JFC 2025: Bukan sekadar Karnaval, tapi Catwalk Identitas Bangsa
Melalui JFC 2025, Jember kembali mengukuhkan diri sebagai ikon karnaval dunia yang tidak hanya merayakan kreativitas, tetapi juga merangkai persatuan Indonesia dalam satu panggung besar kebudayaan.
JEMBER, SJP - Jember Fashion Carnival (JFC) ke-23 dengan tema Wonderful Archipelago Carnival Indonesia (WACI) pada Minggu siang, 10 Agustus 2025, berlangsung meriah. Karnaval budaya nasional ini mengambil start dari Alun-Alun Jember Nusantara dan finish di Kota Cinema Mall, menampilkan parade spektakuler dari berbagai penjuru negeri.
Tahun ini, Jember mencatat capaian membanggakan yaitu berhasil mengajak sebagian besar kabupaten, kota, dan provinsi di Indonesia untuk turut berpartisipasi aktif dalam perhelatan JFC. Keberhasilan ini menegaskan posisi Jember sebagai pusat kreativitas karnaval yang mampu menjadi panggung persatuan dan kolaborasi budaya nusantara.
Acara dibuka dengan sambutan Ketua Umum Asosiasi Karnaval Indonesia, David K. Susilo, yang memberikan penghormatan khusus kepada almarhum Dynand Faris, pendiri JFC dan penggagas Asosiasi Karnaval Indonesia. “Almarhum Mas Dynand Faris melahirkan dua organisasi besar," katanya di sela sela sambutan.
Tahun 2003, menurut David, Dynand Faris menggagas berdirinya Yayasan Jember Fashion Carnival. Sepuluh tahun berselang, dia mendirikan Asosiasi Karnaval Indonesia. Kehadiran Asosiasi Karnaval menjadi wadah sharing and growing together bagi seluruh pelaku karnaval budaya tradisional maupun kontemporer untuk membangun keberadaban nusantara.
"Dengan 786 jenis kebudayaan sebagai modal besar, kita punya kekuatan diplomasi budaya yang dapat menegaskan Indonesia sebagai central of culture,” ucap David.
David menambahkan, bahwa tahun ini merupakan tahun pertama Asosiasi Karnaval Indonesia mengangkat kearifan lokal dari masyarakat adat Nusantara. Masyarakat adat Nusantara adalah komunitas yang secara unik melestarikan budaya aslinya. Tahun ini, ada dua komunitas yang tampil yaitu komunitas pelaku adat dan komunitas pelaku karnaval kontemporer.
"Tugas kami di asosiasi adalah memadukan keduanya menjadi satu kesatuan parade. Proses ini butuh waktu, tetapi maksud kami jelas yaitu memperkenalkan budaya Indonesia melalui parade, sekaligus menanamkan identitas budaya itu kepada generasi muda,” ujarnya
Sementara itu, Utusan Kepresidenan Bidang Pariwisata, Zita Anjani, mengapresiasi peran Jember dalam menghadirkan kolaborasi budaya berskala nasional yang memukau dunia. “Hari ini kita merayakan keberagaman dalam keindahan, menyambut HUT ke-80 RI dengan cara yang paling mempesona melalui WACI. Ini bukan sekadar karnaval, tapi catwalk identitas bangsa. Undangan terbuka kepada dunia bahwa Indonesia punya berjuta warna, berjuta warisan, dan berjuta potensi,” kata Zita.
Ia menggambarkan, dari Sabang hingga Wakatobi, setiap daerah mampu menyulap warisan budayanya menjadi karya seni. Akar budaya Indonesia, menurutnya, tidak pernah tercabut justru semakin kuat dan mendalam. Zita menegaskan bahwa hal ini sejalan dengan semangat ketahanan dan resiliensi pariwisata yang selalu ditekankan Presiden Prabowo yaitu bukan hanya bertahan, tetapi juga berinovasi.
WACI 2025 menjadi bukti bahwa karnaval bukan sekadar hiburan, tetapi sarana membangun kebanggaan, memperkuat diplomasi budaya, dan menggerakkan pariwisata nasional. Melalui JFC, Jember kembali mengukuhkan diri sebagai ikon karnaval dunia yang tidak hanya merayakan kreativitas, tetapi juga merangkai persatuan Indonesia dalam satu panggung besar kebudayaan.
Perlu diketahui, Kabupaten Jember sendiri mampu menghadirkan berbagai kesenian dan budaya di luar Jawa Timur. Mulai dari ujung timur hingga ujung barat. Hal ini relate dengan slogan Jember sebagai Miniature of Indonesia. (*)
Editor: Danu S
What's Your Reaction?

