Ketika Gawai Jadi Pintu Masuk Radikalisme, SDN Dukuh Kupang III Ingatkan Peran Penting Orangtua Lewat Parenting Class

Paparan radikalisme dan neo-Nazi pada anak kini nyata terjadi lewat gawai, mendorong SDN Dukuh Kupang III Surabaya menggelar parenting class untuk mengingatkan orang tua soal bahaya teknologi tanpa pengawasan.

23 Jan 2026 - 20:17
Ketika Gawai Jadi Pintu Masuk Radikalisme, SDN Dukuh Kupang III  Ingatkan Peran Penting Orangtua Lewat Parenting Class
Syaiful Bachri, Ketua Komnas PA Surabaya saat mengisi Parenting Class bertema Gadget Ceria di SDN Dukuh Kupang III Surabaya (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Dahulu, teknologi dipandang sebagai alat bantu dan sarana komunikasi. Namun seiring waktu, tanpa disadari teknologi telah mengambil banyak peran manusia, tidak hanya di dunia pekerjaan, namun juga merambah ke peran orangtua pada anaknya.

Ketiak sumber pengetahuan, ruang curhat, hingga tempat anak membentuk identitas bukan lagi datang dari orang tua, informasi yang diterima anak kerap tak tersaring. Pembiaran seperti itu berpotensi melahirkan nilai yang keliru hingga paparan paham ekstrem kepada anak yang bahkan kini bukan lagi sekadar isu, melainkan telah terjadi di berbagai daerah.

Masalah itulah yang coba direspon SDN Dukuh Kupang III Surabaya melalui kegiatan Parenting Class bertema “Gadget Ceria” yang digelar pada Jumat (23/1/2026). Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh wali murid kelas 5 dan 6 sebagai upaya edukasi orangtua agar lebih memahami risiko penggunaan gawai pada anak.

Teknologi Bukan Pengganti Orang Tua

Menurut Suyono, Kepala Komite SDN Dukuh Kupang III Surabaya, kegiatan parenting kali ini ditujukan untuk kembali menyadarkan sekaligus memperkuat kembali peran keluarga sebagai benteng utama dalam mendampingi tumbuh kembang anak di tengah derasnya arus teknologi digital.

"Saat ini banyak orang tua yang beralih menyelesaikan masalah dengan mencari informasi lewat Google atau teknologi, itu bagus, tapi kerap mereka lupa untuk introspeksi diri," ujar Suyono, Jumat (23/1/2026).

Ia mengingatkan bahwa sehebat apapun teknologi, peran orang tua tetap jauh lebih hebat dan penting daripada sekadar jawaban instan dari internet.

Fenomena lain yang ia soroti adalah sikap sebagian orangtua yang merasa jika anak sudah bersekolah, maka tanggung jawab pendidikan berpindah sepenuhnya kepada guru. Suyono yang juga merupakan wali murid menepis anggapan itu dan menekankan bahwa  70 persen tanggung jawab pendidikan anak tetap ada di tangan orang tua sendiri.

"Jadi orangtua memang harus selalu diingatkan, maka kegiatan seperti parenting class ini tidak boleh hanya sekali lalu berhenti, harus menjadi kegiatan berkelanjutan dengan evaluasi berkala. Agar tujuan edukatifnya benar-benar dirasakan oleh orang tua dan anak," tegasnya.

Paparan Ideologi Berbahaya Lewat Teknologi

Dalam sesi lebih mendalam, hadir sebagai pemateri Ketua Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) Surabaya, Syaiful Bachri yang buka diskusi tentang realitas paparan ideologi berbahaya kepada anak yang kini sudah bukan saja teori, tetapi telah terjadi di lapangan.

"Saat ini masalah yang berkaitan dengan penggunaan gadget tidak hanya soal kecanduan atau kurangnya waktu belajar. Lebih serius dari itu, aktivitas gawai yang tidak terkontrol membuka ruang besar bagi anak-anak terpapar konten berbahaya secara tidak sadar oleh orang tua," jelas orang yang akrab disapa Kak Iful itu.

