Khidmatnya Suku Tengger di Provlo Saat Ritual Mendak Tirta
Tirta dari Madakaripura nantinya akan dipadukan dengan enam mata air lainnya dari sekitar kawasan Gunung Bromo. Air-air suci ini menjadi simbol harmoni antara manusia, alam, dan Sang Hyang Widhi, keyakinan yang dipegang teguh oleh masyarakat Tengger.
PROBOLINGGO, SJP — Masyarakat Tengger di Kabupaten Probolinggo menggelar upacara sakral Mendak Tirta di Air Terjun Madakaripura menjelang puncak perayaan Yadnya Kasada.
Upacara ini merupakan salah satu tradisi penting bagi umat Hindu Suku Tengger sebelum melaksanakan ritual Yadnya Kasada di Gunung Bromo.
Mendak Tirta adalah prosesi pengambilan air suci dari mata air keramat sebagai bagian dari upacara penyucian.
Air Terjun Madakaripura dipilih karena dianggap tempat pertapaan Patih Gajah Mada dan dipersepsikan sebagai lokasi suci oleh masyarakat Tengger.
Puluhan warga ikut serta dalam prosesi ini dengan membawa sesaji hasil bumi sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Hyang Widhi Wasa.
Prosesi dipimpin oleh dukun adat Tengger yang menjalankan tradisi ini turun-temurun dan diawasi ketat oleh aparat keamanan.
Prosesi ini merupakan simbol harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan, serta pelestarian warisan spiritual.
Air suci yang diambil nantinya akan dibawa ke Pura Luhur Poten di Gunung Bromo untuk menyucikan sarana peribadatan.
Air suci diambil dari empat sumber utama yaitu Watuk Klosot di Lumajang, Widodaren di Bromo, Rondo Kuning di Ranupani, dan Madakaripura di Lumbang.
Setelah dikumpulkan, air disatukan di Pura Poten sebagai simbol pembersihan spiritual.
Ritual Mendak Tirta dipandang sebagai kewajiban spiritual yang harus dijalankan secara turun-temurun oleh masyarakat Tengger.
Ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur serta alam semesta.
Dengan pelaksanaan yang khidmat dan semangat kebersamaan, tradisi ini menegaskan eksistensi budaya lokal yang tetap hidup dan dijaga di tengah perubahan zaman.
Mendak Tirta menjadi simbol keteguhan masyarakat Tengger dalam menjaga nilai-nilai leluhur.
Selain itu, ritual ini juga menjadi ajang untuk mempererat hubungan sosial dan spiritual di kalangan masyarakat Tengger.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa tradisi dan budaya masih sangat penting bagi mereka.
Dengan menjaga dan melaksanakan tradisi ini, masyarakat Tengger memperkaya warisan budaya bangsa serta memberikan contoh tentang pentingnya memelihara nilai-nilai leluhur dalam kehidupan sehari-hari. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

