Warisan Sang Demang: Menelusuri Jejak Ki Ageng Nyomodipati, Pejuang dari Grobogan di Tanah Nganjuk
Ki Ageng Nyomodipati, pejuang Grobogan, tinggalkan jejak di Suru, Ngetos, Nganjuk. Pemimpin karismatik ini berjuang melawan penjajah dan ketidakadilan, kini didorong jadi bagian sejarah lokal.
NGANJUK, SJP — Sosok Ki Ageng Nyomodipati, atau yang juga dikenal sebagai Demang Nyomodipati, menyimpan jejak sejarah perjuangan yang cukup berarti bagi masyarakat di wilayah Suru, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk. Dia diyakini sebagai seorang tokoh pejuang dari tanah Jawa Tengah, tepatnya dari daerah Grobogan, yang kemudian menyebarkan pengaruh dan perjuangannya hingga ke wilayah timur Jawa
Ki Ageng Nyomodipati dikenal sebagai sosok pemimpin lokal yang karismatik dan memiliki kedekatan dengan rakyat. Berdasarkan cerita turun-temurun warga Suru dan penelusuran sejarah lokal, beliau merupakan seorang demang atau gelar untuk pemimpin setingkat kepala distrik pada masa kerajaan atau pemerintahan kolonial yang meninggalkan wilayah Grobogan untuk menjalankan misi perjuangan dan penyebaran nilai-nilai keadilan serta kebajikan di wilayah timur.
Dalam pelariannya atau perpindahannya ke wilayah Ngetos, Ki Ageng Nyomodipati dipercaya membawa serta para pengikut dan membaur dengan masyarakat lokal. Di Desa Suru, beliau dipercaya membangun tatanan sosial dan memperkuat perlawanan terhadap ketidakadilan yang saat itu marak di masa transisi pemerintahan kolonial.
"Demang Nyomodipati berjuang di bawah panji perang, kanjeng pangeran Deponegoro pada perang Jawa mulai tahun 1825 hingga 1830. Nah kan juga, Beliau berjuang mulai dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur khususnya di daerah Kertosono, Nganjuk, hingga Berbek. Berdasarkan data dokumen,” ujar Aris Trio, salah satu juru pelihara (jupel) benda purbakala saat ditemui di rumahnya, Ahad (27/7/2025).
Menurut Aris, Demang Nyomodipati bertempur di bawah panglima perang yaitu Kanjeng Raden Tumenggung Sosrodilogo Adipati Rajegwesi yang dikenal sekarang Kabupaten Bojonegoro. Kata aris, Saat pasukan tersebut mulai dari Jawa Tengah menuju wilayah timur ke arah Kadipaten Kertosono tepatnya di Desa Katerban, Baron.
Di daerah Katerban sudah di tunggu oleh pasukan Belanda yang akhirnya kedua belah pihak bertempur habis-habisan. Saat pertempuran banyak korban dari kedua belah pihak. Salah satunya banyak prajurit Jawa yang gugur dan di makamkan di daerah selatan lambang kuning, yakni sekarang ikut wilayah Kertosono.
"Beliau dikenal sebagai tokoh yang arif dan disegani. Banyak peninggalan berupa petilasan dan cerita lisan yang menyebutkan bagaimana perjuangannya dalam membela wong cilik (rakyat kecil)," Kata Aris.
Selanjutnya pasukan bergerak ke arah barat menuju ke Kadipaten Berbek. Namun Belanda mengejar terus, hingga berhenti di Desa Tungklur, Wilangan, menginap dua hari. Selepas di Tungklur, pasukan sempat bertemu dengan pasukan dari Kadipaten Berbek yang dipimpin oleh Kanjeng Raden Tumenggung Sosrokusumo.
Aris mengatakan, pasukan bergerak ke arah selatan menuju Gunung Wilis. Di atas ada banyak prajurit yang berkeinginan untuk menginap di beberapa tempat hingga menetap di daerah baru. Salah satunya Ki Ageng Nyomodipati. Saat itu melanjutkan menuju Desa Suru, Kecamatan Ngetos, tepatnya di Dusun Watu Lanang.
Setelah perang Jawa berhenti, akhirnya dia juga membantu perjuangan Kiai Ngaliman. Setelah beliau diangkat menjadi demang di daerah Suru. Itulah salah satu perjuangan dari seorang pejuang masa perang Jawa.
Aris Trio menyebut bahwa peran tokoh seperti Ki Ageng Nyomodipati penting dalam memahami jalur migrasi pejuang dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.
“Beliau adalah contoh bahwa perlawanan terhadap penjajahan dan ketidakadilan tidak hanya berlangsung di pusat kekuasaan, tapi juga melalui tokoh-tokoh lokal yang membawa nilai perjuangan ke daerah-daerah,” jelasnya.
Kini, masyarakat Suru dan sekitarnya tengah mendorong agar kisah perjuangan Ki Ageng Nyomodipati bisa diangkat ke dalam narasi sejarah lokal yang lebih luas, termasuk dijadikan muatan budaya dalam pendidikan serta wisata sejarah berbasis kearifan lokal. Harapannya, jejak perjuangan sang Demang tak hanya jadi cerita lisan, tetapi juga bisa dikenang sebagai bagian penting dari sejarah perjuangan rakyat di tanah Jawa. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

