Sebanyak 43 Ular Dilaporkan Masuk Rumah Warga Surabaya Awal 2026, Dipicu Hujan dan Ledakan Populasi Tikus
Fenomena kemunculan ular yang berulang di lokasi yang sama juga kerap terjadi. Hal ini dipicu kemampuan reproduksi ular sanca yang sangat tinggi, sehingga satu temuan dapat menjadi pertanda adanya populasi lebih besar di sekitarnya.
SURABAYA, SJP — Musim hujan membawa ancaman tak terduga bagi warga Surabaya. Dalam dua bulan pertama 2026 saja, puluhan ular dilaporkan masuk ke rumah dan permukiman, memicu kekhawatiran sekaligus meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap satwa liar yang tiba-tiba muncul di ruang hidup manusia.
Data BPBD Kota Surabaya mencatat, sejak Januari hingga Februari 2026 terdapat 43 laporan ular masuk ke permukiman warga. Jumlah tersebut mencakup lebih dari separuh total 81 laporan penanganan satwa liar yang diterima sepanjang tahun berjalan.
Ketua Tim Kerja Operasional Kedaruratan BPBD Kota Surabaya, Arif Sunandar, mengatakan ular menjadi satwa liar yang paling sering dilaporkan dibandingkan jenis lainnya seperti buaya, iguana, biawak, monyet, anjing, maupun kucing.
“Sepanjang 2026 ada sekitar 81 laporan satwa liar. Dari jumlah itu, 43 laporan adalah ular,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Sabtu (21/2/2026).
Menurut Arif, jenis ular yang paling sering ditemukan di permukiman warga adalah ular sanca. Ular ini kerap muncul di lokasi yang tidak terduga, bahkan di bagian dalam rumah yang jarang terjangkau manusia.
"Biasanya ditemukan di plafon rumah, lemari, kamar mandi, belakang lemari, selokan, kandang ayam, dan tempat lainnya," terangnya.
Fenomena kemunculan ular yang berulang di lokasi yang sama juga kerap terjadi. Hal ini dipicu kemampuan reproduksi ular sanca yang sangat tinggi, sehingga satu temuan dapat menjadi pertanda adanya populasi lebih besar di sekitarnya.
"Ular sanca sekali bertelur bisa sampai ratusan. Jadi, kalau ada satu laporan di suatu daerah, biasanya beberapa waktu kemudian muncul laporan lagi di lokasi yang sama," ungkapnya.
Secara geografis, Surabaya memiliki sejumlah sungai besar seperti Kalimas dan Kali Surabaya yang menjadi habitat alami berbagai satwa, termasuk ular. Kondisi ini membuat potensi perpindahan ular ke permukiman warga semakin tinggi, terutama saat debit air meningkat.
Selain faktor habitat, keberadaan tikus juga menjadi pemicu utama kemunculan ular di lingkungan permukiman. Tikus yang masuk melalui saluran air atau got sering diikuti predatornya, yakni ular sanca.
"Tikus lari ke got, ularnya mengejar. Akhirnya masuk ke perumahan, sampai ke kamar mandi atau plafon karena ngejar makanannya," jelas Arif.
Musim hujan memperparah kondisi tersebut. Peningkatan volume air sungai membuat ular terbawa arus hingga masuk ke lingkungan permukiman warga yang sebelumnya bukan habitat utamanya.
"Kalau hujan, volume air tinggi. Ular ikut naik dan terbawa arus. Makanya kadang muncul di rumah warga," tuturnya.
Meski frekuensi kemunculan ular meningkat signifikan, BPBD memastikan belum ada laporan warga yang mengalami luka akibat gigitan ular. Namun, beberapa warga dilaporkan mengalami kerugian karena hewan ternaknya dimangsa.
"Alhamdulillah belum ada warga yang terluka. Tapi memang ada yang lapor ternaknya dimakan ular," katanya.
Setiap laporan yang masuk ditindaklanjuti dengan evakuasi oleh tim BPBD, sebelum ular tersebut diserahkan kepada BKSDA Jawa Timur untuk penanganan lebih lanjut.
“Kami bekerja sama dengan BKSDA. Setelah kami evakuasi, langsung kami serahkan ke mereka,” ujarnya.
BPBD mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, terutama dengan mengendalikan populasi tikus dan menghindari kondisi yang dapat menjadi tempat persembunyian satwa liar. Lingkungan yang bersih dinilai menjadi langkah paling efektif untuk mencegah ular masuk ke permukiman.
"Lingkungan harus bersih, jangan sampai ada semak-semak. Tikus suka di situ, dan itu bisa mengundang ular," pungkas Arif. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

