Jambore Bersih-Bersih Masjid Digelar di Tulungagung, Ratusan Peserta Gerebek 5 Masjid

Melalui jambore ini, para relawan berharap semangat gotong royong merawat masjid terus menyebar ke berbagai daerah, menjadikan masjid tak hanya bersih secara fisik, tetapi juga hidup sebagai pusat aktivitas umat.

26 Apr 2026 - 17:19
Jambore Bersih-Bersih Masjid Digelar di Tulungagung, Ratusan Peserta Gerebek 5 Masjid
Peserta Jambore Bersih-Bersih masjid di sela kegiatan membersihkan Masjid Al Fattah, Tulungagung. (Beny/SJP)

Jambore Bersih-Bersih Masjid Digelar di Tulungagung, Ratusan Peserta Gerebek 5 Masjid

Tulungagung - Ratusan relawan dari berbagai komunitas bersih-bersih masjid dari penjuru Indonesia memadati Masjid Al-Fattah Tulungagung dalam gelaran Jambore Bersih-Bersih Masjid ke-3, Minggu (26/4/2026). Mengusung tagline “Bersih Masjidku, Bersih Negeriku”, kegiatan ini tak hanya menjadi ajang silaturahmi lintas komunitas, tetapi juga momentum menyatukan semangat merawat rumah ibadah secara kolektif.

Sekitar 500 peserta yang hadir, datang dari berbagai daerah di Pulau Jawa, bahkan dari Bali hingga Aceh. Selama dua hari, Sabtu dan Minggu, mereka mengikuti rangkaian acara mulai dari sarasehan hingga tausiah penguatan dakwah. Puncaknya, pada Minggu siang, ratusan relawan turun langsung melakukan aksi bersih-bersih di sejumlah masjid di sekitar lokasi kegiatan.

Perwakilan Masjid Jogokariyan Cangkringan Yogyakarta, Ustaz Ismail, menyebut jambore ini menjadi ruang temu sekaligus penyamaan visi antar komunitas relawan masjid di Indonesia.

“Ini adalah momen kita bertemu dengan seluruh komunitas dari berbagai daerah. Kami ingin menyatukan semuanya, menghadirkan visi dan misi yang sama, tulus untuk membersihkan masjid,” ujarnya.

Ia menjelaskan, agenda utama di hari kedua dikenal dengan istilah “gerebek masjid”, yakni aksi pembersihan serentak di beberapa titik. Dalam kegiatan ini, relawan dibagi ke lima masjid, di antaranya Masjid Al-Fattah Cempaka, Masjid Agung Al-Munawwar, Masjid Al-Muslimun Kepatihan, Masjid Jami’ Al-Huda, dan Masjid At-Takwa Kepatihan.

“Kami membagi sekitar 450 relawan menjadi lima kelompok. Setiap kelompok minimal 50 orang supaya dalam waktu sekitar tiga jam, target bersih-bersih bisa maksimal sebelum kembali ke masjid induk,” jelasnya.

Antusiasme warga setempat pun menjadi pengalaman tersendiri bagi para relawan. Ismail mengaku takmir masjid yang dikunjungi merasa terkejut sekaligus terharu melihat kedatangan puluhan relawan dengan perlengkapan lengkap.

“Mereka sangat kaget dan surprise. Ada yang datang pakai bus, mobil, dan membawa banyak peralatan. Sambutannya luar biasa, itu yang membuat kami juga sangat gembira,” tambahnya.

Sementara itu, Founder aplikasi Marbot sekaligus inisiator kegiatan, Ferdi Hasan, menuturkan bahwa gerakan bersih-bersih masjid sebenarnya telah lama tumbuh secara organik di berbagai daerah. Namun melalui jambore, semangat tersebut coba disatukan dalam skala nasional.

“Relawan ini sudah banyak bergerak sendiri-sendiri dengan niat ikhlas, tanpa pungutan. Tapi kita ingin menyatukan visi supaya gerakannya seragam secara nasional,” ungkap Ferdi.

Ia mengisahkan, jambore pertama digelar di Bali, disusul di Cangkringan, Yogyakarta, dan kini di Tulungagung. Setiap penyelenggaraan menghadirkan warna tersendiri, termasuk pelatihan membuat perlengkapan kebersihan secara mandiri.

Lebih jauh, Ferdi menekankan bahwa kegiatan ini juga menjadi bagian dari melanjutkan semangat dakwah almarhum Kiai Jazir Jogokariyan Yogyakarta yang selama ini dikenal aktif menggerakkan komunitas masjid.

“Kami ingin merawat semangat dakwah beliau. Jambore ini bukan sekadar acara, tapi syiar bahwa membersihkan masjid dilakukan dengan tulus, bukan untuk mencari sesuatu,” katanya.

Ia juga berharap gerakan ini mampu menarik generasi muda untuk mencintai masjid sejak dini.

“Kami bahkan membuat film tentang anak-anak yang ikut bersih-bersih masjid. Harapannya, generasi berikutnya akan melihat dan tergerak. Karena membersihkan masjid adalah langkah awal menjadi pejuang Islam,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ustaz Derry Sulaiman. Ia mengaku tak menyangka gerakan yang awalnya sederhana kini berkembang menjadi gerakan nasional.

“Awalnya saya pikir ini hanya gerakan kecil di Cibubur. Tapi Masya Allah, sekarang menjadi nasional. Ini tidak lepas dari peran almarhum Kiai Jazir dan Ustaz Kusnadi, yang pemikirannya kini menjadi inspirasi banyak orang,” tuturnya.

Menurut Derry, gerakan ini murni dilandasi keikhlasan, tanpa sponsor maupun donatur.

“Semua datang dengan biaya sendiri, dari Aceh, Bali, Medan. Ini gerakan lillahi ta’ala, dan saya yakin tidak akan bisa dihentikan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa menjaga kebersihan masjid sejatinya merupakan tanggung jawab bersama umat Islam, sekecil apa pun kontribusi yang diberikan.

“Membersihkan masjid itu bukan hanya fisik, tapi juga membersihkan hati kita. Sekecil apa pun yang kita lakukan, nilainya besar,” pungkasnya.

Melalui jambore ini, para relawan berharap semangat gotong royong merawat masjid terus menyebar ke berbagai daerah, menjadikan masjid tak hanya bersih secara fisik, tetapi juga hidup sebagai pusat aktivitas umat.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow