Kelenteng Eng An Kiong, Warisan Dua Abad yang Kokoh Berdiri di Kota Malang

Di tengah pesatnya perkembangan Kota Malang, terdapat sebuah bangunan yang tak hanya menyimpan sejarah panjang tetapi juga menjadi simbol harmoni lintas budaya

24 Jan 2025 - 21:21
Kelenteng Eng An Kiong, Warisan Dua Abad yang Kokoh Berdiri di Kota Malang
Pengunjung sedang Berfoto di Depan Kelenteng Eng An Kiong (Foto: Farhan/SJP)

KOTA MALANG, SJP - Di tengah pesatnya perkembangan Kota Malang, terdapat sebuah bangunan yang tak hanya menyimpan sejarah panjang tetapi juga menjadi simbol harmoni lintas budaya.

Kelenteng Eng An Kiong, yang berlokasi di Jalan Laksamana Martadinata, Kotalama, Kedungkandang, Malang, telah berdiri kokoh selama dua abad. Tahun ini, bangunan yang ditetapkan sebagai cagar budaya ini genap berusia 200 tahun.  

Pengurus Bidang Ibadah dan Pengawas Yayasan Kelenteng Eng An Kiong, Herman Subianto ketika ditemui di tempat (24/1/2025) menjelaskan bahwa kelenteng ini didirikan pada 6 Juni 1825 berdasarkan penanggalan Imlek. Sejarahnya mencatat, pendiri kelenteng adalah seorang militer Tionghoa bernama Letnan Kwee Sam Hway.

"Kelenteng ini menjadi tempat berkumpulnya komunitas Tionghoa yang pada masa itu datang ke Malang untuk bekerja membangun jalur kereta api atas permintaan Belanda," ungkap Herman.  

Kelenteng ini dibangun secara bertahap. Bangunan utama, yang kini menjadi ruang tengah, selesai pada tahun 1825. Kemudian, renovasi bertahap dilakukan hingga tahun 1934. Namun, menurut Herman, renovasi tersebut hanya bersifat pembaruan tanpa mengubah struktur asli bangunan. 

"Hampir 90 persen struktur dan ornamen di Kelenteng Eng An Kiong masih asli, termasuk tiang-tiangnya yang tetap kokoh sejak awal," tambahnya.  

Kelenteng Eng An Kiong merupakan kelenteng Tridharma, yang digunakan sebagai tempat ibadah bagi tiga kepercayaan: Khonghucu, Buddha, dan Taoisme. Filosofi San Jiao He Yi atau "tiga ajaran menjadi satu" tercermin di sini. 

"Meskipun berbeda, ketiganya memiliki kesamaan dalam penggunaan dupa dan sembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa," jelas Herman.  

Nama Eng An Kiong sendiri bermakna "istana keselamatan dalam keabadian Tuhan." Bangunan ini didedikasikan kepada Dewa Bumi, yang menjadi bagian penting dari kepercayaan Tionghoa.  

Saat memasuki kelenteng, pengunjung disambut suasana khas dengan warna merah dan kuning yang mendominasi bangunan. Warna merah melambangkan kehidupan, kebahagiaan, dan keberanian, sedangkan kuning melambangkan keagungan. Simbol naga, yang menjadi ikon kekuatan dan keperkasaan, juga terlihat di berbagai sudut kelenteng.  

Kelenteng Eng An Kiong terus menjadi pusat peribadatan dan tradisi di Kota Malang, terutama saat perayaan Tahun Baru Imlek. Pada tanggal 1 Imlek nanti, umat mulai sembahyang sejak pukul 05.00 pagi hingga sepanjang hari. Kelenteng juga menggelar perayaan Cap Go Meh sebagai penutupan rangkaian Tahun Baru Imlek.  

"Cap Go Meh dilakukan sebagai perayaan dua Minggu setelah Tahun Baru Imlek," ungkap Herman

Keberadaan Kelenteng Eng An Kiong tak hanya menjadi saksi sejarah keberadaan komunitas Tionghoa di Malang, tetapi juga simbol harmoni dan pelestarian tradisi di tengah modernisasi kota. Bagi siapa saja yang ingin merasakan nuansa sejarah dan spiritualitas, kelenteng ini menjadi destinasi yang wajib dikunjungi. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow