Konsumsi Gorengan Saat Buka Puasa Perlu Dibatasi, Ini Penjelasannya
Gorengan memang menjadi menu favorit saat berbuka puasa. Namun, konsumsi berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan seperti kolesterol tinggi, perlemakan hati, hingga penyakit jantung. Simak penjelasan ahli gizi berikut ini.
Suarajatimpost.com — Gorengan nyaris selalu hadir sebagai menu favorit saat berbuka puasa. Aroma pisang goreng, tahu isi, hingga bakwan yang masih hangat kerap menggoda setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Namun, di balik kerenyahannya, tersimpan risiko kesehatan yang perlu diwaspadai.
Dietisien dari RSUP dr Hasan Sadikin Bandung, Yesi Herawati, mengingatkan bahwa setelah berpuasa sekitar 12 jam, sistem pencernaan berada dalam kondisi istirahat. Jika makanan pertama yang dikonsumsi adalah gorengan tinggi lemak, organ pencernaan akan dipaksa bekerja keras secara tiba-tiba.
Lemak Berlebih, Beban untuk Banyak Organ
Kandungan lemak tinggi pada gorengan dapat menumpuk di hati dan memicu perlemakan hati. Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko menyebabkan peradangan, sirosis, bahkan kanker hati.
Tak hanya itu, kadar kolesterol yang meningkat juga dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah, meningkatkan risiko aterosklerosis dan penyakit jantung koroner.
Dampak ke Pankreas, Ginjal, hingga Pernapasan
Konsumsi lemak berlebihan dapat memicu resistensi insulin yang berujung pada diabetes. Ginjal juga ikut terbebani karena harus menyaring hasil metabolisme lemak dalam jumlah besar.
Penumpukan lemak di area perut bahkan dapat menekan diafragma, menyebabkan rasa sesak setelah makan. Gangguan seperti begah, mual, dan nyeri lambung juga kerap terjadi jika berbuka langsung dengan makanan berminyak.
Risiko Lebih Besar pada Orang dengan Berat Badan Berlebih
Individu dengan kelebihan berat badan atau obesitas memiliki risiko lebih tinggi mengalami dampak tersebut. Jika tidak diimbangi dengan asupan serat, cairan cukup, dan aktivitas fisik, risiko penyakit kronis akan meningkat.
Apakah Gorengan Harus Dihindari?
Gorengan tidak harus dihindari sepenuhnya. Bagi orang dengan status gizi normal, konsumsi maksimal dua buah per hari masih diperbolehkan. Namun, sebaiknya tidak dibarengi dengan makanan bersantan atau gorengan lain.
Gunakan minyak baru dan hindari minyak jelantah karena mengandung zat berbahaya.
Alternatif Menu Berbuka yang Lebih Sehat
Disarankan untuk memulai berbuka dengan air putih guna mengembalikan cairan tubuh. Takjil seperti kurma, buah segar, salad buah, atau air kelapa bisa menjadi pilihan yang lebih aman dan mudah dicerna.
Menikmati gorengan secara bijak dan tidak berlebihan adalah kunci agar ibadah puasa tetap lancar tanpa mengorbankan kesehatan. (**)
Sumber: Beritasatu.com
Penulis: Febiana Dendo Ngara, Mahasiswa Magang Unitri
Editor: Danu
What's Your Reaction?

