Kerupuk Abang Ijo Sejak 1929, Kuliner Legendaris Bojonegoro yang Diakui Sebagai Warisan Budaya

Kerupuk Abang Ijo, ikon kuliner khas Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, telah menjadi bagian penting dari tradisi makanan daerah selama hampir satu abad.

21 Dec 2024 - 07:02
Kerupuk Abang Ijo Sejak 1929, Kuliner Legendaris Bojonegoro yang Diakui Sebagai Warisan Budaya
Kerupuk Abang Ijo (istimewa)

BOJONEGORO, SJP - Kerupuk Abang Ijo, ikon kuliner khas Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, telah menjadi bagian penting dari tradisi makanan daerah selama hampir satu abad. Terkenal dengan bentuk spiral dan warna-warni cerah, kerupuk ini kini tidak hanya menjadi primadona lokal, tetapi juga telah mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda.

Sejarah Panjang Kerupuk Abang Ijo

Kerupuk Abang Ijo pertama kali diproduksi pada 8 Maret 1929 oleh pasangan suami istri Tan Tjian Liem dan Oei Hay Nio. Mereka membuka pabrik kerupuk di dekat Klenteng Hok Swie Bio, Bojonegoro, saat kondisi ekonomi di daerah tersebut sedang sulit akibat luapan sungai Bengawan Solo yang menghancurkan hasil pertanian, serta depresi ekonomi yang melanda Hindia Belanda.

Perjalanan usaha ini dimulai ketika Tan Tjian Liem dan dua temannya dari Tuban belajar membuat kerupuk di Sidoarjo. Sayangnya, usaha awal mereka tidak bertahan lama karena minimnya pemahaman pasar dan keterbatasan modal. Meski demikian, Tan Tjian Liem tidak menyerah dan akhirnya mendirikan pabrik kerupuk sendiri. Di awal berdirinya, mereka juga memproduksi tahu dan kecap, namun hanya kerupuk yang bertahan sebagai produk unggulan.

Inovasi dan Perubahan yang Membawa Keberhasilan

Awalnya, kerupuk yang dihasilkan berwarna putih, namun karena dirasa kurang menarik di pasaran, Tan Tjian Liem kemudian menambahkan pewarna alami seperti merah, hijau, dan kuning. Inilah yang membuat nama "Abang Ijo" muncul, yang berarti merah dan hijau dalam bahasa setempat.

Kini, hampir 95 tahun setelah pendirian pabrik, usaha Kerupuk Klenteng Rasa Asli telah dikelola oleh generasi keempat, Anton Indarno. Di bawah kepemimpinan Anton, pabrik ini telah berkembang pesat, dengan peningkatan kualitas produk yang terjamin dan sertifikasi dari lembaga terpercaya seperti Fakultas Farmasi Universitas Airlangga dan PT Sucofindo. Produk kerupuk Abang Ijo kini bebas dari bahan kimia berbahaya dan tetap mempertahankan komposisi tradisional yang sudah ada sejak dulu.

Inovasi di Era Digital dan Penghargaan sebagai Warisan Budaya

Anton juga berinovasi dengan memperbarui desain kemasan dan logo, serta memanfaatkan teknologi digital untuk mempromosikan produk, memperluas pasar, dan menjangkau konsumen yang lebih modern. Selain itu, pabrik ini juga membuka pintunya untuk kunjungan publik guna memperkenalkan proses produksi dan melestarikan tradisi keluarga yang telah diwariskan turun-temurun.

Meski demikian, Anton tetap menjaga kualitas dan tradisi dengan tidak mengubah proses pembuatan kerupuk yang telah ada sejak awal. Teknik pembuatan yang masih dipertahankan hingga kini meliputi pencampuran tepung tapioka, garam, air, dan pewarna makanan sintetis untuk membentuk adonan yang kemudian dikukus, dijemur, dan digoreng menggunakan pasir. Proses ini memastikan kerupuk Abang Ijo memiliki tekstur renyah yang khas.

Pengakuan Resmi sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Sebagai bukti pengakuan terhadap keberlanjutan dan pentingnya Kerupuk Abang Ijo dalam budaya Jawa Timur, pada 22 Agustus 2024, kerupuk ini resmi ditetapkan sebagai ‘Warisan Budaya Tak Benda’ oleh pemerintah. Sertifikat penghargaan ini diserahkan langsung oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, pada 9 Desember 2024, menandai momen penting bagi kuliner legendaris Bojonegoro ini.

Kini, Kerupuk Abang Ijo tidak hanya populer di Bojonegoro, tetapi juga menjadi oleh-oleh khas yang banyak dicari di seluruh Jawa Timur. Dengan kualitas yang terjaga dan keberlanjutan tradisi, kerupuk ini terus mewarnai dunia kuliner Indonesia. (**)

sumber: dari berbagai sumber
Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow