Ketika Imajinasi Anak-Anak Membanjiri Galeri dalam Pameran “Art Without Limits #BEBAS2”

Lima anak dari Lotus Art Courses penuhi galeri seni Surabaya dengan imajinasi liar dan karakter unik, membuktikan bahwa seni anak-anak tak kenal batas dan patut dirayakan.

12 Apr 2025 - 23:05
Ketika Imajinasi Anak-Anak Membanjiri Galeri dalam Pameran “Art Without Limits #BEBAS2”
Lima seniman cilik dari Lotus Art Courses tampil di pameran Art Without Limits #BEBAS2 di Vinautism Art Gallery, Surabaya (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Dunia seni rupa Indonesia tak hanya diwarnai oleh nama-nama besar, tetapi juga oleh tangan-tangan kecil yang penuh imajinasi.

Dalam pameran Art Without Limits #BEBAS2 yang digelar oleh Vinautism Art Gallery sejak Maret lalu, lima siswa dari Lotus Art Courses LAC membuktikan bahwa seni tidak mengenal usia, apalagi batas.

Kelima anak berbakat itu adalah Raynold Alexander Sie, Ryu Marcello Sie, Eunike E Liem, Akhtar Aryasatya, dan Abiyan Mars D.

Mereka terpilih dari seleksi Open Call yang dibuka secara umum, dan karya-karya mereka kini terpajang bersama para seniman muda lainnya di galeri yang terletak di pusat kota Surabaya itu.

Galeri yang Menolak Batas

Vinautism Art Gallery dikenal sebagai ruang alternatif yang konsisten mendukung seniman muda dan pemula. Mengusung tema “Art Without Limits”, pameran ini menantang gagasan-gagasan baku tentang bentuk, medium, hingga siapa yang pantas disebut seniman.

"Pameran ini bukan tentang siapa yang paling hebat secara teknik. Ini tentang keberanian untuk menyampaikan gagasan, emosi, dan cerita lewat visual," ujar I Putu Mahendra, pemilik Lotus Art Courses, yang menjadi mentor kelima siswa tersebut, Sabtu (12/4/2025).

Menurut Putu, seluruh peserta menunjukkan perkembangan luar biasa selama proses belajar. Menurutnya, LAC memang tidak mengarahkan anak didiknya untuk menggambar bagus, melajnkan berekspresi dengan dunianya sendiri 

"Hasilnya? Luar biasa. Setiap karya punya napasnya masing-masing," jelas Putu.

Panggung Pertama yang Bermakna

Bagi banyak anak, ini adalah pengalaman pertama karya mereka dilihat oleh publik dalam konteks galeri seni. Tak sedikit pengunjung yang berhenti lama di depan karya para seniman cilik ini, terkesima oleh keberanian mereka bermain warna, bentuk, dan ide.

“Kami berharap pengalaman ini menjadi pemicu bagi perjalanan seni mereka nantinya. Sekecil apa pun dukungan, saat diberikan di waktu yang tepat, bisa membuat anak-anak tumbuh dengan percaya diri," imbuh Putu.

Pameran ini juga menjadi bukti bahwa pendidikan seni anak tak melulu soal kompetisi atau prestasi instan, melainkan tentang pembentukan cara berpikir, keberanian berekspresi, dan menghargai perbedaan.

"Aku Bikin Dunia Penuh Karakter"

Di antara kelima peserta, salah satu yang mencuri perhatian pengunjung adalah karya dari Raynold Alexander Sie, yang mendapat predikat “10 Favorite” pilihan kurator. Karyanya berupa kolase padat karakter dengan ekspresi dan bentuk yang unik.

Ketika ditanya tentang makna karyanya, Raynold menjawab polos, ia bilang bahwa dirinya seakan membuat dunianya sendiri.

"Aku bikin semua ini kayak dunia sendiri. Ada robot-robot, monster lucu, terus ada juga yang jahat, tapi nggak serem-serem banget sih. Aku suka kalau karakternya rame-rame gitu," jelas Reymond.

Ia bercerita bahwa proses membuatnya butuh waktu lama karena harus mewarnai, memotong, lalu menyusun satu per satu. Raynold juga sempat mengatakan, dengan senyum malu-malu, bahwa dia ingin membuat “dunia besar” suatu hari nanti. 

"Nanti aku mau bikin komik atau film kartun. Tapi isinya semua karakter aku. Nggak nyontek dari mana-mana," tutup Reymond. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow