Lewat Film Pesta Babi, Generasi Muda di Gresik Bedah Watak Otoriter Proyek Pemerintah

Film Pesta Babi tersebut memotret realitas pahit di tanah Papua, saat lahan-lahan adat milik warga setempat diduga digusur demi proyek ambisius lumbung pangan (food estate) dan energi nasional.

20 May 2026 - 11:30
Lewat Film Pesta Babi, Generasi Muda di Gresik Bedah Watak Otoriter Proyek Pemerintah
Nobar film Pesta Babi di Gresik. (Foto: Anis/SJP)

GRESIK, SJP — Isu perampasan lahan di tanah Papua memantik keprihatinan sekaligus respons kritis dari generasi muda di Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Melalui agenda pemutaran dan diskusi film dokumenter berjudul Pesta Babi karya Dandhy Laksono, puluhan warga yang didominasi kelompok muda antusias memadati lokasi acara pada Selasa (19/6/2025) malam.

Agenda pemutaran film yang diselenggarakan oleh Tlogopojok Youth Movement ini berlangsung dinamis dan tertib.

Tidak hanya kelompok pemuda, antusiasme juga datang dari lintas generasi, mulai dari anak-anak hingga orang tua yang konsisten menyaksikan dokumenter tersebut hingga selesai.

Para penonton menyaksikan film dengan saksama, duduk berjejer memanfaatkan bangku, meja, hingga lantai.

Film Pesta Babi tersebut memotret realitas pahit di tanah Papua, saat lahan-lahan adat milik warga setempat diduga digusur demi proyek ambisius lumbung pangan (food estate) dan energi nasional.

"Melalui nobar ini, para pemuda kita ajak untuk peduli dan kritis terhadap isu keadilan sosial dan lingkungan di wilayah Indonesia Timur," kata salah satu penyelenggara acara, Ebit.

Ebit mengatakan, Tlogopojok Youth Movement mengajak generasi muda untuk tidak hanya bergerak di ranah sepak bola, keagamaan, ataupun lingkungan sekitar.

Namun, anak-anak muda juga diharapkan dapat mengetahui kondisi yang lebih luas di Indonesia, seperti konflik agraria di Papua.

Menurutnya, krisis kemanusiaan tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran bahwa ancaman terhadap hak asasi manusia (HAM) bisa terjadi di mana saja.

"Yang pada intinya kita membuat acara ini kita bersimpati, berempati, dan bertoleransi," paparnya.

Sementara itu, salah satu peserta, Madev (29), menyampaikan pemutaran film ini berhasil menggugah pemikiran kritis terhadap situasi yang merugikan masyarakat adat.

Menurutnya, alih-alih memberdayakan warga adat asli Papua, dalam narasi film dokumenter tersebut pemerintah tampak otoriter melakukan pembukaan lahan secara besar-besaran.

Dalam film tersebut juga ditampilkan aktivitas pembukaan lahan oleh korporasi yang diindikasikan dikuasai oleh gurita bisnis keluarga tertentu.

"Pastinya berdampak baik memacu kritis para pemuda. Di film itu juga menyebut siapa namanya personil-personil, dalang di baliknya yang ternyata milik satu keluarga," pungkasnya. (*) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow