,00%)
Namun, terdapat beberapa daerah yang justru mencatat kenaikan produksi, seperti:
- Kabupaten Tuban (+4,25%)
- Kabupaten Pasuruan (+6,65%)
- Kabupaten Sidoarjo (+6,70%)
Produksi Beras 2024: Dampak Langsung dari Penurunan Padi
Jika dikonversi ke dalam bentuk beras yang dikonsumsi masyarakat, produksi beras di Jawa Timur pada 2024 tercatat 5,35 juta ton, mengalami penurunan 4,53 persen dibandingkan dengan tahun 2023 yang mencapai 5,61 juta ton.
Data menunjukkan bahwa produksi beras tertinggi terjadi pada April 2024 dengan 1,23 juta ton, sementara produksi terendah terjadi pada Januari 2024 sebesar 0,16 juta ton.
Zulkipli menekankan bahwa penurunan produksi beras ini bukan hanya berdampak pada petani, tetapi juga potensi stabilitas harga beras di pasaran.
"Ketika produksi beras berkurang, ada kemungkinan terjadi peningkatan harga beras di pasar karena pasokan menurun. Hal ini yang perlu menjadi perhatian untuk menjaga ketahanan pangan di Jawa Timur," jelasnya.
Distribusi Produksi: Ketimpangan Antar-Wilayah
Distribusi produksi padi di Jawa Timur menunjukkan ketimpangan yang cukup besar. Beberapa kabupaten tetap menjadi lumbung padi utama, sementara yang lain mengalami penurunan signifikan.
Kabupaten dengan produksi padi tertinggi pada 2024:
- Kabupaten Lamongan
- Kabupaten Ngawi
- Kabupaten Bojonegoro
Kabupaten dengan produksi padi terendah:
- Kota Mojokerto
- Kota Batu
- Kota Blitar
Proyeksi 2025: Harapan Pemulihan Produksi
Melihat tren ke depan, BPS memproyeksikan peningkatan luas panen dan produksi padi pada Januari-April 2025.
- Luas panen Januari-April 2025 diperkirakan 0,84 juta hektare, naik 20,17 persen dibandingkan dengan 2024.
- Produksi padi Januari-April 2025 diperkirakan 4,80 juta ton GKG, meningkat 18,68 persen dibandingkan 2024.
- Produksi beras Januari-April 2025 diperkirakan 2,77 juta ton, naik 18,68 persen dibandingkan 2024.
Kabupaten yang berpotensi mengalami peningkatan produksi pada 2025 antara lain Bojonegoro, Blitar, dan Tuban.
Zulkipli optimis bahwa proyeksi peningkatan ini dapat menjadi titik balik bagi sektor pertanian padi di Jawa Timur.
"Jika kondisi cuaca mendukung dan pola tanam berjalan optimal, kita bisa melihat perbaikan produksi yang signifikan tahun depan," pungkasnya.
Metodologi Penghitungan Data
Sebagai informasi tambahan, BPS Jawa Timur menggunakan metode Kerangka Sampel Area (KSA) untuk menghitung luas panen padi secara akurat. KSA menggunakan citra satelit dari LAPAN dan BIG, serta verifikasi lapangan menggunakan Survei Ubinan untuk memastikan produktivitas padi per hektare.
Penghitungan produksi padi dan beras dilakukan dengan mengalikan luas panen dengan produktivitas per hektare, yang kemudian dikonversi dari gabah menjadi beras menggunakan data Survei Konversi Gabah ke Beras 2018.
Menurut Zulkipli, metode ini memberikan data yang lebih akurat dibandingkan pendekatan konvensional.
"Teknologi citra satelit memungkinkan kita mendapatkan gambaran luas panen dengan lebih presisi, sementara survei lapangan memastikan validitas produktivitas padi di berbagai wilayah," jelasnya.
Penurunan luas panen padi sebesar 4,78 persen pada 2024 telah berdampak pada penurunan produksi padi dan beras di Jawa Timur. Namun, proyeksi awal untuk tahun 2025 menunjukkan potensi pemulihan dengan peningkatan luas panen dan hasil produksi.
Dengan perencanaan pertanian yang lebih baik dan pemanfaatan teknologi modern, Jawa Timur diharapkan dapat menjaga stabilitas pangan dan harga beras di masa depan. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

