Lewat Tales of Chengdu, PCM Bawa Kisah Kota Budaya China ke Surabaya
Imlek di Surabaya terasa berbeda ketika nuansa kota budaya Chengdu hadir lewat Tales of Chengdu, menghadirkan lampion, barongsai, dan kisah lintas budaya di Pakuwon City Mall.
SURABAYA, SJP — Perayaan Tahun Baru Imlek selalu identik dengan tradisi, harapan baru, dan juga ornamen khas negara tirai bambu. Namun di Surabaya, perayaan Imlek 2026 hadir dengan cara yang berbeda. Bukan hanya lampion dan barongsai, tetapi juga menghadirkan nuansa salah satu kota di China yang sarat akan nilai budaya.
Melalui festival bertajuk ”Tales of Chengdu”, Pakuwon City Mall (PCM) Surabaya membawa atmosfer khas Chengdu ke bagian timur kota Pahlawan, mengajak pengunjung merayakan Imlek sambil menjelajahi kisah budaya yang telah hidup selama ribuan tahun.
Festival tersebut berlangsung pada 6 hingga 22 Februari 2026 di Park Shanghai Pakuwon City Mall. Dengan memadukan tradisi dan pengalaman modern, pengunjung seakan diajak melangkah keluar dari Surabaya dan memasuki lanskap budaya khas China barat daya.
Chengdu, Kota Budaya dengan Jejak Ribuan Tahun
Chengdu bukan sekadar kota besar di China. Ibu kota Provinsi Sichuan itu dikenal sebagai salah satu kota tertua yang masih bertahan hingga hari ini, dengan sejarah lebih dari dua milenium. Kota tersebut menjadi pusat peradaban kuno Shu dan berkembang menjadi simpul penting seni, sastra, dan tradisi.
Identitas Chengdu sebagai kota budaya tercermin dalam kehidupan masyarakatnya yang masih menjaga seni tradisional, mulai dari opera Sichuan yang terkenal dengan teknik perubahan topeng yang dramatis, hingga budaya rumah teh yang menjadi bagian dari keseharian.
Namun yang paling menarik dari semua itu, Chengdu juga dikenal sebagai rumah panda raksasa, simbol nasional China. Keberagaman itu membuat nuansa Chengdu ke Surabaya bak jembatan imajiner terhadap pertukaran budaya kedua Kota.
Padukan Tradisi dan Modernitas
Festival ”Tales of Chengdu” oleh PCM dirancang sebagai perayaan tematik Lunar New Year yang memadukan berbagai bentuk seni tradisional dan hiburan modern. Setiap sore hingga malam, kawasan Park Shanghai akan selalu dipenuhi pertunjukan budaya yang menghidupkan suasana Imlek.
Pengunjung dapat menyaksikan atraksi Acrobatic Lion Dance (Barongsai) yang memadukan gerakan akrobatik dan simbol keberuntungan, serta Wayang Potehi yang menghadirkan kisah klasik dalam bentuk seni boneka tradisional.
Di sisi lain, pertunjukan Shanghai Rhythm dan DJ performance menghadirkan energi modern, menciptakan festival yang dinamis dan inklusif untuk berbagai generasi.
Media Relations Pakuwon City Mall, Amelia Patricia, mengatakan festival tersebut memang dirancang untuk menghadirkan pengalaman budaya yang berbeda bagi masyarakat Surabaya.
"Tales of Chengdu menjadi event festival tematik yang dirancang untuk merayakan semangat Lunar New Year melalui perpaduan atraksi tradisional dan hiburan modern," ucap Amelia saat dikonfirmasi pada Selasa (17/2/2026).
Sebagai bagian dari puncak perayaan, festival itu juga menghadirkan fireworks blaze spesial selama tiga hari berturut-turut. Pertunjukan kembang api menjadi simbol penting dalam tradisi Lunar New Year, melambangkan cahaya, keberuntungan, dan awal yang baru.
"Tujuan utama event Tales of Chengdu adalah menghubungkan budaya internasional dengan masyarakat Indonesia melalui festival yang menghibur," ungkap Amelia.
Ia menambahkan bahwa kehadiran festival itu diharapkan dapat memperkenalkan kekayaan budaya Asia dalam cara yang relevan dengan masyarakat urban masa kini.
"Pakuwon City Mall berharap Tales of Chengdu dapat menjadi awal dari kolaborasi budaya internasional yang lebih luas di masa mendatang," tandas Amelia.
Ruang Temu Budaya
Sejak dibuka, Tales of Chengdu mendapat respons positif dari pengunjung yang menikmati suasana perayaan yang berbeda dari biasanya. Tidak hanya menarik perhatian warga Surabaya, festival ini juga mengundang pengunjung dari luar kota.
Salah satunya Angelica (24), pengunjung asal Kota Batu, yang datang bersama keluarga dan teman-temannya untuk merasakan langsung suasana perayaan tersebut.
"Dekorasinya bagus sekali, rasanya seperti bukan di Surabaya. Saya jadi bisa merasakan suasana Imlek yang berbeda," ungkap Angelica.
Saat ditanya kenapa tidak menghabiskan liburannya di Kota Batu yang penuh tempat wisata, Angelica mengaku tertarik dengan konsep festival PCM yang angkat Kota Chengdu.
"Ita karena itu kota yang jadi rumah panda, jadi mau lihat berbagai ornamen bertemakan panda, walaupun yang paling ditunggu-tunggu tetap pertunjukan Barongsai," pungkasnya.
Melalui Tales of Chengdu, Imlek di Surabaya tahun ini tidak hanya dirayakan sebagai tradisi tahunan, tetapi juga sebagai perjalanan budaya, sebuah kesempatan untuk merasakan kisah kota yang jauh, tanpa harus melintasi benua. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

