Jaga Daya Beli Warga, Pemkot Surabaya Gelar Pasar Murah Antisipasi Inflasi Imbas Konflik Timur Tengah
Selain menggelar pasar murah, Pemkot Surabaya juga akan memperketat pemantauan harga di pasar tradisional maupun modern. Langkah ini dilakukan untuk memastikan tidak terjadi lonjakan harga yang tidak wajar di tengah situasi global yang dinamis.
SURABAYA, SJP - Konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah tidak hanya berdampak pada stabilitas geopolitik global, tetapi juga berpotensi merembet ke sektor ekonomi berbagai negara, termasuk Indonesia. Salah satu dampak yang paling diwaspadai adalah lonjakan harga energi dan kebutuhan pokok yang dapat memicu inflasi di daerah.
Mengantisipasi kemungkinan tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menyiapkan langkah intervensi melalui program pasar murah guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mengatakan bahwa pasar murah akan digencarkan sebagai bagian dari upaya pengendalian inflasi di tengah dinamika global yang tidak menentu.
“Kita akan melakukan Pasar Murah. Kita juga akan menjaga inflasi agar di Surabaya tidak tinggi meskipun dengan kejadian global ini,” ujarnya, Jumat (6/3/2026).
Menurutnya, kondisi geopolitik internasional saat ini berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar yang pada akhirnya dapat merambat ke harga berbagai kebutuhan pokok di masyarakat.
“Yang menjadi perhatian utama kami adalah potensi dampak terhadap inflasi. Kondisi geopolitik bisa berpengaruh pada kenaikan harga bahan bakar dan kebutuhan pokok. Karena itu, kami akan memperkuat langkah-langkah pengendalian inflasi di daerah,” tegasnya.
Selain menggelar pasar murah, Pemkot Surabaya juga akan memperketat pemantauan harga di pasar tradisional maupun modern. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak terjadi lonjakan harga yang tidak wajar di tengah situasi global yang dinamis.
Di sisi lain, koordinasi dengan para distributor bahan pokok juga diperkuat untuk memastikan rantai pasok tetap berjalan lancar serta ketersediaan stok pangan di Surabaya tetap aman.
Eri menjelaskan, hingga saat ini Pemkot Surabaya terus menjalin komunikasi dengan pemerintah pusat guna memantau perkembangan situasi global serta menunggu arahan kebijakan yang mungkin dikeluarkan.
“Ini sudah kita rapatkan berulang kali dengan semua stakeholder terkait kemungkinan inflasi. Kita lihat skala harga sampai minggu depan,” jelasnya.
Ia mengungkapkan bahwa salah satu kekhawatiran utama pemerintah daerah adalah potensi kenaikan harga minyak dunia jika jalur distribusi energi global terganggu, termasuk akibat kemungkinan blokade di Selat Hormuz.
“Karena dengan Selat Hormuz yang diblokir dan semakin masifnya perang ini, kami khawatir ketika harga minyak naik otomatis akan mempengaruhi harga semua barang di Indonesia, khususnya Surabaya,” bebernya.
Menurut Eri, kenaikan harga minyak dunia dapat berdampak langsung pada biaya distribusi barang, yang pada akhirnya turut memicu kenaikan harga berbagai komoditas di pasar.
Karena itu, Pemkot Surabaya menempatkan stabilitas harga sebagai prioritas utama agar dampak gejolak global tidak sampai menimbulkan tekanan ekonomi yang berat bagi masyarakat.
“Yang terpenting bagi kami di daerah adalah menjaga stabilitas dan kondusivitas kota. Jangan sampai terjadi lonjakan harga yang tidak terkendali akibat situasi global,” pungkasnya. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

