Kajian Berlarut, Pemasangan EWS Banjir Kota Batu Tersendat Gegara Medan dan Keamanan

BPBD Kota Batu menegaskan masyarakat diharapkan tidak hanya tanggap saat kejadian, tetapi juga berperan mencegah, mulai dari tidak membuang sampah ke sungai hingga segera melapor ketika melihat potensi luapan air.

15 Nov 2025 - 21:28
Kajian Berlarut, Pemasangan EWS Banjir Kota Batu Tersendat Gegara Medan dan Keamanan
Kawasan bekas banjir di Kota Batu (Dok/Arul/SJP)

KOTA BATU, SJP – Rencana pemasangan early warning system (EWS) banjir di Kota Batu kembali jalan di tempat. Hingga kini BPBD Kota Batu belum bisa mengeksekusi pemasangan karena titik-titik yang direncanakan berada di kawasan rawan dengan tingkat risiko keamanan tinggi. Kajian teknis pun masih terus diulang.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu, Gatot Nugraha pada Sabtu (15/11/2025) bahwa tahun sebelumnya BPBD menargetkan empat titik pemasangan berdasarkan pemetaan daerah rawan bencana. Namun rencana itu mandek setelah ditemukan bahwa lokasi yang paling ideal berada di lereng pegunungan yang sulit dijangkau.

"Aspek keamanan pemasangan alat menjadi pertimbangan utama. Masih dipertimbangkan dari sisi keamanan titik pemasangan ini masih kami kaji ulang,” ujarnya.

Selain masalah lokasi, karakter sungai di Kota Batu juga tidak mendukung pemasangan EWS banjir konvensional. Aliran sungai setempat tergolong fast onset arus deras, debit cepat naik, tetapi juga cepat turun.

Padahal, EWS banjir umumnya efektif di wilayah slow onset seperti bendungan, di mana peningkatan debit air bisa terlihat dan terukur dengan jelas. Kondisi geografis ini membuat desain EWS harus benar-benar disesuaikan jika ingin berfungsi optimal.

Untuk mencari solusi, BPBD membuka opsi melibatkan mahasiswa melalui program pengabdian masyarakat. Mereka diarahkan melakukan pendataan lapangan untuk menemukan titik-titik yang mungkin layak dipasangi sensor EWS. Namun, Gatot menegaskan, keberadaan EWS bukan satu-satunya cara mendeteksi ancaman banjir.

BPBD tetap mengandalkan mitigasi rutin, seperti susur sungai di lima titik lereng Gunung Arjuno: Jurang Susuh, Sengonan, Curah Krecek, Pusung Lading, dan Glagah Wangi.

"Dari wilayah itu saja ada 94 titik rawan yang potensial memicu banjir, seperti pohon tumbang hingga longsor yang menyumbat aliran sungai dan kondisi yang memicu banjir bandang 2021," imbuhnya. 

Selain material longsor, banjir juga sering dipicu sedimentasi sungai yang menumpuk hingga melampaui batas normal, seperti yang berulangkali terjadi di sekitar kawasan Selecta.

"Tak lupa, kami mengingatkan bahwa kesiapan manusia tetap faktor utama dalam penanggulangan bencana. Pentingnya edukasi publik seputar langkah menghadapi keadaan darurat dan perilaku sederhana yang bisa mencegah bencana. Terpenting, kami perlu memberikan edukasi pada masyarakat mengenai cara menghadapi potensi bencana itu,” tandasnya. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow