Kesenian, Kebersamaan hingga Perlawanan: Riuh Perayaan Imlek 2026 di Tambak Bayan Surabaya
Di tengah sengketa lahan yang belum usai, warga Kampung Pecinan Tambak Bayan merayakan Imlek 2026 lewat kesenian lintas budaya, menjadikan tradisi sebagai ruang kebersamaan sekaligus perlawanan mempertahankan kampung halaman.
SURABAYA, SJP — Perayaan Tahun Baru Imlek kembali digelar di Kampung Pecinan Tambak Bayan, Kecamatan Bubutan, Surabaya, Selasa (17/2/2026). Tahun ini, Imlek memasuki tahun Shio Kuda dengan elemen api, yang dalam kepercayaan Tionghoa melambangkan semangat, keberanian, energi, dan keteguhan dalam menghadapi tantangan.
Di kampung tua itu, makna tersebut terasa jauh lebih terasa nyata dan bukan hanya sekadar simbol semata, melainkan refleksi dari kehidupan warganya yang terus bertahan di tengah persoalan yang tidak hanya menghantui, namun juga mengancam ruang hidup mereka hari demi hari.
Kampung Pecinan Tertua di Kota Pahlawan
Kampung Pecinan Tambak Bayan sendiri merupakan salah satu permukiman Tionghoa tertua di Surabaya. Gang-gang sempitnya menyimpan jejak panjang kehidupan lintas generasi, tempat warga merawat tradisi sekaligus membangun kehidupan bersama di tengah kota yang terus berubah.
Ornamen lampion, mural, dan rumah-rumah lama menjadi saksi perjalanan panjang komunitas itu. Namun di balik perayaan dan warna-warni budaya, kampung ini masih menghadapi sengketa lahan yang telah berlangsung hampir dua dekade, menjadi bayang-bayang yang terus menyertai kehidupan warganya.
Sejak pagi, suasana kampung telah dipenuhi suara tabuhan tambur dan gemerincing simbal barongsai. Warga, seniman, dan pengunjung berkumpul, berbaur tanpa sekat. Tahun ini, perayaan terasa berbeda, yang mana suasana terasa lebih hidup, lebih terbuka, dan terlihat banyak pihak yang ikut dilibatkan.
Wakil Ketua RT 02 RW 02 Tambak Bayan, Suseno Karja, mengatakan perayaan Imlek tahun ini memang menggandeng lebih banyak pihak, yang mana dukungan secara deras datang dari komunitas seni lokal dibanding tahun-tahun sebelumnya.
"Tahun ini lebih banyak dukungan keseniannya. Ada jejaring antar-kampung, jadi bukan hanya warga Tambak Bayan saja yang terlibat," kata Suseno, Selasa (17/2/2026).
Barongsai dari kelompok Surya Naga membuka rangkaian acara, diikuti penampilan kesenian bantengan dari kelompok Mberot Rea Reo yang diisi anak-anak muda Tambak Bayan, hingga ragam tarian dari Sanggar Seni Omah Ndhuwur.
Menjelang sore hingga malam, berbagai pertunjukan lain turut meramaikan suasana, mulai dari tari remo, tari sufi dari Rumah Cinta Surabaya, hingga pertunjukan wayang kontemporer oleh Ki Ompong Sudarsono.
Menurut Suseno, konsep kolaboratif tersebut sengaja dihadirkan untuk memperluas ruang interaksi warga sekaligus memperkenalkan kembali kesenian tradisional kepada generasi muda.
"Sekarang anak-anak belum tentu mau belajar kesenian tradisional. Lewat acara seperti ini, mereka dikenalkan lagi dengan budaya," ujarnya.
Perayaan yang Dirayakan Secara Organik
Di tengah perayaan, warga dan seniman datang dan terlibat tanpa sekat formal. Tidak ada undangan khusus atau kurasi ketat seperti tahun-tahun sebelumnya. Semuanya tumbuh secara spontan, dari keinginan bersama untuk merayakan dan merawat kampung.
Hal tersebut disampaikan oleh Juru Arsip Institut Seni Tambak Bayan (ISTB), Yoyok, menyebut perayaan tahun ini berlangsung lebih organik. ISTB sendiri adalah wadah solidaritas antara warga lokal, seniman, mahasiswa, dan komunitas luar yang berlokasi di Kampung Pecinan Tambak Bayan.
"Imlek tahun ini dirayakan lebih organik. Siapapun yang ingin terlibat dipersilakan ikut merias, mendesain, dan membuat pernik kampung. Semua bisa datang dan merasakan bahwa Tambak Bayan adalah rumah bersama," kata Yoyok.
Ia menjelaskan, sejak pagi, rangkaian acara dibuka dengan barongsai, dilanjutkan kesenian bantengan oleh anak-anak kampung, hingga penampilan tari dari anak-anak Sanggar Omah Ndhuwur yang telah lama berkolaborasi dengan warga Tambak Bayan.
Pertunjukan tari Sufi dan wayang kontemporer yang ditampilkan malam harinya juga memiliki pendekatan unik, menggunakan material dan cerita yang berasal dari lingkungan sekitar kampung, menjadikannya refleksi langsung dari kehidupan warga.
Perayaan yang Juga Menjadi Bentuk Perjuangan
Namun, di balik gemerlap lampion dan riuh pertunjukan itu, perayaan Imlek di Tambak Bayan juga menyimpan makna yang lebih dalam. Kampung itu masih menghadapi sengketa lahan sejak 2006, ketika sebuah pihak swasta mengklaim kepemilikan tanah melalui sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB).
Permasalahan tersebut digambarkan oleh Yoyok bak pil pahir bagi seluruh warga Tambak Bayan. Meski jalur hukum, struktur hingga litigasi sudah dilakukan, warga masih perlu satu jalur lagi untuk melawan, yakni jalur kultural yang mereka tunjukkan lewat seni dan budaya sebagai salah satu cara untuk mempertahankan keberadaan mereka.
"Kami menggunakan seni sebagai alat perjuangan, sebagai ruang untuk bertemu sekaligus menyuarakan apa yang ada di sini. Semangatnya tahun ini tetap, mempertahankan ruang hidup warga Tambak Bayan," kata Yoyok.
Ia menambahkan, Imlek menjadi momentum penting bagi warga untuk berkumpul dan memperkuat solidaritas. Selain keinginan agar masalah sengketa yang cepat selesai, Yoyok juga berharap warga Tambak Bayan yang mayoritas lansia sehat, rukun dan bahagia.
"Imlek jadi momentum supaya warga tetap solid, tetap mencintai ruang hidupnya, dan merawat apa yang sudah diwariskan, termasuk ruang hidup para warga," ujarnya.
Kolaborasi dan Regenerasi Budaya
Semangat berkesenian dan perlawanan itu tidak bisa dibawa sendiri, karenanya, kehadiran Sanggar Seni Omah Ndhuwur menjadi salah satu bagian penting dalam perayaan tahun ini. Sekitar 30 anak tampil membawakan empat tarian, termasuk tari remo, tari Bermain, tari Kelinci, dan tari Candik Ayu.
Menariknya, mereka mengenakan seragam batik sekolah masing-masing alih-alih kostum tari formal. Salah satu Pelatih tari Sanggar Omah Ndhuwur yakni Hening Elazuardi, mengungkapkan bahwa pilihan itu memiliki makna tersendiri.
"Kita ingin sekaligus melestarikan budaya lain, yakni batik. Dengan memakai seragam sekolah, identitas mereka juga terlihat, dan sekolah mereka bisa ikut bangga," kata Mahasiswa Semester 4 UNESA itu.
Ia juga mengungkapkan bahwa kolaborasi dengan Tambak Bayan telah terjalin sejak 2021 dan terus berlanjut hingga sekarang.
"Biasanya kita diundang untuk pembukaan acara. Apalagi ini berhubungan dengan nilai toleransi. Kita senang bisa berkolaborasi dan bertemu dengan banyak komunitas," ujarnya.
Selain Hening, adapun Jennifer Bella Mahardika dari SMAN 8 Surabaya, Safira Dwi Ariani, SMKN 8 Surabaya dan Jennifer Bella Mahardika dari SMP Muhammadiyah II Surabaya, mereka adalah pelatih tari yang merupakan anak-anak generasi awal sanggar.
Mereka kompak mengatakan bahwa momentum perayaan Imlek 2026 bukan sekadar ajang penampilan, tetapi juga pengalaman sosial dan budaya yang memperluas ruang perjumpaan mereka dengan komunitas lain yang juga berbasis seni budaya.
"Apalagi ini berhubungan dengan nilai toleransi juga, jadi kita pasti senang dong. Kita bisa bertoleransi bukan cuma antara umat beragama, tetapi kita bisa berhubungan dengan orang-orangnya," tandas mereka.
Kebanggaan Orang Tua dan Harapan Kerukunan
Di antara kerumunan penonton, Nafian, salah satu orang tua peserta tari, menyaksikan putrinya tampil dengan penuh kebanggaan. Putrinya, Akselia Atifa Arundaya, telah berlatih di Sanggar Omah Ndhuwur selama tiga tahun.
“Bahagia. Bangga sekali. Ini penampilan anak saya yang ketiga kali di Tambak Bayan,” kata Nafian.
Ia berharap kegiatan seperti ini dapat membantu anaknya berkembang, tidak hanya secara kemampuan, tetapi juga secara mental. Selain itu, tidak lupa agar anaknya juga memiliki jejaring luas dan mengetahui seluk beluk Kota Surabaya.
“Biar anaknya tambah percaya diri dan terus berkembang,” ujarnya.
Cerita Mereka Belum Selesai
Seiring malam turun, pertunjukan wayang kontemporer menjadi penutup rangkaian perayaan. Warga, seniman, dan pengunjung masih bertahan, duduk berdampingan, menyaksikan cerita yang lahir dari ruang hidup mereka sendiri.
Di Tambak Bayan, Imlek bukan hanya perayaan tahun baru. Ia adalah ruang pertemuan, ruang kebersamaan, dan ruang perjuangan. Di tengah sengketa yang belum usai, warga terus merawat tradisi, menjaga identitas, dan mempertahankan kampung yang mereka sebut rumah.
Shio Kuda Api yang melambangkan keberanian dan keteguhan seolah menemukan maknanya di sini, di gang-gang sempit Tambak Bayan, tempat kesenian, kebersamaan, dan perlawanan hidup saling berdampingan. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

