Jumlah Penderita HIV Aids di Banyuwangi Capai 6.396 Orang, Termasuk Balita dan Anak-anak

Khoiron menyebut penularan HIV AIDS di Banyuwangi dipicu oleh banyak hal, namun secara garis besar faktor kuncinya adalah gaya hidup.

01 Dec 2023 - 17:15
Jumlah Penderita HIV Aids di Banyuwangi Capai 6.396 Orang, Termasuk Balita dan Anak-anak
Kampanye kesehatan peringati Hari HIV Aids di Banyuwangi, Jumat (1/12/2023) (SJP)

Kabupaten Banyuwangi, SJP – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan masyarakat perlu beri perhatian lebih terhadap kasus HIV AIDS yang capai 6.392 kasus di tahun 2023.

Data ini merupakan data yang dihimpun dari Dinas Kesehatan sejak tahun 1999 hingga mendekati akhir 2023

Rata-rata mereka yang terpapar virus HIV adalah usia produktif antara usia 21 hingga 50 tahun. 

Bahkan, beberapa diantaranya juga anak-anak.

Oleh karena itu, sejumlah stake holder di Banyuwangi lakukan kampanye kesehatan pada hari HIV AIDS Sedunia yang diperingati setiap tanggal 1 Desember .

Kampanye diinisiasi oleh Kelompok Kerja Bina Sehat (KKBS) dan diikuti oleh Dinas Kesehatan, Kemenag Kabupaten Banyuwangi, kepolisian, mahasiswa dan sejumlah elemen masyarakat.

Kampanye dilakukan secara menarik dengan pembagian selebaran edukatif berisi informasi tentang HIV Aids kepada sejumah pengendara yang melintas di wilayah Patung Kuda, Jumat (1/12/2023).

Ketua KKBS Banyuwangi, Muhammad Khoiron katakan kampanye tersebut merupakan upaya untuk mendorong kepedulian masyarakat terhadap kasus HIV AIDS yang kini mulai banyak ditemukan di Banyuwangi. 

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan sejak tahun 1999 hingga mendekati akhir 2023 ada 6.392 orang di Banyuwangi yang terpapar HIV.

Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah. 

Banyaknya temuan kasus terebut, lanjut Khoiron, adalah sebuah hal yang positif yang indikasikan keberhasilan tim surveilens dan relawan dalam melakukan tracing. 

Semakin banyak temuan tersebut memudahkan tenaga kesehatan dalam melakukan kontroling dan pendampingan kepada penyitas HIV AIDS agar virusnya tidak semakin menyebar luas. 

"Jika di rata-rata per hari ditemukan 1 - 2 orang penderita HIV AIDS. Dari angka itu sudah memberikan pesan bahwa kita harus lebih berhati-hati,” kata Khoiron.

Di Banyuwangi usia pria yang terpapar HIV rentang 21-45 tahun sementara wanita yang terpapar rentang usia 21-55 tahun.

Hal ini berarti mereka yang terpapar pada usia produktif.

Saat ini jumlah anak yang terpapar HIV di Banyuwangi berjumlah 26 anak dengan rentang usia 0 - 20 tahun.

Berdasarkan jenis kelamin di Banyuwangi penderita HIV AIDS didominasi oleh pria dengan persentase mencapai 53 persen dan wanita 47 persen. 

Khoiron menyebut penularan HIV AIDS di Banyuwangi dipicu oleh banyak hal, namun secara garis besar faktor kuncinya adalah gaya hidup.

Salah satunya kerap bergonta-ganti pasangan. 

"Seks beresiko menjadi pemicu paling dominan mencapai 63 persen. Khusus pada anak-anak, mereka rata-rata terular dari orang tua," jelasnya. 

Pada tingkat kondisi kesehatan, persentase penderita HIV Aids dengan stadium I mencapai 61 persen, stadium II mencapai 5 persen, stadium III mencapai 30 persen. Sementara stadium IV mencapai 4 persen. 

"Upaya pengendalian terus dilakukan oleh Dinkes bersama relawan termasuk kami secara masif salah satunya dengan tracing melalui Voluntary Conseling and Testing (VCT) dan pemberian Antiretroviral (ARV) kepada penderita HIV Aids," jelasnya.

Sementara itu, Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Banyuwangi Galuh Murdani gajak masyarakat saling bekerjasama menekan penularan HIV Aids di Banyuwangi.

"Bukan hanya pemerintah, LSM atau lainya, melainkan tugas kita bersama menanggulangi HIV AIDS melalui kampanye promosi, sosialisasi juga pencegahan," jelasnya.

Ia juga syebut naiknya angka HIV adalah suatu suatu kemajuan, sebab kesadaran masyarakat meningkat. 

"Akhirnya kasusnya bisa terangkat kepermukaan untuk bisa didata," jelasnya.

Pengetahuan terkait HIV AIDS itu menjadi penting supaya tidak menimbulkan deskriminasi kepada penderita HIV Aids. "HIV bisa menular melalui darah, Ibu ke anak, cairan sperma dan cairan vagina," jelasnya. 

Ia juga mengimbau bagi masyarakat yang merasa beresiko HIV AIDSmemberanikan diri mengecek kondisi kesehatannya. Caranya adalah dengan tes VCT di puskesmas. 

"Layanan VCT ada dan bisa dicoba gratis di seluruh puskesmas dan Rumah Sakit di Banyuwangi. Data diri dipastikan dijaga kerahasiannya," imbaunya.

Plt Kepala Dinkes Banyuwangi Amir Hidayat menyatakan, saat ini di Kabupaten Banyuwangi, setiap hari ada satu kasus baru yang terkena HIV AIDS.

Selama tahun 2023 ini, sudah tercatat lebih dari 500 kasus baru. 

"Ini yang memprihatinkan kita semuanya, maka kita akan terus mengingatkan kepada semua masyarakat untuk mencegah HIV dengan melakukan minimal lima langkah," ungkapnya.

Lima langkah tersebut diantaranya adalah menghindari seks bebas, abstinensia, setia kepada pasangan, menggunakan kondom, dan jauhi narkoba.

Amir tegaskan akan terus mendorong peran dari semua pihak untuk mengupayakan Three Zero.

Pertama adalah Zero new infection, yaitu tidak ada kasus infeksi HIV baru.

Kemudian Zero AIDS-related death, yaitu tidak ada kematian akibat AIDS.

Setelah itu Zero stigma and discrimination, yaitu tidak ada stigma dan diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).

"Zero yang ketiga ini kita akan terus melakukan upaya untuk mengingatkan masyarakat menjauhi stigma dan diskriminasi. Karena HIV tidak menular dengan jabat tangan, HIV tidak menular dengan komunikasi lewat udara," tegasnya.

Amir berharap masyarakat Banyuwangi untuk terus saling ingatkan kepada saudara, keluarga, ataupun lingkungannya, supaya hati-hati dan waspada terhadap HIV/AIDS.

"Tidak hanya untuk dirinya, supaya hati -hati dan waspada karena HIV/AIDS ini bisa menular. Kalau kita tidak cegah dengan baik, maka ini akan semakin masif karena potensi di Banyuwangi sangat besar," pungkasnya. (*)

editor: trisukma

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow