Isu Royalti Musik, PHRI Probolinggo Sebut Bisnis Hotel dan Restoran di Wisata Bromo Tak Terganggu
Tidak begitu terganggunya atas isu royalti, salah satunya menurut Ketua PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) Probolinggo Digdoyo Djamaludi karena hotel di Provlo khususnya lereng Gunung Bromo nengandal live musik
PROBOLINGGO, SJP — Jika di beberapa daerah di Indonesia ramai diperbincangkan dengan isu penarikan royalti musik yang menuai polemik, suasana di kawasan wisata Bromo, Probolinggo, justru terasa berbeda.
Gelombang kekhawatiran yang melanda pengusaha hotel dan restoran di tempat lain nyaris tak membuat kekhawatiran yang begitu signifikan.
Ketua PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) Probolinggo Digdoyo Djamaludi, menyatakan hal tersebut dengan tegas.
Saat ini operasional bisnisnya dan secara umum anggota PHRI setempatama sekali belum terganggu oleh isu tersebut.
"Di Bromo ini, kami lebih mengandalkan live music untuk menghibur para tamu. Soal royalti, untuk wilayah Jawa Timur aturannya memang belum diterapkan secara nyata. Jadi, situasinya masih sangat kondusif dan bisa dibilang aman," ujar Digdoyo pada Kamis, (21/8/2025).
Ia juga membedakan situasi di Probolinggo dengan daerah lain yang sempat mendapat kunjungan langsung dari Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN).
"Kegelisahan yang dirasakan rekan-rekan pengusaha di sana tidak kami alami di sini," ucapnya.
Namun, Digdoyo yang juga pemilik Hotel Yoschi ini tidak menutup mata terhadap kemungkinan perubahan di masa depan.
Ia mencermati tren nasional dan mengingatkan para pelaku usaha untuk tidak berpuas diri.
"Prinsip kami adalah 'cautiously optimistic'. Selama belum ada keputusan resmi dan sosialisasi yang jelas dari pemerintah, kita boleh tetap tenang. Tapi, kesiapan adalah kunci. Tidak ada salahnya mulai mempelajari regulasi dan mempersiapkan dana kontinjensi untuk menghadapi skenario terburuk," pungkasnya. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