Lebih jauh ia mengungkapkan data dari aparat penegak hukum yakni Densus 88 dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), menguak bahwa selama tahun 2025, setidaknya ada ratusan anak di Indonesia yang terpapar paham radikal dan Neo-nazi, yang mana 11 diantaranya ada di Jawa Timur.

Kasus Ledakan SMAN 72 Jadi Alarm

Lebih mengejutkan lagi, Syaiful mengangkat contoh kasus yang sempat menggemparkan Indonesia dan internasional, yakni insiden ledakan di SMAN 72 Jakarta yang terjadi pada November 2025.

Dalam dugaan awalnya, pelaku yang masih di bawah umur disebut-sebut mendapatkan inspirasi dari berbagai peristiwa kekerasan ekstrem global. Pada sebuah benda yang ditemukan di lokasi, tercatat nama-nama pelaku teror beraliran neo-Nazi dan white supremacist yang terkenal di dunia, seperti Brenton Tarrant dan Alexandre Bissonnette

Lebih dari itu, kasus tersebut bahkan diyakini memiliki keterkaitan yang lebih luas secara global. Belum lama ini, aparat keamanan di Rusia mengungkap bahwa sebuah aksi penusukan di salah satu sekolah Moskow pada Desember 2025 diduga terinspirasi dari insiden ledakan di Jakarta, hingga disebut “Jakarta Bombing 2025” pada gagang senjata pelaku.

"Data ini menunjukkan bahwa paham ini bisa menyebar dan akhirnya saling menginspirasi untuk melakukan hal yang sama. Jadi ini tidak hanya soal kesejahteraan anak tapi bisa sampai ancaman kedaulatan negara," sambungnya.

Oleh karenanya, Syaiful mengungkapkan bahwa paparan ideologi ekstrem tersebut biasanya dimulai dari hal yang tampak biasa bagi anak, yakni melalui gim daring dan media sosial. Konten yang awalnya tampak tak berbahaya dalam komunitas daring tertentu, berubah menjadi jalur rekrutmen ideologi kekerasan. 

"Dari situ, perlahan, konten-konten berbahaya masuk, dan tanpa pengawasan orang tua yang aktif, hal itu bisa berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih serius," jelas Syaiful.

Peran Keluarga Sebagai Benteng Utama

Maka, guna melindungi anak-anak dari paparan ideologi berbahaya terutama melalui teknologi yang saat ini sulit untuk dipisahkan dari anak. Syaiful menekankan kembali peran penting orang tua di era digital.

"Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya karena kadang orang tua itu tidak mau mengerti dan tidak mau tau dengan zaman anak sekarang," pesan Syaiful.

Dirinya juga mengingatkan bahwa peran orang tua tidak boleh tergantikan oleh gawai lewat internet. Hal itu berarti anak dibawa ke dalam lingkungan informasi yang tidak tersaring dan berpotensi menghancurkan masa depan mereka.

"Parenting Class di SDN Dukuh Kupang III Surabaya ini bukan hanya soal membatasi waktu layar anak, tetapi mengajak orang tua melihat realitas di balik layar, konten tanpa filter yang bisa membawa pengaruh besar bagi karakter dan pola pikir anak," tandasnya.

Bagi Syaiful, kegiatan ini menjadi panggilan bagi semua orang tua yang tidak cukup hanya mengatur gawai, tapi harus membangun komunikasi yang sehat, intens, dan terbuka bersama anak.

"Dengan kecanggihan teknologi yang terus berkembang, peran orang tua justru harus semakin kuat, bukan dikalahkan oleh Google, algoritma, atau iklan daring. Karena pada akhirnya, wawasan, ketulusan, dan pengalaman jiwa yang dibentuk oleh orang tua tetap menjadi benteng pertama yang paling efektif bagi anak di era digital ini," pungkasnya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow