Tingginya Produksi Cabai di Kota Batu Dinilai Mampu Kendalikan Inflasi Nasional

Dengan iklim yang mendukung, produksi cabai di tahun 2024 tercatat menembus angka signifikan. Yakni 21.184 kuintal cabai besar, 169 kuintal cabai merah keriting, dan 11.132 kuintal cabai rawit.

24 Apr 2025 - 15:31
Tingginya Produksi Cabai di Kota Batu Dinilai Mampu Kendalikan Inflasi Nasional
Seorang pedagang cabai sedang berjualan di Pasar Pagi Among Tani, Kota Batu.(Foto: Arul/SJP)

KOTA BATU, SJP Kota Batu menegaskan peran strategisnya sebagai salah satu lumbung cabai di Jawa Timur sekaligus menjadi garda terdepan dalam menjaga stabilitas harga pangan nasional.

Dengan iklim yang mendukung, produksi cabai di tahun 2024 tercatat menembus angka signifikan. Yakni 21.184 kuintal cabai besar, 169 kuintal cabai merah keriting, dan 11.132 kuintal cabai rawit.

Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto menilai, keberhasilan ini menjadi angin segar di tengah isu inflasi yang masih membayangi sektor pangan nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, cabai—khususnya cabai merah dan cabai rawit— merupakan penyumbang inflasi tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.

Bahkan pada Januari 2025, dua komoditas tersebut mencatatkan kenaikan harga drastis yang menyumbang total 0,36 persen terhadap inflasi nasional.

Sebagai respons konkret terhadap isu ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Batu menggulirkan gerakan tanam cabai bersama yang diikuti oleh Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK).

“Ini merupakan langkah strategis untuk membangun ketahanan pangan dari skala rumah tangga," ucap Heli, Kamis (24/4/2025).

Menurutnya, gerakan tersebut sebagai upaya implementasi bahwa Kota Batu tidak hanya mampu memproduksi cabai dalam jumlah besar, tapi juga mampu menjaga kestabilan pasokan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu, Heru Yulianto menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan pangan dan inflasi.

Menurut Heru, untuk mewujudkan ketahanan pangan, tidak cukup hanya dibangun dari atas, tapi juga harus dimulai dari rumah tangga. Sehingga peran ibu-ibu PKK sangat sentral.

“Melalui gerakan ini, kita dorong masyarakat untuk menanam cabai sendiri, mengurangi ketergantungan pasar,” ujarnya.

Oleh sebab itu, pihaknya menyerahkan bantuan benih cabai dan sarana produksi pertanian (saprotan) kepada 24 desa dan kelurahan di Kota Batu.

Bantuan itu meliputi 15.000 batang benih cabai, 24 kilogram polybag, dan 7.500 kilogram media tanam yang didistribusikan ke tiga kecamatan: Batu, Junrejo, dan Bumiaji.

Pihaknya berharap, langkah ini nantinya tidak hanya mendongkrak produktivitas cabai lokal, tapi juga menjadi model pengendalian inflasi daerah yang bisa ditiru oleh kota-kota lain.

“Kota Batu kini bukan hanya dikenal sebagai kota wisata, tapi juga sebagai pilar utama dalam menjaga stabilitas pangan nasional," pungkasnya. (*)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow