“Kula” di Galeri Prabangkara, Lukisan Tentang Manusia yang Akhirnya Sendiri

Di ujung pameran The Magic of Color, lukisan Kula mengajak pengunjung merenung tentang hidup, kesalahan, dan kesendirian manusia saat akhirnya kembali menjadi “aku”.

31 Jan 2026 - 20:45
“Kula” di Galeri Prabangkara,  Lukisan Tentang Manusia yang Akhirnya Sendiri
Didi Dyan berdiri di depan lukisan Kula, karyanya yang merefleksikan perjalanan hidup manusia, dalam pameran The Magic of Color di Galeri Prabangkara, UPT Taman Budaya Jawa Timur (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Menjelang hari-hari terakhir pameran The Magic of Color, Galeri Prabangkara tak lagi seramai pembukaan. Langkah pengunjung melambat, pandangan lebih lama berhenti di kanvas. Di ujung pameran itu, satu lukisan terasa mengajak pulang dengan perenungan, dengan judul "Kula".

Judulnya singkat dan gayanya-pun abstrak, namun maknanya justru dalam dan personal, membuatnya menjadi salah satu lukisan yang cukup menarik untuk dibahas ditengah puluhan karya Perupa Wanita Jawa Timur (Perwajati) lain yang tidak kalah indah.

Lukisan 'Kula' itu merupakan karya Didi Dyan, seorang pengajar sekaligus pemerhati anak di Kota Surabaya. Ia menjelaskan bahwa 'Kula' atau “aku” dalam bahasa Jawa yang dimaksud bukanlah soal memperkenalkan diri, melainkan tentang proses panjang manusia menjadi dirinya sendiri.

"Kula itu artinya aku, tapi bukan memperkenalkan aku-nya, melainkan perjalanan menuju kita. Perenungan tentang manusia, perjalanan hidup, dan kesadaran akan akhir," tutur Didi, Sabtu (31/1/2026).

Dalam lukisan tersebut, tampak garis-garis yang sekilas menyerupai jalan. Namun Didi menegaskan, itu bukan jalan secara harfiah. Garis-garis itu adalah simbol arah hidup manusia. Ada gerak ke atas, ada gerak ke samping, ada belokan, dan ada ketidakteraturan.

Menurutnya, kehidupan tidak pernah benar-benar lurus. Ada kesalahan, tekanan, dan stres yang menjadi bagian dari perjalanan manusia. Namun di balik itu semua, manusia tetap dituntut untuk menjaga arah, ke atas dan ke samping.

"Ke atas itu ke Tuhan, ke samping itu ke sesama manusia," jelasnya.

Pada titik tertentu, lukisan tersebut membawa pesan yang lebih sunyi. Didi menggambarkan bahwa pada akhirnya, manusia akan sampai pada satu fase ketika ia harus meninggalkan dunia fana dan melangkah sendirian.

"Bahkan teman itu kan hanya proses dalam kehidupan, ketika siap menuju mati, manusia akan ke pintu itu sendirian," terang Didi.

Gagasan kesendirian itu bukan dimaksudkan sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan sebagai ajakan untuk berdamai dengan diri sendiri. Didi menekankan pentingnya mencintai diri, melakukan introspeksi, dan menerima bahwa hidup, termasuk kematian adalah perjalanan personal.

"Siapa lagi yang mencintai diri kita kalau bukan diri kita sendiri," ucapnya.

Pilihan warna ungu dan putih dalam lukisan Kula juga tidak hadir tanpa makna. Ungu, menurut Didi, adalah warna yang sering diabaikan dan disalahpahami. Padahal, warna ini banyak hadir di alam di senja, kilat, dan langit malam, sebagai simbol keteduhan dan harapan.

"Ungu itu bukan warna janda, tapi warna harapan," jelasnya.

Lukisan berukuran 40 x 50 sentimeter ini dikerjakan Didi dalam satu malam hingga dini hari, ditemani kesunyian dan kucing peliharaannya. Karya tersebut rampung awal Januari 2026 dan menjadi pertama kalinya dipamerkan ke publik.

Di luar dunia seni, Didi Dyan juga dikenal sebagai guru di TPA/KB/TK Kusuma Yayasan Dr Soetomo Surabaya. Dunia anak-anak justru menjadi sumber kekuatan dan ide baginya. Ia mengaku ingin suatu hari menuangkan sosok murid-muridnya ke dalam karya seni, dalam bentuk abstrak.

"Murid-murid itu jantung hidup saya," pungkasnya.

Lewat Kula, Didi Dyan tidak sekadar menghadirkan lukisan, tetapi membuka ruang dialog batin antara karya dan penikmatnya. Tentang hidup yang berliku, kesalahan yang manusiawi, dan kesadaran bahwa pada akhirnya, setiap orang akan berdiri sebagai “aku” yang utuh dan siap. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow