Lomba Sambitan Layangan di Tulungagung, Tradisi Seru yang Eratkan Silaturahmi dan Jauhkan Anak dari Gawai
Selain menyatukan warga, kegiatan ini juga memberi dampak positif bagi ekonomi lokal. Di sekitar lokasi lomba, tampak pedagang es, makanan ringan, hingga jajanan tradisional ikut meramaikan suasana.
TULUNGAGUNG, SJP - Di antara semilir angin sore khas pedesaan, area persawahan Desa Jarakan, Kecamatan Gondang, Tulungagung, pada Minggu (12/10/2025) sore, riuh dan meriah. Ratusan warga dari berbagai usia berkumpul di tengah hamparan sawah untuk menyaksikan dan mengikuti lomba sambitan layangan, sebuah kegiatan yang kini menjadi agenda rutin warga setempat setiap akhir pekan.
Meski sederhana, ajang adu ketangkasan mengendalikan layangan ini mampu menarik perhatian warga dari berbagai penjuru desa. Di sepanjang jalan usaha tani yang membelah area persawahan, deretan layangan berwarna-warni tampak melambung di langit, disertai sorak sorai penonton yang tak kalah semangat.
Fanani, salah satu panitia lomba, mengatakan kegiatan yang memanfaatkan waktu jeda usai masa panen padi ini, digagas sebagai ajang silaturahmi antar pemuda dan penghobi layangan, sekaligus upaya mengalihkan perhatian anak-anak dari kecanduan gawai.
“Tujuannya untuk membangun tali silaturahmi antar pemuda penghobi layangan di desa Jarakan dan desa sekitar. Sekaligus biar adik-adik enggak terus-terusan main HP, bisa punya kegiatan positif di luar rumah,” ujarnya.
Menurut Fanani, lomba ini diikuti tidak hanya oleh warga Jarakan, tapi juga peserta dari luar desa bahkan luar kecamatan. Setiap pekan, lomba diadakan di area persawahan yang sedang tidak digunakan petani.
“Sudah lima kali kami gelar di sini. Karena antusiasnya luar biasa, rencana minggu ini mau libur dulu tapi banyak yang minta lanjut, jadi ya tetap diadakan,” tambahnya sambil tersenyum.
Antusias peserta cukup tinggi, dalam setiap gelaran peserta lomba berkisar antara 60 hingga 80 orang. Lomba dibagi menjadi dua kategori yakni kelas junior (maksimal kelas 6 SD) dan kelas dewasa yang terbuka untuk umum.
Ihsan Syaifudin, peserta asal Desa Jarakan yang berhasil meraih juara 1 di kelas dewasa, mengaku senang dengan adanya lomba ini. “Saya memang hobi main sambitan layangan, kegiatan seperti ini bagus, bisa memeriahkan desa,” katanya.
Menurut Ihsan, kunci kemenangan bukan pada alat, melainkan lebih pada teknik saat tarik-ulur benang. "Tidak ada persiapan khusus, saya cuma pakai layangan dan benang biasa murahan beli di toko," tuturnya.
Menurut para peserta, meski kekuatan dan ketajaman benang berpengaruh dalam lomba, namun tekhnik keterampilan memainkan benang saat layangan beradu lebih menentukan. Kalau benang dalam kondisi tegang dan terkena gesekan dari benang lawan, hampir pasti benang akan putus. Jadi pemain harus pintar-pintar atur tarikan.
Sementara itu, di kategori junior, Azka Fredilio Gunawan, siswa kelas 4 SD asal Desa Ngrendeng, berhasil meraih juara 2. Dengan wajah ceria, ia mengaku lebih senang bermain layangan daripada bermain ponsel. “Lebih seru main layangan daripada main HP. Sulitnya itu waktu narik ulur benangnya,” ujarnya polos.
Selain menyatukan warga, kegiatan ini juga memberi dampak positif bagi ekonomi lokal. Di sekitar lokasi lomba, tampak pedagang es, makanan ringan, hingga jajanan tradisional ikut meramaikan suasana.
Tak hanya peserta yang bersaing, sejumlah anak-anak kecil juga tampak sibuk berlarian di pematang sawah menjadi pemburu layangan putus atau yang biasa disebut tandang, menambah keceriaan sore itu.
Fanani berharap kegiatan ini bisa terus berlanjut meski saat ini sempat terkendala karena lahan sawah akan kembali digunakan untuk bertani.
“Mungkin satu dua bulan kedepan kita istirahat dulu. Tapi kalau sudah ada tempat lagi, insyaallah dilanjutkan. Soalnya antusias pesertanya luar biasa,” pungkasnya.
Di tengah era serba digital, semangat warga Jarakan untuk menjaga tradisi sambil mempererat kebersamaan lewat lomba sambitan layangan ini menjadi angin segar, sederhana namun penuh makna. (*)
Editor: Danu
What's Your Reaction?

